Hikmah 31 : Mendekati Allah swt

 

 

Jangan menantikan selesainya segala halangan, karena yang demikian akan menghalangi kamu dari mendekati Allah swt melalui sesuatu yang engkau ditempatkan di dalamnya.

 

Setelah merenung Hikmah yang lalu kita dapat melihat dan menghayati persoalan Qadar secara terperinci hingga kepada batas hembusan satu nafas. Pada setiap ketika kita didudukkan di dalam medan Qadar. Qadar membawa kita kepada, suasana, rupa bentuk, nama-nama dan lain-lain. Masing-masing menarik hati kita kepadanya. Apa saja yang bertindak menarik hati menjadi penghalang untuk mendekati Allah swt. Oleh sebab perjalanan Qadar tidak akan berhenti maka keberadaan halangan-halangan juga tidak akan habis. Jika kita lemas di dalam larutan Qadar, pandangan kita disilaukan oleh warna-warnanya dan kita dimabukkan oleh gelombangnya, maka selama-lamanya kita akan terhijab dari Allah swt. Tujuan beriman kepada Qada dan Qadar bukanlah untuk menjadikan kita lemah di dalam lautannya. Kita hendaklah mengetahui riak ombak dan tiupan anginnya sambil perhatian kita tertuju kepada daratan, bukan membiarkan diri kita terkubur di dasar laut. Ketika menghadapi ombak Qadar, kita hendaklah menjaga perahu yang kita naiki. Perahu tersebut dapat berupa perahu asbab dan perahu tajrid. Jika kita menaiki perahu asbab, kita perlu berdayung dan menjaga kemudinya mengikuti perjalanan sebab akibat. Jika kita berada dalam perahu tajrid, kita masih perlu mengawal kemudinya agar tidak lari dari daratan yang dituju.

Setiap Qadar yang sampai akan membawa kita memasuki ruang dan waktu. Pada setiap ruang dan waktu yang kita ditempatkan itu, ada kewajiban yang perlu kita laksanakan. Ia merupakan amanah yang dipertaruhkan oleh Allah swt kepada kita. Qadar adalah utusan yang mengajak kita memperhatikan perbuatan Allah swt, sifat-sifat-Nya, nama-nama-Nya dan Zat-Nya Yang Maha Suci, Maha Mulia dan Maha Tinggi. Tidak ada satu Qadar, tidak ada satu ruang dan waktu yang padanya tidak terdapat ayat-ayat atau tanda-tanda yang menceritakan tentang Allah swt. Kegagalan untuk melihat kepada ayat-ayat Allah swt itu adalah karena perhatian hanya tertumpu kepada makhluk dan kejadian maka makhluk dan kejadian mempunyai kesan terhadap sesuatu dan dia lupa kepada kekuasaan Allah swt yang mengawal segala sesuatu itu. Kewajiban si hamba ialah menghapuskan hijab tersebut agar Qadar, ruang, dan waktu yang berada di dalamnya, dia tetap melihat kepada ayat-ayat Allah swt. Hatinya tidak putus bergantung kepada Allah swt. Ingatannya tidak luput dari mengingat Allah swt. Mata hatinya tidak lepas dari memperhatikan sesuatu tentang Allah swt. Ingatan dan perasaannya senantiasa bersama Allah swt. Setiap Qadar, ruang dan waktu adalah kesempatan baginya untuk mendekati Allah swt.

Hati kita dapat mengarah kepada dunia atau akhirat ketika menerima kedatangan suatu Qadar. Biasanya tarikan kepada dunia, kita anggap sebagai halangan sementara tarikan kepada akhirat kita anggap sebagai jalan yang akan menyampaikan kepada Allah swt. Sebenarnya, keduanya adalah halangan karena keduanya adalah alam atau makhluk yang Tuhan ciptakan. Surga, bidadari, Kursi dan Arasy adalah makhluk yang Tuhan ciptakan. Alam ini semuanya adalah gelap gulita, yang meneranginya adalah karena wujud Allah swt padanya (Hikmah 14). Alam adalah cermin yang memperlihatkan cahaya Allah swt yang padanya ada wujud Allah swt. Oleh karena itu, walau di dalam Qadar apapun kita berada, kesempatan untuk melihat Allah swt dan mendekat kepada-Nya tetap ada. Kesempatan ini adalah hak Allah swt terhadap hamba-Nya. Hak ini wajib ditunaikan pada waktu itu juga, tidak boleh ditunda kepada waktu yang lain, karena pada waktu yang lain ada pula hak Allah swt yang lain.

Setengah ulama memfatwakan bahwa sembahyang yang di luar dari waktunya boleh dilakukan secara qadha. Sekalipun begitu, tetapi hak Allah swt yang telah terlepas tidak boleh diqadha. Hamba yang benar-benar menyempurnakan kewajibannya terhadap hak Allah swt ialah yang mata hatinya tidak berkedip memang kepada Allah swt meskipun didudukkan dalam suasana atau Qadar apapun. Setiap ruang dan waktu yang dimasukinya adalah jembatan yang menghubungkan dengan Tuhannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: