Hikmah 3 : Kekuatan Takdir  

 

Sawâbiqul Himami Lâtahruku Aswâral Aqdâr

Tekad yang kuat tidak akan menembus dinding takdir

Kalam hikmah yang pertama menyentuh tentang hakikat amal yang membawa kepada pengertian tentang amal dhahir dan amal batin. Ia mengajak kita untuk memperhatikan amal batin (suasana hati) berhubung dengan amal dhahir yang kita lakukan. Sebagai manusia biasa, hati kita cenderung menaruh harapan dan meletakkan kebergantungan kepada jejak amal dhahir. Hikmah kedua menjelaskan mengenai amal dengan membuka pandangan kita kepada suasana asbab dan tajrid. Bersandar kepada amal terjadi karena seseorang melihat kepada jejak sebab dalam melahirkan akibat. Apabila terlepas dari imajinasi (wahm) sebab-akibat, barulah seseorang itu masuk kepada suasana tajrid.

Dua hikmah yang telah dibahas memberikan pendidikan yang halus kepada jiwa. Seseorang mendapat pemahaman bahwa bersandar kepada amal bukan jalan terbaik. Pengertian yang demikian melahirkan kecenderungan untuk pasrah kepada Allah swt. Sikap pasrah tanpa persiapan keruhanian dapat menggoncangkan iman. Agar orang yang semangatnya tinggi tidak keliru memilih jalan, dia harus diberi pengertian mengenai kedudukan asbab dan tajrid. Pemahaman tentang maqam asbab dan tajrid membuat seseorang mendidik jiwanya agar pasrah kepada Allah swt dengan cara yang benar dan selamat, bukan mengambil sikap menyerah begitu saja.

Hikmah ketiga ini mengajak kita merenung kepada kekuatan takdir yang memagari segala sesuatu. Ketika membincangkan tentang ahli tajrid, kita mendapati ahli tajrid meyakini kekuasaan Tuhan yang meletakkan jejak kepada suatu sebab dan menetapkan lahirnya akibat. Hal ini bermakna bahwa semua kejadian dan segala hukum mengenai suatu perkara berada di dalam kekuasaan Allah swt. Dia yang menguasai, mengatur, dan mengurus setiap makhluk-Nya. Urusan ketuhanan yang menguasai, mengatur, dan mengurus atau kekuasaan Allah swt itu dinamakan takdir. Tidak ada sesuatu yang tidak dikuasai, diatur, dan diurus oleh Allah swt. Oleh karena itu tidak ada sesuatu yang tidak termasuk di dalam takdir.

Manusia terhijab untuk meyakini takdir karena imajinasi (wahm) sebab-akibat. Kedirian seseorang menjadi alat sebab-akibat yang paling kuat menghijab pandangan hatinya dari keyakinan terhadap takdir. Keinginan, cita-cita, angan-angan, semangat, akal fikiran, dan usaha menutupi hati untuk meyakini kekuasaan, aturan, dan urusan Tuhan. Hijab kedirian itu jika disimpulkan menjadi hijab nafsu dan hijab akal. Nafsu yang melahirkan keinginan, cita-cita, angan-angan, dan semangat. Akal menjadi tentara nafsu, menimbang, merancang, dan mengadakan usaha dalam memuaskan apa yang diinginkan oleh nafsu. Jika nafsu menginginkan sesuatu yang baik, akal bergerak kepada kebaikan itu. Jika nafsu menginginkan sesuatu yang buruk, akal juga akan bergerak kepada keburukan. Dalam banyak perkara, akal tunduk kepada arahan nafsu, bukan menjadi penasihat nafsu. Oleh sebab itulah, ketika mau menundukkan nafsu tidak boleh meminta pertolongan akal.

Dalam proses memperoleh penyerahan secara total kepada Allah swt, terlebih dahulu akal dan nafsu perlu ditundukkan kepada kekuatan takdir. Akal harus mengakui kelemahannya di dalam membuka misteri takdir. Nafsu harus menerima hakikat kelemahan akal dalam perkara tersebut dan tunduk terhadap takdir. Bila nafsu dan akal sudah tunduk, barulah hati dapat beriman dengan sebenarnya kepada takdir.

Beriman kepada takdir seharusnya melahirkan sikap penyerahan yang disertai pengetahuan, bukan menyerah kepada kebodohan. Orang yang bodoh tentang hukum dan perjalanan takdir tidak dapat berserah diri dengan sebenarnya kepada Allah swt karena dibalik kebodohannya itulah nafsu akan menggunakan akal untuk menimbulkan keraguan terhadap Allah swt. Ruhani orang yang bodoh dengan hakikat takdir itu masih terikat dengan sifat-sifat kemanusiaan biasa. Dia masih melihat bahwa makhluk dapat mendatangkan efek terhadap kehidupannya. Tindakan orang lain dan kejadian-kejadian sering mengacaukan jiwanya. Keadaan yang demikian menyebabkan dia tidak dapat bertahan untuk terus berserah diri kepada Tuhan. Seandainya dia memahami tentang hukum dan peraturan Tuhan dalam masalah takdir, tentu dia dapat bertahan dengan keimanannya. Hadist berikut menjelaskan tentang takdir:

Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah, apakah iman?” Jawaban Rasulullah saw, “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya dan Hari Kemudian. Juga engkau beriman kepada Qadar yang baik atau buruk, manis dan pahitnya adalah dari Allah swt”.

Pandangan kita sering keliru dalam memandang takdir yang berlaku. Kita dikelirukan oleh istilah-istilah yang biasa kita dengar. Kita cenderung untuk merasakan seolah-olah Allah swt hanya menentukan yang fundamental saja, sementara yang partikular ditentukan-Nya kemudian, yaitu seolah-olah Dia Melihat dan Mengkaji perkara yang muncul, barulah Dia membuat keputusan. Kita merasa apabila berusaha dengan gigih untuk mengubah masalah yang mendasar yang telah Allah swt tetapkan dan Dia Melihat kegigihan kita itu dan bersimpati atasnya lalu Dia pun membuat ketentuan baru supaya terjadi takdir baru yang sesuai dengan perjuangan kita. Kita merasa kehendak dan keinginan kita berada di depan, sementara Kehendak dan Kekuasaan Allah swt mengikutinya di belakang. Anggapan dan perasaan yang demikian dapat membawa kepada kesesatan dan kedurhakaan yang besar karena kita meletakkan diri setaraf dengan Tuhan dan Tuhan kita letakkan setaraf hamba yang menuruti telunjuk kita. Untuk menjauhkan diri dari kesesatan dan kedurhakaan yang besar itu kita harus memahami soal sunnatullah atau ketentuan Allah swt. Segala sesuatu terjadi menurut ketentuan dan kekuasaan Allah swt. Tidak ada yang berlaku secara kebetulan. Ilmu Allah swt meliputi yang awal dan yang akhir, yang azali dan yang abadi. Apa yang didhahirkan dan apa yang terjadi telah ada pada Ilmu-Nya.

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS. Al-Hadid: 22).

Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS. Al-Mulk: 1).

Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk (QS. Al-A’la: 3).

Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, Maka bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan (QS. Al-Qamar: 12).

Semua perkara—atau apapun istilahnya—merupakan ketentuan Allah swt. Apa yang kita istilahkan dengan perjuangan, ikhtiar, doa, karamah, mukjizat, dan lain sebagainya semuanya adalah ketentuan Allah swt. takdir melingkupi semuanya dan tidak ada sebesar atom pun yang mampu menembus benteng takdir. Perjuangan dan ikhtiar tidak akan terjadi melainkan telah berada dalam takdir. Tidak berdoa orang yang berdoa melainkan berdoa itu adalah takdir yang sesuai dengan ketentuan Allah swt untuknya. Perkara yang didoakan juga tidak dapat lari dari ketentuan Allah swt. Tidak berlaku kekaramahan dan kemukjizatan melainkan keduanya adalah takdir yang tidak menyimpang dari kekuasaan Allah swt. Tidak satu hirup nafas atau satu denyutan nadi melainkan adalah takdir yang merealisasikan ketentuan Allah swt pada masa azali.

إِنَّا لِلهِ وَاِنَّ إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ

“Kami berasal dari Allah dan kepada Allah kami kembali.”

Semua perkara berasal dari Allah swt atau Dia yang menciptakan ketentuan tanpa campur tangan siapapun. Semua perkara kembali kepada-Nya karena Dia-lah yang memastikan hukum ketentuan-Nya terlaksana tanpa siapapun mampu menghindarinya.

Apabila sudah difahami bahwa usaha, ikhtiar, penyerahan diri dan semuanya adalah takdir yang sesuai ketentuan Allah swt, maka seseorang itu tidak lagi merasa bingung. Ikhtiar dan berserah diri sama-sama berada di dalam takdir. Jika seseorang menyadari maqam asbab atau tajrid maka dia hanya perlu bertindak sesuai dengan maqamnya. Ahli asbab perlu berusaha dengan gigih menurut keadaan hukum sebab-akibat. Apapun hasil yang muncul dari usahanya dapat diterima dengan senang hati karena dia tahu bahwa hasil itu adalah takdir Allah swt. Jika hasilnya baik, dia akan bersyukur karena dia tahu bahwa kebaikan itu berasal dari Allah swt. Karena jika tidak ada ketentuan yang baik untuknya, niscaya dia tidak mungkin mendapat kebaikan. Jika hasil yang buruk menimpanya, dia akan bersadar karena dia tahu apa yang menimpanya itu adalah sesuai ketentuan Allah bukan tunduk kepada usaha dan ikhtiarnya. Walaupun hasil yang sesuai dengan keinginan menimpanya, tetapi usaha yang dilakukannya tetap diberi pahala dan keberkahan oleh Allah swt jika dia bersabar dan ridha dengan takdir yang menimpanya itu.

Ahli tajrid hendaknya ridha dengan suasana kehidupannya dan tetap yakin dengan jaminan Allah swt. Dia tidak harus marah jika terjadi kekurangan rizki atau kesusahan menimpanya. Suasana kehidupannya adalah takdir yang sesuai dengan apa yang Allah swt tentukan. Rizki yang diterimanya juga merupakan ketentuan Allah swt. Jika terjadi kekurangan atau kesusahan maka ia juga merupakan takdir yang ditentukan Allah swt. Begitu juga jika terjadi keberkahan pada dirinya dia harus meyakini sebagai takdir yang menjadi bagiannya.

Persoalan takdir terkait erat dengan persoalan hakikat. Hakikat mengerucutkan pandangan dari yang kompleks kepada yang satu (substansi). Perhatikan satu biji benih kacang. Setelah di tanam, benih yang kecil itu akan tumbuh dengan sempurna, menghasilkan banyak buah kacang. Buah kacang tersebut dijadikan pula benih untuk menumbuhkan pokok-pokok kacang yang lain. Begitulah seterusnya sehingga kacang yang semula dari satu biji menjadi jutaan kacang. Kacang yang jutaan tidak ada bedanya dengan kacang yang pertama. Benih kacang yang pertama itu bukan saja mampu untuk menjadi sebatang pohon kacang, malah ia mampu menghasilkan semua generasi kacang sehingga hari kiamat. Ia hanya menghasilkan kacang, bukan benda yang lain.

Kajian kacang akan dapat menghasilkan bahwa semua kacang memunyai zat yang sama, yaitu zat kacang. Zat kacang pada benih pertama serupa dengan zat kacang pada yang ke sejuta, malah ia adalah zat yang sama atau yang satu. Zat kacang yang satu itulah yang “bergerak” pada semua kacang, memastikan bahwa kacang akan menjadi kacang, bukan menjadi benda yang lain. Walaupun diakui wujud zat kacang mengawali pada pertumbuhannya, namun zat kacang itu tidak mungkin ditemui pada semua kacang. Ia tidak berupa dan tidak mendiami semua kacang, tetapi ia tidak terpisah dengan semua kacang. Tanpanya tidak mungkin ada wujud kacang. Zat kacang ini dinamakan “Hakikat Kacang”. Ia adalah kekuasaan Tuhan yang menentukan dan mengawal seluruh pertumbuhan kacang dari awal sampai akhir, sampai hari kiamat. Hakikat Kacang inilah ketetapan Allah swt yang Dia tentukan untuk semua kejadian kacang. Apa saja yang dikuasai Hakikat Kacang tidak ada pilihan kecuali menjadi kacang.

Kekuasaan Allah swt yang menetapkan dan mengawal wujud keturunan manusia dinamakan “Hakikat Manusia” atau “Hakikat Insan”. Allah swt menciptakan manusia yang pertama, yaitu Adam as menurut Hakikat Insan yang ada pada sisi-Nya. Pada penciptaan Adam as telah disimpan potensi dan upaya untuk melahirkan semua keturunan manusia sampai hari kiamat. Manusia akan tetap melahirkan manusia karena hakikat yang menguasainya adalah Hakikat Manusia.

Pada Hakikat Manusia itu terdapat hakikat yang menguasai individu manusia dan hubungannya dengan segala kejadian alam yang lain. Seorang manusia yang berhakikatkan “Hakikat Nabi” pasti menjadi Nabi. Seorang manusia yang berhakikatkan “Hakikat Wali” pasti akan menjadi wali. Ketentuan Allah swt atau hakikat itu menguasai ruh yang berkaitan dengannya. Ruh bekerja memperlihatkan segala ketentuan yang ada dengan hakikat yang menguasainya. Kerja ruh adalah menjalankan ketentuan Allah swt, yaitu menyatakan hakikat yang ada pada sisi Allah swt.

Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: “Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit” (QS. Al-Isra: 85).

Kekuasaan Allah swt menguasai ruh dan hal itu memperlihatkan ketentuan-Nya sejak masa azali. Allah swt telah menentukan hakikat sesuatu sejak azali. Tidak ada perubahan pada ketentuan Allah swt. Segala sesuatu dikawal oleh hakikat pada sisi Allah swt. Untuk tidak bisa meminta menjadi kambing. Monyet tidak bisa meminta menjadi manusia. Manusia tidak bisa menjadi malaikat. Segala ketentuan telah diputuskan Allah swt.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: