Pesan Idul Qurban untuk Peradaban

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar! Allahu Akbar wa lillahil hamd

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridlaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik”

(QS. Al Hajj:37).

 

Bagi seorang Muslim, Ibadah qurban menjadi momentun melatih kesabaran dan keikhlasan dalam beramal shaleh. Karena selain niat, ia harus memiliki kesiapan secara mental baik materil maupun immateril dalam melaksanakannya. Sehingga Kesabaran dan keikhlasan menjadi kunci pengokoh dan penyempurna keimanan seseorang dalam meyakini ke Maha Kuasaan Allah SWT. sebagaimana yang telah di dicontohkan oleh Nabi Ibrahim a.s.

Teladan Nabi Ibrahim a.s adalah merupakan sebuah contoh yang sangat monumental yang patut ditiru oleh generasi Muslim sepanjang zaman. Perjuangan dan pengorbanan Nabi Ibrahim a.s serta anak beliau Nabi Ismail a.s. yang berjuang menaklukkan godaan syaitan. Syaitan membujuk mereka supaya mengurungkan perintah Allah dengan tidak perlu menyembelih putera tersayang Ismail yang remaja belia yang diharapkan menjadi pengganti dan penerus cita-cita menegakkan dan mendakwahkan kalimat tauhid yang menjadi inti aqidah Islam.

Sejarah Nabi Ibrahim sudah seharusnyalah kita ketahui bersama dalam rangka memetik hikmah dari tauladan yang ditampakkan beliau. Sejarah yang paling penting yang patut kita contoh yakni sejarah kehidupan beliau bersama anaknya Ismail. Ketika Nabi Ibrahim menyampaikan titah ilahi yang disampaikan melalui mimpi, Nabi Ibrahim a.s.berkata “wahai ananda tercinta, sesungguhnya aku bermimpi di saat tidur, bahwa aku diperintah Allah menyembelihmu.

Maka renungkanlah bagaimana pendapatmu tentang perintah Sang Maha Pencipta ini?” Ismail yang masih remaja menjawab dengan suara yang mantap, sebagaimana tersebut dalam firman Allah surah Ash-Shaff:102 yang artinya “wahai ayahanda tercinta, laksanakanlah perintah Allah itu, Insya Allah ayahanda menyaksikanku termasuk orang-orang yang sabar.”

Tidak mudah menyakini sebuah perintah melalui sebuah mimpi, apalagi iblis datang menggoda dalam upaya menggagalkan perintah tersebut. Namun petunjuk Allah jua yang menyebabkan keluarga Nabi Ibrahim a.s ini yakin seyakin-yakinnya akan kebenaran perintah ini datangnya dari Allah SWT.

Kalau bukan karena kecintaan Allah SWT dan keyakinan yang mendalam atas keagungan dan kebesaran serta rahmatNya, maka mustahil seseorang mampu mengorbankan sesuatu yang berharga yang merupakan milik satu-satuya yang dimilikinya. Inilah puncak kecintaan dan ketulusan kepada Allah, yang sekaligus merupakan bukti nyata Nabi Ibrahim a.s yang telah benar-benar lulus menghadapi ujian yang sangat serius dari Allah.

Kenyataan ini menjadi contoh teladan yang baik sekali bagi manusia dan kemanusiaan yang secara fitrah manusia itu cenderung kepada penghambaan diri hanya kepada Allah, yang dimanifestasikan dalam bentuk ibadah . Karena untuk kepentingan beribadah itulah manusia itu diciptakan oleh Allah. Dan dengan jiwa keibadahan itulah manusia mampu mencapai kesucian jiwa.

Keberibadatan kita sebagai manusia tidaklah semata-mata dicapai dengan ibadah makhdah. Ibadah juga terkandung makna hubungan yang sangat erat dengan manusia dan kemanusiaan. Atau bahkan juga hubungan dengan lingkungan. Itulah yang dengan secara gamblang diisyaratkan oleh Allah dalam Al Quran surat Ali Imron:122 yang artinya “mereka diliputi kehinaan dimanapun mereka berada, kecuali jika mereka berpegang pada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia”.

Dari ayat di atas Allah SWT mengajarkan kita bahwa dalam pengagungan dzat Allah terletak kemuliaan dan kebahagiaan manusia. Bukan hanya kemuliaan dan kebahagiaan di akherat yang kekal abadi, yang untuk itu setiap mukmin diperintahkan untuk menyiapkan diri.

Ibadah qurban mengisyaratkan kepada kita bahwa kemampuan untuk berkorban sebagaimana yang diteladankan oleh keluarga Ibrahim a.s. Benar-benar untuk merealisasikan suatu perhatian manusia dan kemanusiaaan dengan saling tolong-menlong diantara sesama.

Akhirnya kita dapat menyimpulkan beberapa hal:

  • Pertama, kesabaran dan keikhlasan dalam beribadah merupakan hal yang sangat esensial. Tanpanya ibadah akan sia-sia belaka. Bagi mereka yang berqurban tahun ini, tahun sebelumnya atau yang akan datang, maka seyogyanya senantiasa sabar dan ikhlas, agar amal tidak sia-sia. Bila dikaitkan dengan tugas kita di perusahaan, maka kesabaran dan keikhlasan yang menyertai kejujuran merupakan modal dasar utama yg harus dimiliki oleh setiap karyawan.
  • Kedua, kecintaan kita kepada Allah hendaknya melebihi segalanya. Jangan sampai karena anak, istri (wanita), harta dan jabatan membuat kita lupa kepada Allah, atau ingat akan tetapi tidak dinomorsatukan. Ini memang berat, tapi jika kita mampu, maka Allah SWT akan membalasNya dengan sesuatu yang besar pula – artinya Allah Maha adil.
  • Ketiga, Kepatuhan seorang anak terhadap orang tuanya adalah merupakan hal yang sangat penting. Begitu pentingnya, sehingga Allah SWT memperlihatkan kepada kita sebuah pemandangan yang sangat indah, yakni sejarah penyembelihan orang tua terhadap anak kandungnya sendiri, yang mana sang anak “mempertontonkan” ketaatannya kepada kita semua.Sekarang ini, rasanya sangat sulit menemukan orang yang bermental sebagaimana yang diperlihatkan Nabi Ismail a.s. Yang ada yaitu adanya sebagian anak justru tega mendzlimi kedua orang tuanya, mengambil harta orang tuanya, membohongi dan seterusnya –walaupun masih lebih banyak anak yang taat dan berbakti. Oleh karena itu , tugas para pendidik –termasuk para ibu di rumah—untuk tetap istiqomah mencetak generasi-generasi ‘profetis’ dan qurani.
  • Dan terakhir adalah ibadah qurban merupakan ibadah sosial. Dengan berqurban berarti kita sudah peduli dengan lingkungan sekitar kita, khususnya bagi mereka yang hampir sepanjang tahunnya tidak mampu menikmati daging –karena tergolong fakir atau miskin. Berqurban berarti ikut membantu beban penderitaan orang lain yang lagi kesusahan. Mungkin saatnyalah kita senantiasa berempati kepada sesama agar hidup ini penuh berkah dan arti bagi diri sendiri, orang lain dan tentunya bagi Allah SWT. Amin,

Sejarah pelaksanaan Qurban ini sungguh mengandung makna spiritual berupa pesan kemanusiaan yang luar biasa pentingnya. Bukan hanya bagi umat Islam, tetapi untuk seluruh umat manusia. Pesan spiritual yang penting itu adalah bahwa “manusia tidak boleh diqurbankan sekalipun atas nama Tuhan (Agama)”.

Kalau atas nama agama saja tidak boleh terjadi tindakan yang mengorbankan manusia, apalagi kalau hanya sekedar atas nama yang lain. Setinggi apapun tujuan dan kepentingan dalam hidup ini, tidak boleh terjadi sampai mengorbankan manusia. Sesahih apapun argumen yang bisa diajukan untuk menggapai suatu tujuan, tetap tidak boleh terjadi ada tindakan yang mengakibatkan korban manusia. Spirit kearifan seperti inilah sebenarnya yang hendak ditanamkan oleh Islam melalui syariat Qurban.

Empati kemanusiaan untuk membangun peradaban terbaik merupakan salah satu wujud komitmen esensial ketakwaan seseorang. Bahkan tidak hanya terbatas kepada manusia. Bukankah Rasulullah Saw. pernah memberikan ilustrasi bahwa “Seseorang bisa memperoleh surga lantaran kasih sayangnya kepada seekor anjing dan seseorang juga bisa terjerumus masuk neraka lantaran berbuat zhalim kepada seekor kucing” (HR. Al Bukhari). Jika tindakan seseorang kepada hewan saja bisa berakibat serius seperti itu, maka sebuah tindakan apapun kepada manusia bisa berakibat lebih serius lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: