GANGGUAN PERUT DAN OTAK

THE BRAIN GUT AXIS ( GANGGUAN PERUT DAN OTAK )[1]

HUBUNGAN ANTARA OTAK DAN USUS

Menurut Dr. Robyn Cosford, peneliti dari Australian College of Nutritional and Environmental Medicine dan pengajar di University of Newcastle, Australia, menjelaskan bahwa otak dan usus halus memiliki hubungan yang spesial. Usus sering dianggap sebagai “otak kedua.”

Sistem saraf tubuh yang terbesar kedua setelah otak, dan lebih dari 60 persen sistem imunitas tubuh berpusat di sistem pencernaan. Usus terhubung dengan otak melalui neurotransmitter dan di ususlah hormon membuat bahagia seperti serotonin diproduksi.

Ilmuwan telah menemukan salah satu jenis bakteri usus yang mampu secara langsung mempengaruhi otak. Temuan ini diperkirakan mampu menyibak cara baru untuk mengontrol depresi dan kelainan psikiatrik lainnya.

Sebelumnya, peneliti sudah lama mencurigai bahwa usus ada hubungannya dengan otak, karena kelainan di bagian tubuh tersebut berkaitan dengan penyakit psikis pada manusia seperti kegelisahan dan depresi.

Untuk memastikan, para peneliti dari University College Cork di Irlandia memberikan Lactobacillus rhamnosus JB-1, bakteri yang umumnya hidup di usus manusia ke tikus.
Ternyata, tikus yang diberi asupan air kaldu yang mengandung bakteri itu memiliki perilaku terkait dengan stress, kegelisahan dan depresi yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan air kaldu tanpa bakteri.

Tikus yang diberikan bakteri juga memiliki level hormon stres corticosterone yang lebih rendah saat menghadapi situasi penuh tekanan seperti ketika ia ditempatkan di dalam rintangan. Dan berhubung tikus bisa menjadi contoh yang bagus dalam mempelajari otak manusia, peneliti menyebutkan, temuan ini juga bisa diaplikasikan pada manusia.

“Dengan memanfaatkan bakteri usus,  memiliki efek yang sangat kuat dan luas terkait kimia dan perilaku otak,” kata John Cryan, peneliti dari University College Cork, seperti dikutip dari LiveScience, 4 September 2011.

Tanpa melebih-lebihkan segala sesuatunya, kata Cryan, temuan ini membuka konsep bahwa kita bisa mengembangkan terapi yang bisa mengobati kelainan psikiatrik dengan menyasar ususnya.  bisa meminum yogurt dengan probiotik di dalamnya dan tidak menggunakan antidepresan,” . kata Cryan, yogurt itu bukan yogurt yang biasa kita minum setiap harinya.

“Efek yang muncul tergantung dengan jenis probiotik yang di gunakan. Namun harapannya, cara ini menghadirkan efek samping yang lebih rendah dibanding dengan obat-obatan kimia

PENYEBAB GANGGUAN OTAK

Penyebab umum gangguan otak adalah abnormalitas flora usus.

Usus adalah “rumah” bagi bakteri-bakteri yang ada di dalam tubuh. Jika jumlah bakteri-baik dalam usus tinggi, maka produksi nutrisi yang berfungsi untuk menjaga kesehatan dan membantu proses metabolisme berjalan lancar.

Bakteri-baik juga berperan dalam melindungi dinding usus, menetralkan toksin, dan meningkatkan sistem imunitas. Jika jumlah bakteri-jahat dalam usus meningkat (yang disebabkan antara lain oleh pola makan modern, “Pola bakteri usus bayi sama dengan ibunya”) menjadi lebih banyak dari pada bakter-baik, maka sistem imunitas dalam perlindungan terhadap dinding usus akan melemah. Tubuh juga kehilangan nutrisi penting yang diserap dari makanan.

Bakteri-jahat memproduksi toksin yang dapat menghancurkan dinding usus sehingga terjadi “kebocoran usus” (leaky gut). Jika usus bocor, toksin akan masuk ke pembuluh darah dan mengalir menuju ke otak sehingga terjadi peradangan (inflamasi) di otak yang menghambat proses metabolisme otak. Akibatnya otak dan usus mengalami kekurangan gizi.

Dr. Cosford menyatakan bahwa ketika usus atau otak mengalami kurang gizi, proses metabolisme neurotransmitter tidak akan berfungsi dengan baik. Inilah yang kemudian berkembang menjadi gangguan psikologis dan saraf. Gangguan pada fungsi otak menyebabkan gejala-gejala sulit konsentrasi, mudah lupa, cepat marah, mudah panik, paranoid, dll.

Teori lain yang menjelaskan hubungan antara gangguan pencernaan dengan gangguan perilaku adalah gut brain axis theory (teori gangguan perut dan otak) pada penderita autis.

Menurut Dr. Widodo Judarwanto dari Chldren allergy center Jakarta, gangguan pada saluran cerna akan menyebabkan diproduksinya zat semacam morfin dan beberapa mediator kimia lainnya yang dapat mengganggu fungsi otak dan mempengaruhi perilaku anak.

 NEUROTRANSMITTER TERGANGGU

Gangguan perilaku sebenarnya bisa diatasi asalkan mengetahui cara memilih makanan yang tepat. Menurut Andang Gunawan, ND, ahli terapi nutrisi, hubungan antara konsumsi makanan dengan gangguan perilaku berkaitan dengan neurotransmitter. Neurotransmitter adalah kimia otak yang berfungsi sebagai pembawa pesan atau sinyal antar sel-sel saraf tubuh. Neurotransmitter juga ada di otak mau pun di pencernaan. Pesan yang diterima neurotransmitter pencernaan akan ditransfer melalui neurotransmitter-neurotransmitter sampai mencapai neurotransmitter otak.

Neurotransmitter terbentuk dari asam amino triphopan, vitamin B6, vitamin C dan beberapa jenis mineral. Pembentukannya sangat tergantung pada pasokan makanan. Jika salah satu atau beberapa bahan dasar tersebut asupannya rendah, maka pembentukan fungsi neurotransmitter akan terganggu.

Ada 4 jenis neurotransmitter yang berhubungan dengan perilaku dan makanan, yaitu:

  1. Serotonin yang mempengaruhi nafsu makan dan mood. Jika kurang akan membuat sedih, lemah, malas. Jika berlebihan akan membuat beringas dan hiperaktif.
  2. Asetilkolin mempengaruhi kemampuan konsentrasi dan belajar.
  3. Dopamin & neropinefrin menjaga agar tetap bersemangat, waspada, termotivasi, dan kuat menjalani aktivitas.

 

MAKANAN PENYEBAB

Jenis makanan yang umumnya menimbulkan gangguan perilaku adalah makanan olahan yang mengandung zat-zat aditif atau sintetis. Dan efeknya bergantung kepada daya tahan masing-masing individu (bagi orang yang sensitive sekali, reaksinya akan langsung muncul dalam bentuk gangguan perilaku). Zat-zat aditif dan zat-zat kimia sintetis ini sifatnya memblok atau meng – ganggu neurotransmitter otak dengan cara meniru cara kerja neurotransmitter otak. Sehingga mengkonsumsi makanan yang mengandung zat-zat aditif dan zat-zat sintetis akan menyebabkan timbulnya perilaku yang tak terkendali seperti mudah marah, beringas atau loyo. Bahan makanan tertentu seperti terigu (biskuit dan roti), susu dan makanan yang mengandung MSG juga dapat menimbulkan gangguan perilaku pada orang-orang tertentu.

Dr. Natasha Campbel McBride, ahli gizi sekaligus ahli saraf Amerika dalam bukunya “Gut And Psychology Syndrome menyatakan bahwa makanan yang mengandung kasein dan gluten dicurigai dapat mempengaruhi kesehatan usus pada orang-orang tertentu, terutama pada penderita autis. Kasein adalah protein yang terkandung dalam susu dan produk makanan dan oats, misalnya tepung terigu, roti, oatmeal dan mie

Perubahan pola makan dan jenis makanan yang dikonsumsi merupakan cara yang efektif untuk mengatasi gangguan perilaku. Tapi karena makanan penyebab gangguan perilaku ini berbeda untuk masing-masing orang, sebaiknya Anda harus benar-benar menandai dan mengenali jenis makanan penyebab gangguan perilaku. Dan yang juga sangat perlu diketahui, gangguan perilaku yang disebabkan makanan bisa terjadi pada orang dewasa!

Nah, kenali makanan yang bisa membahayakan neurotransmitter  dan jagalah kesehatan pencernaan  dengan menjalankan pola makan yang benar. Yogurt, kefir, susu fermentasi dapat meningkatkan bakteri baik dalam usus. Jangan lupa mengkonsumsi sayuran, buah-buahan sebagai sumber vitamin, mineral dan antioksidan.

Pola Bakteri Usus Bayi Sama Dengan Bayinya

Kesehatan pencernaan juga dipengaruhi oleh pola makan dan pelayanan kesehatan modern. Pola makan modern yang gemar mengkonsumsi makanan instan dan mengandung gula yang diproses (refined sugar) akan memberi makan kepada bakteri jahat.

Bahan aditif seperti MSG, zat pengawet dan zat pewarna juga berpengaruh pada perkembangbiakan bakteri jahat. Konsumsi obat dan antibiotik yang berlebihan juga akan menghancurkan. Konsumsi obat dan antibiotik yang berlebih juga akan menghancurkan bakteri baik dan menghancurkan bakteri jahat untuk semakin banyak berkembang. Polusi lingkungan, bahan kimia, logam berat dan toksin dalam makanan juga menyebabkan gangguan pada pola koloni bakteri yang hidup dalam usus.

Menurut Dr Cosford, pola koloni bakteri di dalam usus seseorang ditentukan saat kelahiran. “Ketika bayi dilahirkan secara normal lewat vagina ibunya, bayi itu akan mendapatkan pola bakteri yang sama dengan ibunya. Jika ibunya mempunyai pola bakteri yang baik, maka bayi itu juga akan mempunyai pola bakteri yang baik. Tetapi kenyataannya, gaya hidup modern membuat pola bakteri dari ibu hamil zaman sekarang justru semakin buruk.”

Pola makan modern dan konsumsi aneka obat serta suplemen yang diberikan kepada ibu hamil akan mengubah pola bakteri usus dan berpengaruh pada pola bakteri bayi yang dilahirkan.

Di zaman sekarang banyak bayi yang dilahirkan lewat operasi caesar, padahal ini juga akan berpengaruh pada pola bakteri usus bayi. Dr. Cosford mengatakan bahwa bayi yang lahir lewat operasi caesar bahkan sama sekali tidak mendapat bakteri usus dari ibunya. Bayi ini akan memiliki pola bakteri yang sama sekali berbeda dari ibunya dan biasanya akan menyebabkan kondisi kesehatan bayi kurang baik dibandingkan bayi yang lahir normal.

Memberikan ASI ekslusif selama 6 bulan awal kelahiran merupakan solusi dan kesempatan terbaik untuk meningkatkan populasi bakteri baik dalam usus bayi demi kesehatannya di masa depan. Menurut penelitian, bayi yang diberi susu formula memiliki resiko lebih besar terkena infeksi telinga, alergi, asma dan masalah kesehatan dibandingkan bayi yang diberi ASI ekslusif. Karena itu, sebaiknya tetap berikan ASI eksklusif pada bayi Anda, terutama bila dilahirkan lewat operasi caesar. Dan jangan lupa, tingkatkan konsumsi minuman probiotik seperti yogurt, kefir, dan susu fermentasi lainnya untuk meningkatkan jumlah bakteri baik dalam usus.

 GEJALA PADA IBS

Gejala pada IBS terjadi baik karena kelainan motilitas usus atau karena kelainan sensasi – atau melalui kombinasi.

Sangat mudah karena itu untuk membayangkan bagaimana kekerasan kontraksi atau spasme otot yang mengelilingi usus dapat menimbulkan rasa sakit.

Pada orang normal, distensi usus akan memicu serabut saraf lapisan usus untuk mengirimkan sinyal ke pusat yang lebih tinggi di otak yang mendaftar nyeri. Pada penderita IBS, telah terbukti bahwa rasa sakit dirasakan di tingkat yang jauh lebih rendah dari distensi. Ini dikenal sebagai ‘usus hipersensitif’ atau dalam istilah ilmiah hiperalgesia viseral. Hal berikut yang motilitas abnormal atau kontraktilitas usus akan menyebabkan distensi daerah yang akan bereaksi karena usus sensitif dan mendaftarkan sensasi nyeri di pusat-pusat otak yang lebih tinggi

Berbagai fitur yang mempengaruhi fungsi dari sistem saraf pusat atau otak kini telah ditunjukkan mempengaruhi, berdasarkan koneksi dari sumbu usus otak, peristiwa yang dijelaskan di atas pada tingkat ‘akhir organ’. Yakni dalam usus.

Di satu sisi, ini bisa disebabkan oleh faktor psikologis misalnya:

  1. stres
  2. Kegelisahan
  3. Depresi

Di sisi lain, oleh trauma psikologis seperti:

  1. verbal
  2. pelecehan fisik
  3. pelecehan emosional
  4. pelecehan seksual

Berdasarkan Gut Brain Axis interkoneksi, faktor ini dapat atau akan mempengaruhi fungsi pada tingkat ‘akhir organ “dari usus. Yang penting, telah menunjukkan bahwa IBS pasien memiliki peningkatan insiden gangguan psikologis dan telah terkena trauma lebih psikologis daripada populasi normal. Selain itu, pada tingkat organ akhir, jumlah yang diberikan stres telah terbukti memiliki efek buruk yang lebih besar pada motilitas usus dan sensasi daripada di non-penderita.

Strategi modern atau pengobatan yang telah dikembangkan untuk IBS mencerminkan peneliti pemahaman tentang peran penting yang sumbu usus otak menyebabkan gejala bermain di. Akibatnya, dalam mempertimbangkan pengobatan berbagai varian IBS, konsep terpusat dan akhir pengobatan organ yang ditargetkan telah dikembangkan.

Pusat perawatan yang ditargetkan tersebut dapat mencakup berbagai terapi untuk melawan pengaruh faktor psikologis stres, kecemasan dan depresi dan stres psikologis pada fungsi ‘akhir organ’:

Akhir Terapi organ juga mungkin melibatkan mengeksplorasi memicu diet, resep asupan serat benar seimbang untuk pasien dengan konstipasi, resep obat anti diarrheoral untuk frekuensi buang air besar, resep relaksan otot polos (spasmodics anti) ketika rasa sakit dianggap karena kejang otot dan ditargetkan khusus pembunuh rasa sakit ketika rasa sakit dianggap karena usus hipersensitif.
Ini harus dihargai bahwa akhir organ dan terapi pusat tidak alami eksklusif dan dapat digunakan secara berurutan dan kombinasi.

[1] https://narayihaa.wordpress.com/2012/10/08/the-brain-gut-axis-gangguan-perut-dan-otak/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: