Hikmah 34 : Awal dan Akhir

 

 

Tanda akan berjaya pada akhir perjuangan adalah menyerah diri kepada Allah swt pada awal perjuangan. Barangsiapa cemerlang permulaannya, akan cemerlanglah diakhirnya.

 

 

Hikmah 34 merumuskan intisari kesemua Kalam Hikmah yang diuraikan terlebih dahulu. Berserah diri kepada Allah swt, bertawakal kepada-Nya dan mengembalikan segala urusan kepada-Nya adalah jalan untuk mendekati Allah swt. Kesemua ini boleh diibaratkan sebagai kendaraan, sementara ilmu dan amal diibaratkan sebagai roda. Siapa yang hanya membina roda, tetapi tidak membina kendaraan maka dia akan memikul roda bukan menaiki kendaraannya. Dia akan keletihan dan berhenti di tengah jalan sambil asyik bermain-main dengan roda seperti kanak-kanak.

Persoalan berserah diri sering menimbulkan kekeliruan kepada orang-orang yang larut membincangkan mengenainya. Suasana hati dan derajat akal mengeluarkan berbagai uraian tentang berserah diri kepada Allah swt. Ada orang beranggapan berserah diri adalah berpeluk tubuh, tidak melakukan apa-apa. Ada pula yang berpendapat bahwa berserah diri itu hidup dalam ibadah semata-mata, tidak mempedulikan kehidupan harian. Banyak lagi anggapan dan pendapat yang dikemukakan dalam menjelaskannya. Sifat orang yang berserah diri adalah merujuk sesuatu perkara yang diperselisihkan kepada Allah swt. Mereka tidak fanatik memegang suatu faham yang diperoleh melalui fikirannya atau pendapat orang lain. Mereka bersedia melepaskan faham dan pendapat pribadi sekiranya ia berhadapan dengan peraturan dan hukum Tuhan. Sewaktu hidup di dalam dunia ini mereka mengembalikan segala urusan kepada Allah swt karena mereka yakin bahwa diri mereka dan urusannya akan kembali kepada Allah swt di akhirat kelak. Perjumpaan dengan Allah swt di akhirat menguasai tindakan mereka sewaktu hidup di dunia ini.

Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah. (yang mempunyai sifat-sifat demikian) Itulah Allah Tuhanku. Kepada-Nya aku bertawakkal dan kepada-Nya aku kembali (QS. Asy-Syura:10).

Orang yang berserah diri kepada Allah swt mengembalikan urusan mereka kepada-Nya, meyakini bahwa golongan manusia yang benar-benar mengerti kehendak Allah swt adalah golongan nabi-nabi. Oleh sebab itu pagangan dan tindakan para nabi dijadikan sandaran dalam membentuk pegangan pribadi dan juga dalam melakukan tindakan.

Dan Ya’qub berkata: “Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; Namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari pada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri” (QS. Yusuf:67).

Ayat di atas menceritakan sifat berserah diri yang ada pada Nabi Yakub as. Beliau menasihatkan anak-anaknya yang sebelas orang itu memasuki kota Mesir melalui pintu-pintu yang berlainan. Ia menunjukkan Nabi Yakub as mengakui tuntutan berikhtiar sebagaimana kedudukan mereka sebagai manusia. Walaupun begtu Nabi Yakub as mengingatkan pula anak-anaknya bahwa mengikuti nasihat beliau bukanlah jaminan anak-anaknya akan selamat dan mendapatkan apa yang mereka cari. Ikhtiar pada dhahir mesti disertai dengan iman pada batin. Orang yang beriman meyakini bahwa Allah swt saja yang mempunyai kuasa penentuan. Oleh karena itu orang yang beriman dituntut agar berserah diri kepada Allah swt saja, tidak berserah diri kepada yang lain, sekalipun yang lain itu adalah malaikat, wali-wali ataupun ayat-ayat Allah swt. Allah swt yang menguasai malaikat, wali-wali dan ayat-ayat-Nya. Penyerahan diri kepada Allah swt bukan kepada sesuatu yang dinisbahkan kepada-Nya. Perkara ini dinyatakan oleh Nabi Hud as sebagaimana yang diceritakan oleh ayat berikut:

Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus” (QS. Hud:56).

Tuhan berada di atas jalan yang lurus. Tuhan tidak mengantuk, tidak lalai, tidak kliru dan tidak melakukan kesalahan. Apa saja yang Tuhan lakukan adalah benar dan tepat. Tuhan berbuat sesuatu atas dasar ketuhanan dan dengan sifat ketuhanan, tidak ada pilih kasih. Dia adalah Tuhan Yang Maha Adil. Pekerjaan-Nya adalah adil. Dia adalah Tuhan Yang Maha Mengerti dan Maha Bijaksana. Pekerjaan-Nya adalah sempurna, teratur dan rapi. Dia adalah Tuhan Pemurah dan Penyayang. Pekerjaan-Nya tidak ada yang zalim. Tuhan yang memiliki sifat-sifat ketuhanan yang baik-baik itu mengadakan peraturan untuk diikuti. Mengikuti peraturan-Nya itulah penyerahan kepada-Nya. Nabi-nabi dan orang-orang yang beriman diperintahkan supaya menyampaikan kepada umat manusia apa yang datang dari Allah swt. Pekerjaan manusia adalah menyampaikan. Jika apa yang disampaikan itu tidak diterima, maka serahkan kepada Allah swt. Dia memiliki Arasy yang besar, yang memagari sekalian makhluk. Tidak ada makhluk yang dapat menembus Arasy-Nya. Aras-Nya adalah pagar Qadar. Apa yang Dia ciptakan dan tentukan untuk makhluk-Nya dipagari oleh Arasy.

Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung” (QS. At-Taubah:129).

Tauhid adalah kesudahan pencapaian. Pada peringkat ini, syirik tidak ada lagi walaupun sebesar zarah. Dalam proses tauhid perlu ada pengasingan dan perbedaan antara Tuhan dengan yang selain Tuhan. Tidak boleh diadakan sekutu bagi Tuhan. Tidak boleh meletakkan anasir alam, amal, doa dan sebagainya pada kedudukan yang dapat menyebabkan timbulnya anggapan yang selain Tuhan itu mampu mengalahkan kekuasaan Tuhan. Tidak boleh terjadi ketaatan dan penyayangan terhadap sesuatu melebihi ketaatan dan penyayangan terhadap Allah swt.

Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik (QS. At-Taubah:24).

Perlu difahamkan bahwa sekalipun hamba telah berserah diri kepada Allah swt, tanpa Allah swt menerimanya tidak mungkin tercapai tujuannya. Penerimaan Allah swt yang benar-benar membawa hamba kepada-Nya. Tanda Allah swt menerima hamba-Nya ialah terdapat kecemerlangannya di masa permulaan. Berlaku perubahan-perubahan keadaan diri si hamba itu. Sifat buruknya terbuang dan sifat terpuji menghiasinya. Dia menjadi gemar beribadah dan berbuat taat. Semakin jauh perjalanannya semakin cemerlang hatinya. Dia diterangi oleh Nur Ilahi dan dikaruniakan ilmu laduni, yaitu ilmu mengenal Allah swt. Nur makrifat menyinarinya, maka kenallah dia pada Tuhannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: