Sigmund Freud (1860-1939)

 

Lambang Sebagai Bentuk Pernyataan :

  1. Sigmund Freud (1860-1939)

JAUH sebelum ilmu mempersoalkan masalah bawah sadar dan tidak sadar dalam diri manusia, penyair-penyair telah mengetahui, bahwa manusia, dengan cara yang tidak disadarinya sendiri, kadang-kadang memberikan pernyataan tentang konflik batin­nya. Contoh klasik ialah istri Macbeth, yang membunuh raja sehingga suaminya dapat menggantikannya. Dalam drama Shakespeare wanita itu muncul setiap kali mencuci tangannya karena ia melihat noda-noda darah di tangannya.

Studi yang sistematis tentang pernyataan kehidupan jiwa yang tidak disadari atau tidak jelas disadari itu, dimulai oleh Freud. Sudah tentu ada orang-orang lain yang sampai tingkat tertentu mendahului dia (parapsikolog-parapsikolog sudah berbicara tentang bawah sadar), namun penyelidikan yang benar-benar sistematis baru dimulai oleh Freud dengan penemuannya yang besar ialah, bahwa impian manusia tidak hanya merupakan sisa-sisa isi kesadarannya, yang pada siang harinya dilakukan secara intensif (apa pun soalnya), tetapi sering juga pernyataan dari angan­-angan dan pikiran-pikiran yang pada siang harinya telah dicoba untuk dilupakannya.

Catatan: Freud berbicara tentang tidak sadar sebagai sesuatu yang melalui impian dalam bentuk tergambar—sejauh kita ingat impian itu—menjadikan kita sadar. Sejak itu telah beredar pembedaan yang lain, di mana tidak sadar kurang lebih identik dengan yang telah teratur menurut hukumnya dalam kehidupan jiwa kita, yang tidak pernah kita sadari sebagai hukum; bawah sadar (bawah sadar menurut Freud) adalah angan-angan dan pikiran dalam lambang yang kabur, dalam impian atau bayang-bayang yang tidak dimengerti oleh manusia, atau yang manusia tidak mau mengerti; dan prasadar adalah sesuatu yang melalui proses mengenangkan kembali bisa segera dapat dibuat tersedia bagi kesadaran.

Lupa adalah proses yang menarik. Mengenai persoalan ini (dan beberapa persoalan lain) Freud menulis sebuah buku kecil yang sangat menyenangkan, Psikopatologi dalam Kehidupan Sehari-hari, yang terbit pada tahun 1901 di bawah judul Zur Psychopathologie des All-taglebens. Ia berusaha membuktikan di dalamnya bahwa orang tidak kebetulan, tidak begitu saja lupa. Bersamaan dengan itu ia tidak mengingkari bahwa ada soal-soal yang berangsur-angsur lepas dari ingatan kita, soal­-soal yang tidak atau hanya sedikit menarik perhatian kita, karena soal-soal itu secara psikologis tidak penting bagi kita. Tetapi ia tidak membenarkan, dan memang tepat, bahwa dengan demikian persoalan lupa tersebut telah diterangkan. Kita lupa secara selektif. Apa yang kita ingat atau kita lupakan terutama adalah soal motif atau soal yang lebih kita sukai, yang ada kaitannya dengan pengalaman pribadi dari individu. Lupa tidak selalu merupakan soal yang dibiarkan hilang secara pasif, tetapi kadang-­kadang soal yang didesak hilang secara aktif. Isi kesadaran yang terdesak dengan demikian lenyap dari kesadaran kita yang langsung, tetapi ia tidak sama sekali hilang. Ia tetap ada laten di bawah ambang pintu kesadaran dan bisa tiba-tiba muncul ke atas, sebagaimana orang bisa teringat hal-hal yang dikira telah lama dilupakan. Mendesak lenyap tidak hanya dilakukan terhadap hal-hal yang tidak menyenangkan; orang yang mendesak lenyap nafsu, hal-hal yang dirasakan butuh untuk dipuaskan, tetapi yang bersamaan dengan itu orang merasa takut atau malu. Kalau soalnya mengenai kebutuhan vital—dan hal itu sering ada kaitannya dengan kebutuhan seks—maka desakan itu tidak dapat menolong. Atau lebih tepatnya, ia menolong tetapi hanya untuk sebagian. Keinginan untuk tidak diingatkan pada soal itu, membuat orang mencari substitut (pengganti) untuk kompensasi kehilangan yang dirasakannya. Maka timbullah berbagai perbuatan lambang, yang berkali-kali dijumpai oleh Freud pada pasien-pasien yang dirawatnya: banyak orang kaya yang menderita penyakit syaraf dari Wina pada akhir abad ke-19, yang banyak menghadapi permasalahan seks, sedangkan keluar, mereka berusaha hidup yang pada waktu itu diwajibkan sebagai penduduk yang saleh dan sopan. Impian-impian dan perbuatan yang dipaksakan, tindakan-tindakan aneh yang tidak dapat dikekang untuk tidak melakukannya, dikenali Freud sebagai ekspresi perasaan yang kacau dari keinginan-keinginan mereka. Terkenal adalah cerita dari ceramah-ceramahnya tentang gadis, anak tunggal, yang tidak dapat tidur, kecuali kalau bantal kepala diletakkan begitu jauh dari bagian kepala tempat tidur yang ditinggikan, hingga tidak ada kemungkinan kontak antara bagian kepala tempat tidur itu dengan bantal. Analisa mengenai hal itu menjelaskan bahwa bagi gadis itu bantal menggambarkan ibunya dan ujung tempat tidur ayahnya. Keduanya harus dipisahkan, artinya persetubuhan orang tuanya harus dicegah, agar ia tetap menjadi anak tunggal. Sudah tentu ada juga unsur-unsur lain di dalamnya, seperti rasa iri terhadap ibunya, tetapi sementara ini hal itu tidak menjadi persoalan. Yang menjadi persoalan dalam hal ini hanyalah isi kesadaran itu yang didesak lenyap dan sebagai penggantinya muncul suatu tindakan lambang, yang artinya tidak dimengerti oleh gadis itu sendiri, namun yang begitu berarti bagi dirinya, hingga tanpa tindakan itu ia tidak dapat tidur. Baru setelah dianalisa dan ternyata mengapa ia berbuat demikian, gejala itu menghilang.

Juga dalam impian, di samping dan di antara sisa-sisa yang biasa dari pengalaman siang harinya, terdapat lambang-lambang keinginan yang terdesak ini, yang oleh kesadaran, yaitu sensor, dicap tidak diperbolehkan. Dalam wujud yang tersembunyi keinginan yang terdesak itu datang kembali dan menggelisahkan orang yang tidur. Di Wina yang berpegang teguh pada moral agama dari zamannya Freud adalah terutama lambang-lambang nafsu seks yang mengganggu para pasiennya.

Karena itu dapat dimengerti, mengapa Freud menganggap soal seks itu sangat penting artinya, dan mengapa dorongan nafsu seks sudah dikenalinya pada anak yang muda. Menurut Freud, individu itu berturut-turut mengalami stadium erotik secara oral dan stadium nafsu berahi secara anal sebelum sampai pada stadium genital orang dewasa. Beberapa orang, yaitu yang fisik sudah dewasa, tetapi secara seksual tidak sepenuhnya normal, tetap terpancang pada stadium yang dini. Larangan-larangan yang banyak jumlahnya di sekitar kehidupan seks merupakan penyebab dari berbagai frustasi dan rasa takut, yang salah satu di antaranya yang terpenting ialah takut dikebiri. Contoh yang khas mengenai hal ini ialah cerita-cerita tentang wanita dengan vagina dentata (bergigi). Cerita ini membuat Freud berpaling ke jurusan antropologi budaya, yang menjadi sumber dari tindakan-tindakan dan mitos-mitos. Tindakan dan mitos itu menunjukkan persamaan dengan gejala-gejala yang ia temukan pada para pasiennya. Sebab itu etnologi mulai menarik perhatiannya, dan nampaknya bahan-bahan tersebut dijadikan dasar ilmiah (evolusionistis) bagi pengamatannya.

Penyelidikan yang dilakukan Freud di bidang ini diberinya bentuk dalam empat buah artikel yang terbit pada tahun 1912 dan 1913, dalam dua tahun terbitan pertama dari majalah Imago yang didirikan olehnya; sejak itu artikel-artikel itu dibundel dan diberi titel Totem and Tabu dengan subtitel “Beberapa persamaan antara kehidupan jiwa orang liar dan penderita sakit syaraf”. Bahan-bahan bagi artikelnya berasal dari Frazer, Robertson Smith, Tylor, Lang, dan beberapa lainnya, yang pada umumnya adalah penulis-penulis yang berorientasi evolusionistis.

Artikel pertama membahas takut insest. Kebencian emosional yang kuat terhadap insest menunjukkan, bahwa yang menjadi persoalan bukan kebencian yang wajar terhadap insest tetapi terhadap nafsu yang terdesak. Mudahnya tersinggung dalam hal ini menunjukkan ke arah itu. Kebalikan dari takut insest adalah nafsu insest, yang pada stadium pertama dari kehidupan anak diarahkan terhadap ibunya. Dorongan seks ini kemudian—kadang-kadang melalui saudara-saudara perem­puan—dialihkan ke sasaran lain, tetapi tidak sepenuhnya menghilang. Karena itu, diperlukan berbagai tindakan untuk mencegah bahaya tergelincir tersebut. Begitulah pula soalnya mengenai ibu mertua. Dihindarinya ibu mertua adalah motif yang sangat luas tersebar dan itu ada alasannya. Bagi menantu-lelaki, ibu mertua adalah pengganti ibu dan juga pengganti istri. Bagi ibu mertua sendiri soalnya juga tidak kurang berbahaya. Dengan mengidentifikasikan dirinya dengan anaknya yang perempuan terdapat kecenderungan insest yang kuat padanya terhadap menantunya yang lelaki. Karena itu keduanya harus dipisahkan oleh peraturan-peraturan tabu.

Tulisan kedua, Tabu dan perasaan ambivalensi, sudah membawa kita lebih jauh lagi. Freud menggambarkan tabu sebagai perbuatan terlarang yang cenderung kuat untuk melaksanakannya, tetapi di bawah sadar. Tabu terdapat dalam aneka ragam yang luas pada para penderita sakit syaraf karena paksaan. Inti serta asal dari larangan-larangan yang tidak bermotif, dan berteka-teki ini, berkali-kali ternyata lagi adalah “takut meraba”, pertama-tama takut meraba yang menimbulkan nafsu berahinya sendiri, yang memberikan kenikmatan yang sangat terlarang. Sebagai ganti kenikmatan yang dilarang itu, pasien mencari penggantinya, di mana keinginan semula maupun larangannya dapat dikenali. Maka itu tabunya para penderita sakit syaraf ditandai oleh ambivalensi.

Ambivalen tersebut juga kita dapatkan dalam tabunya orang primitif. Raja dihormati dan juga dibenci. Orang iri terhadap dia dan ia dikitari oleh upacara-­upacara yang memberikan hormat besar kepadanya, tetapi yang membuat hidupnya sebagai manusia dapat dikatakan tak mungkin. Begitu pula orang-orang mati yang dicintai dan dihormati dengan cara yang sama menjadi orang yang dibenci dan setelah meninggal dunia dituduh telah berbuat bermacam hal yang tidak baik. Orang takut terhadap orang mati, karena membenci dan mencintainya.

Catatan:    Dengan dalil ambivalensi dari perasaan manusia ini Freud menyentuh suatu motif yang sangat sentral, yang tak ada gunanya membatasi artinya secara khas pada larangan meraba yang menimbulkan nafsu berahinya sendiri. Ambivalensi perasaan terdapat di berbagai bidang; Freud sendiri menyebutkan perilaku terhadap raja dan orang mati. Tetapi ambivalensi menjangkau lebih jauh daripada hanya hal yang tidak disadarinya. Begitulah maka Rasul Paulus mengeluh: “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.”

Saat psikologis itu berkembang terutama menonjol dalam tulisan yang ketiga, Animisme, Magie en Almacht der Gedachten. Beberapa penderita sakit syaraf mengaku bahwa mereka hanya perlu memikirkan sesuatu (umpamanya jatuhnya suatu jambangan) dan hal itu terjadilah. Kemudian ternyata bagaimana mereka telah membantu kejadian yang tidak terduga itu. Yang lebih penting, kata Freud, ialah bahwa orang-orang ini berpikir secara magis. Mereka memaksakan kejadian. Dalam berpikir magis, dirinya sendiri yang diutamakan. Dengan pasien-pasien ini kita berurusan dengan orang-orang yang masih berada pada stadium kekanak-kanakan narsisme, yaitu anak-anak yang mencintai dirinya sendiri, di mana dirinya sendiri dijadikan obyek seks. Berkuasanya pemikiran merupakan gejalanya. Berpikir magis adalah bentuk pemikiran umat manusia yang paling tua. Ia lebih tua daripada animisme, yang timbul kalau kontradiksi magi itu muncul ke luar dan orang mulai memproyeksikan sebagian dari aspirasi dan kesewenangan mereka pada orang mati. Tetapi animisme masih bercampur dengan magi dan Freud menggabungkan kedua tahap itu di bawah nama stadium animistis, stadium di mana manusia menganggap dirinya sendiri mahakuasa. Stadium berikutnya ialah stadium religius, di mana mahakuasa itu dianggap ada pada para dewa. Sementara stadium animistis itu bertepatan dengan stadium narcistis, stadium religius bertepatan dengan stadium psikologis dalam perkembangan di mana tidak lagi dirinya sendiri dijadikan obyek seks, tetapi orang tua. Kemudian menyusul sebagai stadium terakhir stadium ilmiah, yang mempunyai pelengkapnya dalam kedewasaan yang matang, di mana manusia sambil menyesuaikan dirinya dengan kenyataan, mencari obyeknya di dunia luar.

Penutup dari teorinya terdapat dalam karangannya yang keempat, De infantiele terugkeer van het totemisme. Kembalinya totemisme secara kekanak-kanakan.

Semuanya berputar di sekitar tabu-tabu dari totemisme, yaitu eksogami dan larangan membunuh totem. Menurut Freud, asal mula dari semua ini bersumber pada kebiasaan gerombolan purba, yang mengusir keluar anak lelaki mereka, segera setelah anak itu dewasa. Rasa hormat terhadap ayahnya, membuat sang anak membiarkan dirinya diusir. Ia mengagumi ayahnya, tetapi juga membencinya. Dalam kebenciannya bahkan ayahnya diberinya nama seekor binatang. Lama-lama sampailah saat anak itu memutuskan membunuh ayahnya. Hal ini berhasil. Yang penting lagi ialah bahwa dalam usaha untuk mengindentifikasikan diri dengan ayahnya, ayahnya dimakannya. Kemudian tibalah saat yang mengecewakan, karena identifikasi yang penuh dengan ayahnya tidak mungkin. Para anak lelaki tidak bisa untuk diri masing-masing memiliki semua istri dari ayahnya. Bersamaan dengan kekecewaan itu, tibalah saat penyesalan dan dalam penyesalan itu para anak lelaki tersebut tidak mau mengambil istri-istri ayahnya yang begitu mereka ingini. Inilah asal mula eksogami. Sementara itu juga perasaan yang lemah-lembut terhadap sang ayah yang dikaguminya itu menjadi menonjol lagi. Hal itu ternyata, bahwa binatang yang dalam kebenciannya diidentifikasikan dengan ayahnya, sekarang dihormati dan disegani. Begitulah kedua tabu totemisme itu terjadi. Namun hal itu bukan merupakan keberhasilan yang penuh. Secara berkala timbul lagi keangkuhan para anak lelaki tersebut terhadap ayahnya, karena ambivalensi perasaan itu tetap ada. Maka ayahnya dalam bentuk binatang totem itu dibunuh lagi dan dimakan, di mana terjadi lagi identifikasi sang ayah kembali.

Pembunuhan ayah dan patropbagie (harfiah: “makan ayah”) dari zaman purba adalah dosa keturunan umat manusia, yang setiap kali mendorong manusia lagi ke arah tindakan religius. Di mana-mana ayah-dewa mempunyai perwujudan ayah­manusia, dengan siapa sang anak lelaki hidup dalam pertentangan abadi sejak situasi Oedipus.

Catatan:    Menurut mitos (Yunani) Oedipus ditempatkan di sesuatu tempat agar ditemukan orang, karena diramalkan oleh Orakel, bahwa ia akan membunuh ayahnya. Kemudian hal itu benar-benar terjadi, dan setelah itu ia kawin dengan ibunya, Iocaste. Kedua-duanya tidak saling mengetahui mengenai hubungan yang ada di antara mereka. Freud menggunakan cerita itu sebagai lambang kebencian anak lelaki terhadap ayahnya dan keingin­annya terhadap ibunya.

Anak lelaki membenci ayahnya, tetapi bersamaan dengan itu ia mengaguminya dan berusaha mengidentifikasikan dirinya dengan ayahnya. Karena itu setelah patropba­gie, ia juga ingin berdamai lagi dengan ayahnya. Dalam agama Kristen hal ini mengakibatkan penebusan dosa dengan kematian sang anak. Dengan demikian tercapai perdamaian penuh, karena sang anak (pembunuh) sepenuhnya menebus dosa (membiarkan dirinya dibunuh). Tetapi itu pun merupakan kegagalan, karena dengan penebusan dosa sepenuhnya itu sang anak menjadi identik dengan ayahnya. Sang anak sendiri menjadi Allah di samping ayahnya dan agama-anak menggantikan agama-ayah. Komuni Kristen, yang kuat sekali mengingatkan pada pesta-makan­totem menurut artian Robertson Smit, merupakan ulangan dari kematian pendamai sang anak dan bersamaan dengan itu menyisihkan sang ayah lagi.

Orang mungkin beranggapan, bahwa tidak mungkin ada penolakan yang lebih tegas terhadap religi dan Kekristenan, tetapi walaupun begitu, 25 tahun kemudian Freud berhasil mengulangi lagi motif yang sama dengan cara yang lebih konsekuen dalam bukunya Mozes and Monotheism yang terbit di New York pada tahun 1939. Landasan buku itu ialah cerita fantastis tentang Musa, yang menurut cerita itu dibunuh oleh orang-orang Israel. Mungkin buku itu lebih menarik lagi karena kesimpulan yang ragu-ragu dari Freud yang Yahudi itu, yang lolos dari tangan Hitler, bahwa yang disesalkan dari orang Yahudi, bahwa mereka telah membunuh Allah, mengandung dasar kebenaran. Mereka telah dua kali membunuh ayahnya.

Teoretis Mozes and Monotheism adalah penerapan lebih lanjut dari teori Totem and Tabu pada perkembangan yang telah maju dari teori psikoanalisa. Bagi kita yang paling penting ialah, bahwa dalam buku ini jelas tak diragukan lagi dinyatakan bahwa gagasan-gagasan dapat merupakan pembawaan dan karena itu dapat diwariskan: “the archaic heritage of mankind includes not only dispositions, hut also ideational contents, memory traces of the experience of former generations” (157). Dengan menerima pendapat bahwa Oedipus-complex itu dapat diwarisi, menjadi mungkin pembunuhan ayah itu bisa tetap terus bekerja melalui generasi yang satu ke generasi yang lain. Dengan demikian menjadi mungkin untuk menerangkan masa laten yang lama, yang mendahului banyak kasus penyakit syaraf. Penyakit syaraf sering baru menyusul setelah bertahun-tahun melalui pengalaman goncangan jiwa, yang dianggap sebagai sebabnya. Dengan jalan ini menjadi mungkin juga untuk menangani Oedipus-complex guna menerangkan penyakit syaraf, di mana tidak ada pengalaman goncangan jiwa yang dapat ditunjuk sebagai sebab dari penyakit syaraf itu.

Apa yang tadinya dimulai sebagai keterangan berdasar intelegensi, telah menjadi dogma di sini. Penolakan dalil, bahwa sifat-sifat dan lebih-lebih lagi isi kesadaran tidak dapat diwariskan, mungkin menarik sekali, tetapi kalau orang hendak menyimpang dari prinsip dasar genetika, seharusnya diajukan argumentasi yang lebih baik daripada yang kebetulan cocok di lorongnya sendiri. Andaikan saja itu cocok, maka jalan itu adalah jalan yang berbahaya, yang secara konsekuen berarti memindahkan permasalahan dari penyakit ke kesehatan. Kalau Oedipus-complex itu bisa diwarisi, seharusnya bisa dijelaskan bagaimana hal itu bisa terjadi, bahwa masih terdapat begitu banyak orang yang tidak terganggu oleh hal itu. Daripada complex itu sering muncul, sekarang yang menjadi permasalahan ialah Oedipus-complex itu sering tak muncul.

Masih banyak lagi keberatan terhadap teori Freud. Keberatan itu juga telah dijelaskan kepadanya, dan yang tentu saja menjadi sasaran (dan memang tepat) adalah terutama gerombolan purba. Dalam Mozes and Monotheism Freud membela diri terhadap keberatan-keberatan itu sebagai berikut: “I have often been vehemently reproached for not changing my opinions in later editions of my book (Totem und Tabu), since more recent ethnologists have without exception discarded Robertson Smith’s theories and have in part replaced them by others which differ extensively. I would reply them that these alleged advances in science are well known to me. Yet I have not been convinced either of their correctness or of Robertson Smith’s errors…. Above all, however, I am not an ethnologist, but a psychoanalyst. It was my good right to select from ethnological data what would serve me for my analytic work. The writing of Robertson Smith provided me with valuable points of contact with the psychological material of analysisand suggestions for the use of it….” (207v.). Sudah tentu ini bukan argumentasi, lebih-lebih lagi, karena ia bukan mengambil data tetapi teori dari Robertson Smith, dan karena itu segala alasan memang ada untuk mendengarkan pendapat “para ahli etnologi” yang belakangan.

Orang tua yang sudah berumur 79 itu bisa dimaafkan mengenai dogmatisme ini. Yang lebih berat ialah, bahwa dogmatisme itu terdapat dalam tingkat yang lebih hebat pada murid-muridnya, yang bagi etnologi terutama penting ialah ahli psikoanalisa Hongaria Geza Roheim. Roheim sendiri telah melakukan pekerjaan lapangan di Australia, dan mengenai itu ia menulis berbagai buku, yaitu Australian Totemism (1925) dan The Eternal Ones of the Dream (1945). Suatu buku teori murni ialah Animism, Magic and the Divine King (1930), semacam versi psikoanalisa dari The Golden Bough, dengan takut-kebiri sebagai motif pusatnya. Masalah takut­kebiri ini diusutnya sampai periode dalam evolusi binatang, di mana pada pembiakan alat genital itu sendiri dipisahkan dari tubuh. Dengan demikian tindakan senggama itu merupakan usaha ke arah pengebirian diri, dan tidak lagi penis tetapi air mani sebagai penggantinya yang meninggalkan tubuh. Inilah dasar dari takut-kebiri yang telah kita warisi dari leluhur kita yang sangat jauh. Konsekuensi dari teori ini saya lampaui saja. Dalam hal ini jalan ilmu telah ditinggalkan sama sekali untuk menempuh jalan mitos. Teori ini telah menjadi dogma.

Salah seorang yang terbentur pada dogmatik ini ialah B. Malinowski. Melalui dua artikelnya dalam Psyche (1924) ia memberi perhatian terhadap psikoanalisa. Ia menegaskan bahwa di Kepulauan Trobriand dengan tatanan matrilineal yang berdampingan dengan perkawinan virilokal, tidak berkembang Oedipus-complex, tetapi suatu ketegangan antara saudara lelaki ibu dan anak lelaki dari saudara perempuan, yang menjadi pewaris dari yang tersebut pertama. Ayah di sini berarti teman dan pembantu yang baik, saudara lelaki ibu memainkan peranan ayah dalam masyarakat patriarkal. Lebih lanjut Malinowski menunjukkan bahwa ia tidak menemukan tanda-tanda adanya kecenderungan insest dari anak lelaki terhadap ibunya, tetapi sebaliknya ada terhadap saudaranya perempuan. Meskipun ada pemisahan yang kuat antara saudara lelaki-saudara perempuan, terdapat juga peristiwa insest antara saudara lelaki-saudara perempuan dan juga dari impian­impian ternyata ada kecenderungan yang kuat ke arah itu.

Jawaban para pengikut Freud segera muncul. Dalam International Journal of Psycho-Analists E. Jones menyatakan bahwa kurangnya perhatian Malinowski terhadap segi genetis membuatnya salah mengenali duduk perkara yang sebenarnya. Menurut E. Jones, juga di antara orang-orang Trobriand, ada Oedipus-complex, tetapi ayah primordial di sini terbagi antara dua orang, ayah yang lemah-lembut dan bersahabat dan saudara lelaki ibu yang keras menekankan pada soal moral. Dengan cara yang sama saudara perempuan merupakan pengganti ibu. Mengenai hal ini .

Malinowski menjadi marah sekali dan menjawab dalam suatu buku, Sex and Repression in Savage Society (1927).

Yang menjadi sasaran primer Malinowski adalah kesalahan Freud yang suka melebih-lebihkan; Freud menamakan pembunuhan ayah primordial “the memora­ble, criminal act with which … began social organization, moral restriction and religion”. Mengenai hal itu Malinowski menyatakan, bahwa karena pembunuhan kolektif ini, kera telah mencapai kebudayaan dan telah menjadi manusia; tentu saja dari pihaknya hal ini tidak tanpa dilebih-lebihkan, karena gejala kebudayaan yang paling khas, yaitu bahasa, tidak dibahas oleh kedua belah pihak.

Tetapi hal itu membuat Malinowski memiliki ancang-ancang baik untuk menegaskan perbedaan antara kebudayaan dari naluri. Manusia tidak berbuat karena naluri. Bahkan apa yang dinamakan naluri-puak (kudde-instinct) dari manusia adalah fiksi. Memang banyak diperbuat dalam hubungan kolektif, tetapi kalau persoalannya diperiksa dengan teliti, ternyata bahwa seperti dalam kehidupan ekonomi kegiatan yang murni perorangan semakin meningkat, kalau hal itu diteliti lebih lanjut dalam sejarah. Si pengumpul bama bisa menolong dirinya sendiri dan banyak hal yang dilakukannya sendirian, walaupun ia tidak pernah hidup menyendiri. Tetapi sebaliknya produksi kolektif semakin meningkat bersamaan dengan perkembangan kebudayaan. “Human sociality increases with culture, while if it had been gregariousness it should decrease or, at least, remain constant” (191).

Kegiatan manusia adalah kegiatan yang dipelajarinya, bukan perbuatan naluri. Semuanya harus dipelajari, bahkan juga bahasa. Karena itu keluarga manusia berbeda secara prinsip dari keluarga binatang. Pada kera “pacaran” dimulai dengan perubahan pada alat genital yang membuat senggama itu menjadi suatu keharusan baik bagi betinanya maupun bagi jantan-jantannya yang ada di sekitarnya. Betinanya tetap mempunyai kebebasan memilih partner dari antara jantan-jantan itu. Partner yang diterimanya, tetap setia pada betinanya juga selama hamil dan menyusui anak­anaknya. Setiap jenis memiliki semacam perilakunya sendiri yang invariabel. Manusia sebaliknya tidak dipaksa berpacaran. Tidak ada masa pacaran. Memang kebebasan itu menetapkan pembatasan-pembatasan, tetapi sifat pembatasan itu ditentukan secara kultural. Di samping itu ketentuan-ketentuan itu tidak bersifat memaksa. Melakukan senggama tidak harus menjadi hubungan yang permanen dan bahkan kalaupun hal itu ada, masalah pengurusan keluarga oleh sang ayah masih belum merupakan persoalan yang berjalan otomatis. Kepatuhan pada ketentuan harus dipaksa dengan ancaman hukuman, indoktrinasi, dan pembudayaan. Itu perlu karena pendidikan anak lelaki pada manusia berlangsung sangat lama. Keluarga harus terjamin keselamatannya. Untuk melestarikan keluarga, tabu terhadap insest dan zinah adalah mutlak. Tetapi tabu-tabu itu tidak berlandaskan naluri. Orang bisa melanggarnya dan tabu-tabu itu memang dilanggarnya. Hubungan yang merupakan kelanjutan dari tabu-tabu ini, tidak selalu harmonis. Hubungan tersebut mengakibatkan aneka perasaan yang tertekan. Ini merupakan keharusan bagi hubungan terhadap ayah yang perannya di luar matriliniaat ambivalen, suatu kombinasi terdiri dari pemeliharaan yang penuh cinta kasih dan kekuasaan yang keras, yang mudah menjurus ke maladjustment.

Sanggahan Malinowski dalam beberapa pokok lemah. Apa yang ia katakan tentang perilaku kera, sebagian besar tidak kena bagi primat-primat (binatang menyusui tingkat utama). la juga berusaha membantah dengan panjang lebar seksualitas anak yang dijadikan dalil oleh Freud. Hal itu agaknya dapat diperdebat­kan, tetapi tidak perlu memasuki persoalan ini. Satu segi yang kuat dalam sanggahan Malinowski ialah uraiannya tentang kebudayaan sebagai satu kelompok peraturan perilaku yang tidak ditentukan secara turun-temurun.

Keberatan terhadap teori Freud dapat kita ikhtisarkan sebagai berikut:

  1. Keterangan tentang religi, eksogami, dan moralitas dari situasi zaman purba tidak terbukti dan bahkan tidak mungkin benar. Dalam hubungan ini dapat dibaca bab terakhir buku saya Reciprocity and the Position of Women yang di dalamnya dijelaskan bahwa—kalau pernah ada orang-orang muda yang diusir dari gerom­bolan manusia—orang-orang muda itu tentunya anak perempuan dan bukan anak lelaki.
  2. Penempatan situasi itu dalam stadium pra-manusia yang seperti dikemukakan. dengan tepat oleh Malinowski dalam tulisannya Sex and Repression membuat seluruh perilaku para anak lelaki sebelum dan sesudah patrophagie menjadi tidak dapat dimengerti. Di dunia binatang tidak terdapat kesulitan mengenai gerom­bolan. Anak-anak binatang pergi dan di suatu tempat menemukan partner bagi dirinya. Kalau hal itu terjadi di dalam kelompoknya sendiri, belum ada alasan baginya untuk membunuh ayahnya, dan kalaupun itu terjadi, maka setidak­tidaknya tidak ada alasan untuk menjadi gusar.
  3. Secara biologis tidak diperbolehkan untuk menyatakan Oedipus-complex yang ditimbulkan oleh patrophagie pada para pelaku sebagai penyebab dari suatu perubahan dalam pola keturunan, sehingga membuat Oedipus-complex ini menjadi turun-temurun.
  4. Oedipus-complex yang bersifat turun-temurun ini menimbulkan permasalahan baru yang semakin sulit dipecahkan. Karena sekarang harus dijelaskan mengapa terdapat begitu banyak orang, yang tidak mengalami gangguan Oedipus-complex.
  5. Teori itu adalah teori pria murni, di mana wanita tidak ambil bagian dalam perubahan yang diperkirakan terjadi dalam pola keturunan. Sudah tentu itu mungkin, tetapi itu kurang menunjukkan cita-rasa. Keberatan yang sama juga diajukan terhadap keterangan tentang religi yang dianggap berasal dari castratie­complex (kompleks-kebiri) yang sia-sia dicari di kalangan wanita.
  6. Penegasan tahap totemisme dalam sejarah umat manusia adalah pernyataan yang tidak ada dasarnya.
  7. Ada keterangan lain yang lebih sederhana untuk menerangkan kompleks-ayah dan eksogami, tanpa memerlukan pelengkap genetika yang bersifat hipotesa dan dapat disanggah.

 

Dalam hubungan ini eksogami tidak perlu dipersoalkan lagi, tetapi kompleks­ayah perlu dipersoalkan. Hal ini ditandai oleh dua komponen, kepercayaan dan kekaguman di satu pihak, takut dan benci di lain pihak, kalau hubungan ayah dengan anak lelaki itu dipandang dari sudut pandangan anak itu. Dari pihak ayahnya hubungan itu bercirikan pemeliharaan penuh cinta kasih dan mempertahankan otoritas dengan hukuman. Situasi yang mirip dengan keadaan itu sering terdapat dalam kehidupan manusia. Kombinasi kepercayaan dengan penuh harapan dan takut pada hukuman terdapat dalam banyak situasi: situasi bujang terhadap majikannya; situasi suami terhadap istri; situasi individu terhadap persekutuan; situasi orang berdosa terhadap Tuhannya. Kalau suatu lambang dicari sebagai pernyataan perasaan yang saling bertentangan, maka lambang-ayah itulah yang paling jelas.

Pernyataan itu sekaligus merupakan kunci penghargaan yang besar terhadap pendapat Freud, walaupun ada keberatan terhadap teorinya. Ia telah membuat jelas bagi kita, bahwa pada manusia terdapat cita rasa yang ambivalen, yang menjurus ke perasaan terdesak dan yang terwujud dalam lambang-lambang. Juga kenyataan bahwa lambang dan tindakan lambang itu menunjukkan persamaan dengan lambang dan tindakan lambang dari mitos dan magi adalah bahan yang penting. Hal itu menunjukkan bahwa yang dipersoalkan itu berkaitan dengan perasaan-perasaan manusia yang terdalam, yang tidak perse neurotis. Juga lambang-lambang yang sama terdapat di dalam impian. Justru persamaan-persamaan inilah yang memberi alasan untuk menduga, bahwa dalam religi dipersoalkan sekelompok gejala, yang ditentukan oleh penyebab-penyebab psikis yang lebih dalam letaknya. Dan dengan demikian kita sampai kepada arti sentral yang abadi dari karya Freud: Ia telah membuat jelas bagi kita, bahwa tindakan manusia itu dilandasi oleh cita rasa, nafsu, dan rasa takut, yang biasanya tidak dimengerti oleh individu itu sendiri, dan bahwa cita rasa, nafsu, dan beban itu ditandai oleh pertentangan-pertentangan yang mendalam dan bernafsu. Dengan mendalami arti impian, Freud telah menambahkan kepada pengetahuan kita satu dimensi tentang mekanisme jiwa manusia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: