Hikmah 26 : Menunda Amal: Tanda Kebodohan

 

Menunda amal kebaikan karena menantikan kesempatan yang lebih baik adalah tanda kebodohan.

 

Hikmah yang lalu memaparkan kebodohan yang timbul karena kejahilan tentang kekuasaan Tuhan. Hikmah 26 ini memaparkan kebodohan yang timbul lantaran kelalaian. Orang yang mabuk dibuai oleh ombak kelalaian tidak dapat melihat bahwa pada setiap detik pintu rahmat Allah swt senantiasa terbuka dan Allah swt senantiasa menghadap kepada hamba-hamba-Nya. Setiap saat adalah kesempatan dan tidak ada kesempatan yang lebih baik daripada kesempatan yang memperlihatkan dirinya kepada kita. Kesempatan yang paling baik adalah kesempatan yang kita sedang berada di dalamnya.

Kelalaian adalah buah dari panjang angan-angan. Panjang angan-angan datangnya dari kurang mengingat kepada mati. Jadi, obat yang paling mujarab untuk mengobati penyakit kelalaian ialah memperbanyak ingatan kepada mati. Apabila ingatan kepada mati sudah kuat, maka seseorang itu tidak akan mengabaikan kesempatan yang ada baginya untuk melakukan amal salih.

Hikmah 26 jika ditafsirkan secara umum menganjurkan agar segala amal kebaikan hendaklah dilakukan dengan segera tanpa menangguh-nangguhkan. Jika diperhatikan Kalam-kalam Hikmah yang lalu dapat difahami bahwa Hikmah yang dipaparkan terkait dengan membimbing seseorang pada jalan keruhanian. Amal yang ditekankan adalah amal yang berhubungan dengan pembentukan ruhani. Hikmah 27 nanti akan membahas tentang suasana keruhanian. Jadi, jika ditafsirkan secara khusus Hikmah 26 ini menganjurkan untuk bersegera melakukan amal-amal yang perlu bagi menyediakan hati untuk menerima kedatangan hal-hal dan seterusnya. Amal yang berkenaan ialah latihan keruhanian menurut tarikat tasawuf. Latihan yang demikian harus disegerakan ketika mendapat kesempatan, tanpa menanti datangnya kesempatan yang lain yang diharapkan lebih baik dan lebih sesuai.

Ketika menjalani latihan keruhanian secara tarikat tasawuf, kehidupan hanya dipenuhi dengan amal ibadah seperti shalat, puasa, berzikir dan lain-lain. Semua amalan tersebut dilakukan bukan bertujuan untuk mengejar surga, tetapi semata-mata untuk mendapatkan keridhaan Allah swt dan mendekatkan diri kepada-Nya. Amalan seperti inilah yang membuka pintu hati untuk berpeluang mengalami hal-hal yang membawa kepada hasil yang diharapkan yaitu ma’rifatullah. Siapa yang benar-benar ingin mencapai keridhaan Allah swt dan berhasrat untuk menghampiri-Nya serta mengenali-Nya hendaklah jangan menangguhkannya. Tidak usah dicari kesempatan yang lebih baik. Jangan menjadikan masalahan keduniaan sebagai alasan untuk menunda amalan mencari keridhaan Allah swt. Bulatkan tekad, kuatkan azam, masuklah ke dalam golongan ahli Allah swt yang beramal dan bekerja semata-mata karena Allah swt. Benamkan diri sepenuhnya ke dalam suasana ‘Allah’ semata-mata dan tinggalkan seketika apa saja yang selain Allah swt. Anggaplah latihan yang demikian seperti keadaan ketika menunaikan ibadah haji di tanah suci. Selama di tanah suci, segala-galanya ditinggalkan di tanah airnya sendiri. Di hadapan Baitullah seorang hamba menghadap dengan sepenuh jiwa raga kepada Tuhannya. Dia tidak mengkuatirkan keluarga, harta dan pekerjaan yang ditinggalkan karena semuanya sudah diserahkannya kepada penjagaan Allah swt. Allah swt adalah Pemegang amanah yang paling baik. Dia menjaga dengan sebaik-baiknya apa yang diserahkan kepada-Nya. Syarat penyerahan itu adalah keyakinan.

Perlu dinyatakan bahwa latihan keruhanian secara tarikat tasawuf bukanlah satu-satunya jalan kepada Allah swt. Tujuan utama latihan secara tasawuf adalah untuk mendapatkan ikhlas dan penyerahan yang menyeluruh kepada Allah swt. Ikhlas dan penyerahan dapat juga diperoleh walaupun tidak menjalani tarikat tasawuf, tetapi tanpa latihan khusus pembentukan hati kepada suasana yang demikian sangat sukar dilakukan.

Jalan yang tidak ada latihan khusus adalah jalan kehidupan harian. Pada jalan ini orang yang beriman perlu bekerja kuat untuk menjalankan peraturan Islam dan mempertahankan iman. Pancaroba dalam kehidupan harian sangat banyak  dan orang yang beriman perlu berjalan dicelah-celahnya, menjaga diri agar tidak tertawan dengan penggoda. Kewaspadaan dalam kehidupan harian itu adalah sifat takwa. Orang yang bertakwa adalah orang yang mulia pada sisi Allah swt.

Walaupun jalan mana yang dilalui hasil akhirnya adalah memperoleh ikhlas, berserah diri dan bertakwa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: