Jalan 1 : Jalan Kebaikan – Mengendalikan Hasrat

“Baik menurut Akal Kita Belum Tentu Baik Menurut Tuhan,  Kembalilah pada hati, karena Tuhan bersemayam di dalamNya, Itulah Kebaikan yang mengendalikan hasrat.

 

Kematangan emosional, psikologis, bahkan spiritualitas berawal dari unit keluarga sebagai miniatur kehidupan. Dari keluarga ini melahirkan berbagai persepsi mendasar tentang kebaikan bahkan penyakit mental-akhlak. Keluarga membangun persepsi yang terinderawi akan seluruh perilaku yang dibangun bagi anak-anaknya. Sesuatu yang terindera itu dalam banyak hal merupakan perwujudan dari yang tidak nampak yakni suasana batin yang mendasarinya. Oleh karenanya setiap keluarga harus memerhatikan dan menjaga suasana batinnya senantiasa dalam kondisi terbaik, sehingga menampilkan kondisi lahiriah yang terbaik pula. Karenanya melalui panca indera, anak mencerap persepesi secara harfiah dan mengakibatkannya menerima segala sesuatu yang tampil dari luarnya. Inilah yang harus diperhatikan secara seksama. Bangunan kekokohan pendidikan keluarga membentuk kekuatan yang saling menopang, jika akhlak yang dibangun keluarga baik, maka kedamaian dan ketenangan menghampirinya, sebaliknya jika akhlak yang di tanamkan keluarga tidak baik akan berakibat fatal di masa depan, yang melahirkan hasrat-hasrat yang sulit dikendalikan. Setiap perilaku keluarga kelak akan menjadi arketif (pola mendasar) dan tertulis secara genetik bagi perilaku keturunannya di masa depan, dan kita pun menjadi bagian tak terpisahkan dari arketif-arketif  keluarga-keluarga pendahulu yang ditanamkan dan tertuliskan secara genetik sehingga memberikan pijakan mendasar tentang segala hal tentang kebaikan dan kejahatan, disadari ataupun tidak. Perkembangan dan pertumbuhan anak itu bergantung pada kedua orang tuanya sebagai poros keluarga, serta kemampuan dirinya untuk mengendalikan hasrat dirinya sehingga tetap berada dalam fitrah-kesucian yang menuntunnya pada kebaikan. Inilah yang di sitir Nabi dalam sabdanya, “Setiap manusia dilahirkan ibunya di atas fitrah. Kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”  Menghormati, mendoakan penuh damai bagi keluarga biologis menjadi satu kekuatan yang pantas bagi kita, tidak dapat di tawar lagi, karena keluarga kita adalah hasil pilihan ilahiah dan suci, yang jika kita menemukan kebaikan dari kedua orang tua, kita menemui sang ilahiah, Yang Maha Baik di dunia ini. Dari sinilah kita memulai perjalanan kehidupan sesungguhnya akan kebaikan dunia dan kebaikan perjalanan kelak di akhirat.

Kenapa kebaikan yang berawal dari keluarga menjadi fondasi mendasar bagi kehidupan? Kedua orang tua sebagai poros keluarga mendapat perhatian dan perlakuan khusus dalam Islam. Allah menegaskan dalam Al-Quran, setelah memberi perintah menyembah Allah Swt dan larangan menyekutukan-Nya, juga memerintahkan untuk berbuat baik kepada kedua orang tua. Allah swt dalam surat Cintanya Al-Quranul Karim, berfirman: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua” (An-Nisaa’: 36).  “Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” (Surat Al-An’am ayat 151). “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” (Al-Israa’:)

Sesungguhnya, setiap kebaikan akan kembali kepada dirinya sendiri bukan untuk orang lain. Sehingga penegasan Tuhan adalah setiap anak hendaknya berbuat terbaik kepada orang tua. Karena sesungguhnya setiap anak kelak menjadi orang tua, yang menjadi poros keluarga. Dalam pengertian lain dapat dinyatakan bahwa orang tua harus menjadi teladan bagi anak-anaknya, sehingga anak-anaknya menjadi layak untuk menghormati dan berbuat baik kepada kita sebagai orang tua, begitulah tatanan yang diteladankan dan di contohkan oleh kedua orang tua sebagai poros keluarga. Jangan pernah berkata kita tidak dihormati anak, selamat kita pun tidak pernah menghormati kedua orang tua kita terdahulu, begitulah kehidupan berlanjut. Tatanan kehidupan keluarga inilah yang menjadi parameter kebaikan dalam membentuk akhlak serta pengendalian ego, hasrat-hasrat ketidakbaikan bahkan hasrat-hasrat lahiriah dalam segala bentuknya yang lebih luas di kehidupan.

Kenapa kebaikan keluarga menjadi satu-satunya alasan bagi pengendalian hasrat segala hal. Sudah dipahami secara menyeluruh, hasrat itu terkait dengan berbagai hal keinginan, keberlimpahan, kekuatan, kemewahan, kecerdasan, bahkan takhta serta jabatan. Hasrat ini yang kemudian membentuk sikap mental seseorang di masa depan. Apakah hasrat itu tidak penting? Apakah hasrat itu harus dibunuh? Hasrat itu tetap penting dan tidak mesti dibunuh, akan tetapi hasrat itu harus di dewasakan dan dikendalikan, salah satunya melalui pembimbingan dengan senantiasa melakukan kebaikan. Jika hasrat ini dikendalikan melalui kebaikan, maka akan membentuk nilai-nilai positif bagi kehidupan yang sesungguhnya. Karena, setiap kebaikan pastilah terhubung dengan Tuhan, Sang Maha Baik. Karena Tuhan telah mengajarkan perbuatan terbaiknya bagi setiap manusia. Wa ahsin kamâ ahasanallâhu ilaika, berbuat terbaik lah [sebagaimana, karena Allah) telah berbuat terbaik kepadamu (QS. 28 :77). Ini menunjukan bahwa setiap pilihan yang kita ambil dan setiap kepercayaan yang dianut dalam keluarga memberi pengaruh pada kehidupan seutuhnya hingga sampai pada Tuhan. Begitulah Tuhan mendesain kebaikan, yang tidak jauh dari pandangan keseharian kita bahkan tertanam secara genetik pada diri kita yang terhubung dengan keluarga, hingga keluarga pendahulu kita seterusnya. Menata kebaikan-kebaikan keluarga melaui penghormatan-penghormatan ketakdziman serta doa, menghantarkan kita pada kebaikan-kebaikan Tuhan itu sendiri. Keluarga menjadi simbol keterhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, Ridhallahu fi ridhal walidain. Keridlaan Tuhan itu terletak pada keridlaan kedua orang tua kita secara biologis. Kita semua adalah bagian dari komunitas spiiritual tunggal yang dibentuk dalam keluarga, yang menghubungkannya dengan sumber spiritual, Tuhan Yang Maha Esa.

Tuhan satu-satunya sumber kebaikan dan sumber kekuatan spiritual yang tidak bisa tergantikan dengan apapun. Kebaikan sebagai pengendali setiap hasrat adalah nilai positif dari cara fikir yang di tanamkan Tuhan melalui keluarga ini adalah menanamkan keyakinan yang utuh, yang melahirkan loyalitas, kehormatan dan keadilan dalam membangun satu KESATUAN yang utuh.  Namun di sadari ataupun tidak ada Ekses negatif dari kesatuan adari arketif keluarga ini akan melahirkan fanatisme. Artinya pembenaran yang ditanamkan keluarga seolah melampaui segalanya. Oleh karena itu, kekuatan yang diwariskan keluarga harus dikawal melalui kebaikan sehingga meruntuhkan fanatisme itu sendiri, begitulah cara pandang spriritual terjadi dalam mengendalikan hasrat. Kekuatan spiritual tumbuh ketika kita mampu melihat melampaui kontradiksi yang inheren dalam ajaran keluarga dan mengejar kebenaran yang lebih dalam. Setiap kali kita bergeser ke arah kewaspadaan simbolis dibalik segala sesuatu, kita telah memberi dampak yang positif terhadap sistem energi, sistem anatomi tubuh biologis kita. Kita juga memberi sumbangsih berupa energi positif ke tubuh kehidupan kolektif yakni keluarga-keluarga yang terbentuk dalam kehidupan secara keseluruhan. Bila cara pandang spiritual ini terjadi berarti kita mengalirkan kebaikan yang terhubung langsung kepada Tuhan, yang merahmati seluruh kehidupan.  Karena balasan dari tindakan terbaik adalah kebaikan itu sendiri. Hal jazâ’ul ihsaani illal ihsân, tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (QS. Ar-Rohman : 60). menunjukan bahwa kebaikan itu berarti mengendalikan seluruh hasrat kita sehingga sesuai dengan kebaikan universal yang diajarkanTuhan itu sendiri. Kebaikan akan melahirkan kebaikan dan mengendalikan hasrat – ego ketidak baikan.

Kecerdasan, kekuatan, keberhasilan, kesatuan, fanatisme adalah ego terhebat tak terbantahkan yang terbuktikan dalam perwujudan-perwujudan lahiriah yang dianugerahkan Tuhan. Namun terkadang, argumentasi akal tentang kebaikan dalam mengendalikan ego menjadi alasan mendasar yang membentengi secara kukuh tersembunyinya hasrat – ego atau nafsu lebih dalam. Menundukkannya bukanlah pekerjaan mudah. Seseorang perlu kembali kepada kebaikan dari hati terdalamnya, bukan pada akalnya. Karena kebaikan menurut akal kita belum tentu baik menurut Tuhan. Inilah yang di sitir oleh Allah swt, Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (Q.S. Al Baqarah:216). Meniadakan seluruh ego dirimu ke kedalaman hingga tak nampak lagi, maka hadirlah buah kesejatianmu dalam kehalusan akhlak dan perilaku penuh keikhlasan buah dari kebaikan Tuhan yang bersemayam di dalam setiap hati suci. Kelak menuai buah apa yang ditanam dari kedalaman diri, yang diperoleh dari pembelajaran hidup dalam keluarga. Setiap diri beresonansi dengan kedalaman kekuatan yang dibentuk dari keluarga-keluarga  dalam kehidupannya.

Doa Kebaikan Penyejuk Kehidupan

Menghadirkan dan memelihara ego, sesungguhnya sedang menganiaya dirinya sendiri. Bahkan Nabi Adam As pun, mengakui kelalaian dirinya dalam mengendalikan hasrat sehingga memohon ampunan kepada Tuhan seraya Berdoa, Rabbanâ zholamnâ anfusanâ waillam tagfirlanâ watarhamnâ lanakûnanna minal khâsirîn. “Ya Tuhan kami, kami telah menzhalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi” (Qs. Al-A’raf [7] : 23). Kesadaran akan melalaikan titah yang diperintahkan Tuhan, sehingga dirinya lalai dalam mengendalikan ego inilah yang harus senantiasa di ingat dan di pupuk kembali melalui kebaikan dan doa kebaikan untuk dirinya dan keluarganya. Terdapat beberapa doa baik bagi setiap diri dan keluarga yang layak untuk di baca;

 

Robbighfirlii Waliwaalidayya, Ya Alloh ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku (QS. Nuh : 28), robbir hamhumâ kamâ robbayânii shaghiirâ, serta kasihilah mereka berdua seperti mereka mengasihiku sewaktu kecil. (QS. Al-Isra’ : 24). “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya (kedua orang tua), sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (QS. Al-isra :24),

 

Doanya Nabi Zakariyya ‘alaihissalam ketika menginginkan anak:

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

(Rabbi Habli min ladunka dzurriyyatan thayyibatan innaka sami’ud du’a)

Artinya: “Wahai Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”. Lihat Al Quran Surat Ali Imran:38.

 

Doanya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika meminta anak:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

(Rabbi habli minash shalihin)

Artinya: “Wahai Rabbku, berilah aku keturanan yang shalih.” Lihat Al Quran surat Al Qashshash: 110.

Doanya Istri Imran ketika setelah melahirkan Maryam:

(رَبّ) إِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

(Rabbi) Inni u’idzuha bika wa dzurriyyataha minasy syaithanir rajim)

Artinya: “Dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada setan yang terkutuk.” Lihat Al Quran surat Alim Imran: 34-36.

Doanya hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

(Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yun waj’alna lilmuttaqina imama)

Artinya: “Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” Lihat Al Quran surat Al Furqan:74.

Doanya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam:

(رَبِّ) اجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

(Rabbi) ujnubni wa baniyya an na’budal ashnam)

Artinya: “(Wahai Rabbku), jauhkanlah aku dan keturunanku dari menyembah berhala-berhala.” Lihat Al Quran Surat Ibrahim: 35.

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

(Rabbij ‘alni muqimash shalah wa min dzurriyyati wa taqabbal du’a)

Artinya: “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” Lihat Al Quran surat Ibrahim:40.

 

Doa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:

اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ ، وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ

(Allahumma Aktsir malahu wa waladahu wa barik lahu fima a’thaitahu)

Artinya: “Wahai Allah, perbanyaklah harta dan anaknya serta berkahilah selalu baginya apa yang telah Engkau berikan kepadanya.” Lihat hadits riwayat bukhari.

 

Robbi auzi’nii an asykuro ni’matakallatî an’amta ‘alayya wa’alaa waalidayya wa an a’mala shâlihan tardlâhu, wa adkhilnii birahmatika fii ‘ibâdakash shâlihiin. Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni`mat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridloi; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. (Q.S An-Naml [27] :19)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: