Hikmah 13 : Hijab yang Menghalangi Perjalanan

 

 

Bagaimana hati akan dapat disinari ketika gambar-gambar alam maya melekat pada cerminnya, bagaimana mungkin berjalan kepada Allah swt ketika masih dibelenggu oleh syahwat, bagaimana akan masuk ke hadirat Allah swt ketika masih belum suci dari kelalaian, atau bagaimana mengharap untuk memahami rahasia-rahasia yang lembut ketika belum bertaubat dari dosa.

 

Hikmah 12 memberi penekanan tentang uzlah yaitu mengasingkan diri. Hikmah 13 ini memperingatkan bahwa uzlah tubuh saja tidak memberi kesan yang baik jika hati tidak ikut beruzlah. Walaupun tubuh beruzlah, hati masih dapat diganggu oleh empat perkara:

  1. Gambaran, ingatan, tarikan dan keinginan terhadap benda-benda seperti harta, perempuan, pangkat dan lain-lain.
  2. Kehendak atau syahwat yang mengarahkan perhatian kepada apa yang dikehendaki.
  3. Kelalaian yang menutup ingatan terhadap Allah swt.
  4. Dosa yang tidak dibasuh dengan taubat masih dapat mengotorkan hati.

Tubuh manusia tersusun dari elemen tanah, air, api, dan angin. Ia juga dimasuki unsur-unsur alam seperti tumbuhan, hewan, setan, dan malaikat. Tiap-tiap elemen dan unsur itu menarik hati kepada masing-masingnya. Tarik-menarik itu akan menimbulkan kekacauan di dalam hati. Kekacauan itu pula menyebabkan hati menjadi keruh. Hati yang keruh tidak dapat menerima nur yang melahirkan iman dan tauhid. Mengobati kekacauan hati adalah penting untuk membukakan penerimaan maklumat dari Alam Malakut. Hati yang kacau dapat distabilkan dengan cara menundukkan semua elemen dan unsur tadi kepada syariat. Syariat menjadi tali yang dapat mengikat musuh-musuh yang mencoba menawan hati. Penting sekali bagi seorang murid yang menjalani jalan keruhanian menjadikan syariat sebagai payung yang mengharmonikan perjalanan elemen-elemen dan daya-daya yang menyerap ke dalam tubuh agar cermin hatinya bebas dari gambar-gambar alam maya. Bila cermin hati sudah bebas dari gambar-gambar dan tarikan tersebut, hati dapat menghadap ke hadirat Ilahi.

Selain tarikan benda-benda alam, hati dapat tunduk kepada syahwat. Syahwat bukan saja rangsangan hawa nafsu yang rendah. Semua bentuk kehendak diri sendiri yang berlawanan dengan kehendak Allah swt adalah syahwat. Kerja syahwat adalah mengajak manusia supaya lari dari hukum dan peraturan Allah swt serta membangkang takdir Ilahi. Syahwat membuat manusia tidak ridha dengan keputusan Allah swt. Seseorang yang mau menghadap Allah swt perlu melepaskan dirinya dari belenggu syahwat dan kehendak diri sendiri, lalu masuk ke dalam penyerahan diri kepada Allah swt dan ridha dengan takdir-Nya.

Perkara ketiga yang dimunculkan oleh Hikmat 13 ini ialah kelalaian yang diistilahkan sebagai junub batin. Orang yang berjunub adalah tidak suci dan dilarang melakukan ibadah atau memasuki masjid. Orang yang berjunub batin pun akan tercegah dari memasuki hadirat Ilahi. Orang yang di dalam junub batin yaitu lalai hati, kedudukannya seperti orang yang berjunub dhahir, di mana alam ibadahnya tidak diterima. Allah swt mengancam untuk mencampakkan orang yang bersembahyang dengan lalai (dalam keadaan berjunub batin) ke dalam neraka wail. Begitu hebat sekali ancaman Allah swt kepada orang yang menghadap-Nya dengan hati yang lalai.

Mengapa begitu hebat sekali ancaman Allah swt kepada orang yang lalai? Bayangkati hati itu berupa dan berbentuk seperti rupa dan bentuk kita yang dhahir. Hati yang khusyuk adalah ibarat orang yang menghadap Allah swt dengan mukanya, duduk dengan tertib, berbicara dengan sopan santun dan tidak berani mengangkat kepala di hadapan Maharaja Yang Maha Agung. Hati yang lalai ibarat orang yang menghadap dengan punggungnya, duduk tidak beradab, bertutur kata tidak tentu ujung pangkalnya dan kelakuannya sangat tidak sopan. Perbuatan demikian adalah satu penghinaan terhadap martabat ketuhanan Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi. Jika raja di dunia murka dengan perbuatan yang demikian, maka Tuhan lebih berhak melemparkan kemurkaan-Nya kepada hamba yang tidak beradab itu dan layak jika si hamba yang demikian dicampakkan ke dalam neraka wail. Hanya hamba yang khusyuk, yang tahu sopan santun di hadapan Tuhannya dan mengagungkan Tuhannya yang layak masuk ke hadirat-Nya, sementara hamba yang lalai, tidak tahu sopan santun tidak layak mendekati-Nya.

Perkara yang keempat adalah dosa-dosa yang belum ditebus dengan taubat. Ia menghalangi seseorang dari memahami rahasia-rahasia yang lembut. Pintu kepada kemahakuasaan Allah swt yang tersembunyi adalah taubat! Orang yang telah menyucikan hatinya hanya mampu berdiri di luar pintu Rahasia Allah swt selagi dia belum bertaubat, sama seperti orang yang mati syahid yang belum menjelaskan utangnya terpaksa menunggu di luar surga. Jika dia mau masuk ke dalam kemahakuasaan Allah swt yang tersembunyi yang mengandung rahasia yang lembut maka wajib bertaubat. Taubat itu sendiri merupakan rahasia yang lembut. Orang yang tidak memahami rahasia taubat tidak akan mengerti mengapa Rasulullah saw tidak pernah melakukan dosa masih juga memohon ampunan, sedangkan sekalipun Baginda saw melakukan dosa semuanya diampunkan Allah swt. Apakah Rasulullah saw tidak yakin bahwa Allah swt mengampuni semua dosa-dosa dan kesalahan-kesalahannya (jika ada)?

Maksud taubat ialah kembali, yaitu kembali kepada Allah swt. Orang yang melakukan dosa tercampak jauh dari Allah swt. Walaupun orang ini sudah berhenti melakukan dosa, malah sudah melakukan amal ibadah dengan banyaknya namun tanpa taubat dia tetap berjauhan dengan Allah swt. Dia masuk ke dalam golongan hamba yang melakukan amal salih, tetapi yang berjauhan bukan berdekatan dengan Allah swt. Taubat yang lebih lembut ialah penghayatan terhadap kalimat “laa haula wa laa quwwata illa billah; tiada daya dan upaya melainkan anugerah Allah swt” dan “inna lillah wa inna ilaihi rajiuun; kami datang dari Allah swt dan kepada-Nya kami kembali”.

Segala sesuatu datangnya dari Allah swt, baik kehendak maupun perbuatan kita. Sumber yang mendatangkan segala sesuatu adalah Uluhiyah (Tuhan) dan yang menerimanya adalah ubudiyah (hamba). Apa saja yang dari Uluhiyah adalah sempurna dan apa saja yang datang dari ubudiyah adalah tidak sempurna. Uluhiyah membekalkan kesempurnaan, tetapi ubudiyah tidak dapat melaksanakan kesempurnaan itu. Jadi, ubudiyah berkewajiban mengembalikan kesempurnaan itu kepada Uluhiyah dengan memohon ampunan dan bertaubat sebagai penyesalan kesalahan. Segala urusan dikembalikan kepada Allah swt. Semakin tinggi ma’rifat seorang hamba semakin kuat ubudiyahnya dan semakin kerap dia memohon ampunan dari Allah swt, mengembalikan setiap urusan kepada Allah swt, sumber datangnya segala urusan.

Apabila hamba mengembalikan urusannya kepada Allah swt, maka Allah swt sendiri yang akan mengajarkan ilmu-Nya yang lembut agar kehendak hamba itu bersesuaian dengan Iradat Allah swt, kuasa hamba sesuai dengan Kudrat Allah swt, hidup hamba sesuai dengan Hayat Allah swt dan pengetahuan hamba sesuai dengan Ilmu Allah swt, dengan demikian jadilah hamba mendengar karena Sama’ Allah swt, melihat karena Bashar Allah swt, dan berkata-kata karena Kalam Allah swt. Apabila semuanya berkumpul pada seorang hamba maka jadilah hamba itu Insan Sirullah (Rahasia Allah swt).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: