Diya’ut Thulab

 

Judul Kitab:

DIYA’UT THULLAB; Mengurai kekusutan pemikiran para pengingkar maulid Nabi sallallahu’alaihi wasallam

Diterjemahkan dari:

Haulul Ihtifal Bidzikri Al-Maulid An-Nabawi As-Syarif; Sayyid Muhammad bin Sayyid Alawi Al Maliki Al Hasani, Guru Besar Tanah Haram

Tim Korektor:

Ust. H. Muhajir Nawawi

Ust. H. Qusyairi Hidayat

Ust. H. Imam Mahdi

Ust. H. Rosul Baihaqi

Ust. Hamim Jailani

Ust. Muhsin Lucky

Ust. Rosyim Syan

Ust. Ach. Zainal Abidin

Ust. Jakfar Shodiq

Ust. Suhlan

Pentasheh:

Ust. Agus Qomaruddin Mushonnif

Pembimbing:

  1. Ahmad Zubair
  2. Fathurrozi Zubair

Setting, lay out & Desaign cover:

az@.com

Penerbit:

TA’LIF WAN NASYR, Lajnah Da’wah wat Ta’lim, Kelas III Aliyah Madrasah Asrorul Cholil Periode 2011- 2012 M/ 1432-1433 H Pondok Pesantren Nurul Cholil

Alamat:

Jl. KH. Moh. Cholil Gg. III /10 Demangan Barat Bangkalan Madura Jawa Timur telp. 031 3096564

Cetakan; Pertama, Maret 2013

DAFTAR ISI

SAMBUTAN PENGASUH – [1]

SAMBUTAN MAJLIS KELUARGA – [3]

KATA PENGANTAR – [5]

  • Muqoddimah – [7]
  • Wajibkah Merayakan Maulid Nabi? – [14]
  • Orang Yang Pertama Kali Merayakan Maulid Nabi- [26]
  • Apakah disyaratkan perayaan kami dengan berpuasa ?- [33]
  • Dalil-dalil legalitas perayaan maulid Nabi SAW- [36]
  • Pendapat Syaikh Ibnu Taimiyah tentang Maulid Nabi SAW. – [62]
  • Pemahaman maulid dalam pandanganku – [66]
  • Berdiri saat perayaan Maulid Nabi SAW.- [68]
  • Berdiri saat perayaan Maulid dianggap baik oleh para Ulama – [72]
  • Pelbagai pendapat yang menganggap baik Qiyam – [74]
  • Bid’ah-bid’ah dalam perayaan maulid Nabi SAW. [79]
  • Maulid dan hal-hal yang diingkari – [84]
  • Pengkaburan-pengkaburan yang keliru – [89]
  • Fitnah atas Ibnu katsir dan memutarbalikkan ucapannya – [94]
  • Pedapat-pendapat para Imam tentang perayaan Maulid – [99]
  • Kisah kemerdekaan Tsuwaibah – [128]
  • Kesimpulan – [136]
  • Menguatkan pembahasan tentang pengamala Hadits Mursal – [150]
  • Pendapat dalam kitab Al-Lubab – [152]

 

SAMBUTAN PENGASUH

Pondok Pesantren Nurul Cholil

Zubair bin KH. Muntashor

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله رب العالمين حمدا طيبا مباركا فيه على كل حال وفي كل حال, حمدا يوافي نعمه ويكافئ مزيده يا ربنا لك الحمد كما ينبغي لجلال وجهك وعظيم سلطانك. اللهم صل على سيدنا محمد صلاة تنجينا بها من جميع الاهوال والافات وتقضي لنا بها جميع الحاجات وتطهرنا بها من جميع السيئات وترفعنا بها عندك اعلى الدرجات وتبلغنا بها اقصى الغايات من جميع الخيرات في الحياة وبعد المما ت.

 

Syukur Alhamdulillah kami ucapkan atas rampungnya sebuah terjemahan buku yang menjelaskan seputar perayaan maulid Nabi Muhammad SAW, tentunya Hal ini bukanlah pekerjaan yang mudah, Akan tetapi membutuhkan ketelatenan, keistiqomahan juga pemikiran khusus demi terciptanya sebuah karya ilmiah yang baik.

Kami merespon sangat baik atas terbitnya sebuah terjemahan buku seputar perayaan maulid Nabi Muhammad SAW. ini yang disarikan langsung dari kitab aslinya “Haulul Ihtifal Bidzikri Al-Maulid An- Nabawi As-Syarif” karya Ulama besar Syaikh Muhammad bin Alawi Al Maliki Al Hasani, yang bisa kita buat pedoman atau Dalil atas tuduhan dan fitnah mereka dengan apa yang telah kita lakukan (merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW).

Terlepas dari itu semua hanyalah kepada Allah SWT kita memohon pertolongan. Semoga kehadiran buku terjemahan ini bisa bermanfaat bagi umat islam, khususnya santri dan alumni pondok pesantren Nurul cholil, Amin.

Bangkalan, 27 November 2012 M

==========================================================================

SAMBUTAN MAJLIS KELUARGA

Pondok Pesantren Nurul Cholil

Ahmad Zubair

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله رب العالمين, نحمده ونستغفره ونعوذ به من شرور انفسنا وسيات اعمالنا, من يهد الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له, اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له واشهد ان محمد عبده ورسوله, والصلاة والسلام على سيدنا ومولانا محمد الفاتح لما اغلق والخاتم لما سبق وعلى اله اصحابه اجمعين.

Alhamdulilah! Dengan berbagai aktifitas dan kewajibannya sebagai siswa serta berbagai keterbatasan yang ada, tim karya Ilmiyah kelas III Aliyah periode 2011-2012 M/1431-1432 H masih bisa menghadirkan buku terjemahan yang disarikan langsung dari kitab aslinya “Haulul Ihtifal Bidzikri Al-Maulid An-Nabawi” karya Syaikh Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani, Ulama besar yang senantiasa membela, menguatkan dan terus mensosialisasikan faham Ahlus Sunnah wal-Jamaah.

Dengan ini, kami atas nama Majlis keluarga pondok Pasantren Nurul Cholil sangat mengapresiasi atas terbitnya buku ini, karena memang buku-buku semacam ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

Mudah-Mudahan buku ini benar-benar bisa membentengi Aqidah kita, dan menyadarkan kita.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Bangkalan, 22 Oktober 2012 M

==========================================================================

KATA PENGANTAR

Tim penerjemah kelas III Aliyah

Periode 2011-2012 M/1432-1433 H

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Alhamdulillah- barangkali itu yang sepantasnya kami panjatkan. kami sangat bersyukur atas terbitnya buku terjemahan ini. Shalawat dan salam mudah-mudahan tetap tercurahkan kepada Nabi terakhir Nabi Muhammad SAW.

Akhir-akhir ini, kelompok-kelompok yang tidak sefaham dengan ajaran “Ahli-Sunnah Wal Jama’ah” kian menjadi-jadi dalam mempersoalkan keabsahan praktek Ubudiyyah Nahdliyyah yang kita praktekkan. Salah satu dari sekian banyak kelompok tersebut, yang patut diwaspadai adalah aliran penganut Muhammad Ibnu Abdi Al-Wahab, yang lebih dikenal dengan sebutan “Wahabi”. Sekte yang mengatasnamakan dirinya sebagai pejuang “Salafi” ini meyakini, bahwa umat Nabi Muhammad SAW telah lama berkubang dalam Lumpur “Kemusyrikan” dan “Kufarat”. Sehingga siapapun yang menolak mengikuti ajarannya, berarti ia layak menyandang predikat “Kafir”. Salah satu obyek “Takfir” dan “Tadllil” yang menjadi garapan mereka adalah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang telah menjadi rutinitas umat Muslim di seluruh dunia, khususnya Indonesia.

Maka, perlu kiranya ada penjelasan atau mungkin lebih pasnya penegasan bahwa Amaliyah-Amaliyah tersebut tidak ngarang sendiri dan memang ada Dalil-nya. Dalam Hal ini, Al-Allamah Sayyid Muhammad Al Maliki Al Hasani memaparkan dengan sangat detail dalam buku ini, sehingga buku ini perlu dibaca oleh setiap Muslim, guna untuk membentengiAqidah mereka dari bahaya dan rongrongan sekte-sekte tersebut.

Demekian, muda-mudahan buku terjemahan ini bisa bermanfaat bagi kita semua khususnya lulusan kelas tiga Aliyah Periode 2011,2012 M/1432,1433 H Amien!!!

TIM PENERJEMAH TA’LIF WAN NASYAR LAJNAH DA’WAH WAT TA’LIM

KELAS III ALIYAH

PERIODE 2011-2012 M/1432-1433 H.

==========================================================================

بسم الله الرحمن الرحيم

المقدمة

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف المرسلين سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين .

Bismillahirrohmanirrohim

Pendahuluan

Segala puji bagi Allah tuhan semesta alam, Sholawat dan Salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW Rasul termulia, kepada keluarga dan para sahabatNya.

 

أما بعد، فقد كثر الكلام عن حكم الاحتفال بالمولد النبوي ، وما كنت أود أن أكتب شيئاً في هذا الموضوع وذلك لأن ما شغل ذهني وذهن العقلاء من المسلمين اليوم هو أكبر من هذه القضية الجانبية التي صار الكلام عنها أشبه ما يكون بالحولية التي تُقرأ في كل موسم وتُنشر في كل عام حتى ملّ الناس سماع مثل هذا الكلام ، لكن لما أحب كثير من الإخوان أن يعرفوا رأيي بالخصوص في هذا المجال ، وخوفاً من أن يكون ذلك من كتم العلم أقدمت على المشاركة في الكتابة عن هذا الموضوع والحق هوأننا مانحب إثارة المسائل الخلافية وخصوصا فى الميادين العامة وبين من لا شأن لهم بها , بل ننهى عن ذلك إلا إذا اقتضى الحال الخوض فيها لإجابة سؤال أو دفع شبهة أو حل إشكال أو اللرد على من يثير ذلك ويلبس على العامة ,فتراه ينكر علينا الكلام فى هذه المواضع ويقول : أنتم تثيرون الفتن وتشعلون نارها وليس لكم كلام إلا فى هذه المسائل وينسى أو يتناسى أنه هو المحرك لهذه الفتن وهو الموقد لنارها والفاتح لأبوابها والمشتغل بها والمشغل للناس بالكلام فيها إذ لاتراه إلا متحدثا فى باب البدعة والشرك والضلال مدرجا بحث المولد والتوسل والزيادة والتبرك والتصوف فى قائمة المنكرات والضلال والبدع دون تفصيل بين الحسن والقبيح والخير والشر والطيب والخبيث ,فهل يصح أن يترك مثل هذا ينفث سمومه ويفيض بباطله وشره على عامة الأمة ممن يغتر به فى كل وقت .

Setelah hal di atas, Sungguh banyak pembicaraan tentang hukum merayakan Maulid Nabi, dan Saya tidak tertarik untuk menulis sesuatu tentang masalah ini, Itu semua karena perkara yang menyibukkan pikiran saya dan pikiran para cendikiawan muslim lebih besar dari pada sekedar hal tersebut yang pembicaraannya lebih menyerupai agenda tahunan yang hanya dibaca setiap musim dan disebarkan setiap tahun sehingga masyarakat bosan untuk mendengarkan semacam pembahasan ini, akan tetapi ketika banyak teman-teman saya ingin mengetahui pendapat saya secara khusus didalam hal ini dan takut hal tersebut termasuk Katmil Ilmi (menyimpan ilmu) maka saya memberanikan diri untuk menulis sebuah kitab tentang masalah ini dan kenyataannya kami tidak mau memprioritaskan masalah-masalah khilafiyah di area umum dan dikalangan masyarakat yang tidak mempunyai kapasitas tentang masalah khilafiyah tersebut, kecuali ada hal yang menuntut untuk masuk kedalam masalah tersebut seperti untuk menjawab pertanyaan, menolak keserupaan, menyelesaikan kemuskilan, atau untuk menolak orang yang mengobarkan hal tersebut dan mengaburkan pemahaman orang awam, maka anda akan melihat dia mengingkari pembicaraan kami didalam masalah-masalah ini dan dia berkata : ”Kalian yang mengobarkan kesesatan dan kalian yang menyalakan apinya padahal kalian tidak punya pembahasan kecuali di dalam masalah-masalah ini”, dan dia lupa atau pura-pura lupa bahwa dia adalah penggerak, penyala api dan pembuka pintu kesesatan tersebut, yang disibukkan dan menyibukkan orang lain (masyarakat) untuk membicarakan kesesatan-kesesatan tersebut karena anda tidak akan melihatnya kecuali berbicara didalam bab bid’ah, syirik dan kesesatan dengan memasukkan (meyisipkan) pembahasan maulid, tawassul, ziarah, tabarruk (ngalaf barokah) dan tasawwuf di daftar kemungkaran, kesesatan, bid’ah tanpa memilah/merinci yang baik (Al-Hasan), yang buruk (Al-Qobih), yang bagus (Al-Choir) dan yang jelek (Al-Syar), layakkah orang yang seperti ini di biarkan untuk menyemburkan racunnya dan menyebarkan kebathilan dan kejelekannya kepada orang awam (Ammah Al-Ummah) yakni orang-orang yang bisa terbujuk setiap saat.

فهذا هو الذي يدعونا إلى الحديث والبحث والكتابة حول هذه المسألة وإلا فإن منهجنا والحمد لله هو توجيه الأمة إلى الخير وأمرهم بالمعروف ونهيهم عن المنكر, وهذه دروسنا ومحاضراتنا وندواتنا فى مجالسنا العامة والخاصة داخل البلاد وخارجها شاهدة بذلك وهي بفضل الله – وأقول ذلك متحدثا بنعمة الله متبرئا من حولي وقوتي مستعيذا بالله من العجب والفخر المذموم- أقول :

Maka ini menuntut kami untuk bicara, membahas dan menulis seputar masalah ini dan kalaupun tidak demikian, alhamdulillah sesungguhnya metode kami untuk mengarahkan umat pada kebaikan, memerintah pada kebajikan dan mencegah dari kemungkaran, dan inilah pelajaran, ceramah/kuliah dan pertemuan ilmiah di majlis-majlis kami yang umum maupun yang khusus, didalam dan diluar negeri yang membuktikan hal tersebut – dan semua ini berkat anugerah Allah – dan saya berkata demikian dalam rangka menceritakan nikmat Allah, terlepas dari daya dan kekuatanku, dan memohon perlindungan kepada Allah dari ujub (bangga diri) dan kesombongan yang tercela – saya berkata :

هي دروس منهجية ومحاضرات إجتماعية وندوات علمية في الحديث والتفسير والفقه والمصطلح والأصول والعقيدة واللغة العربية ليس فيها علوم خاصة أو معارف معينة أو أسرار ممنوعة أو لقاءات غامضة بل كلها مفتوحة للعام والخاص ومشاعة للقريب والبعيد ,وبيتنا والحمد لله كما جاء في حديث السيدة عائشة رضي الله عنها : (رفيع العماد طويل النجاد عظيم الرماد قريب البيت من الناد ) (1) كما أننا في ثنايا دروسنا نذكر أحوال المسلمين وواقعهم اللأليم وما وصلوا إليه اليوم من تفرق وتشتت وضعف وذلة وتبعية ومخالفة وبعد عن المنهج الرباني والطريق الصحيح ونذكرهم بما كان عليه سلفهم الصالح من عزة ومنعة وقوة وسلطان وبما مكن الله لهم في الأرض وبتاريخهم المجيد وأننا نأمل أن نعود إلى الإسلام فتعود لنا أيامنا الأول والله على كل شيئ قدير وباالإجابة جدير .

Inilah pelajaran-pelajaran metodis, kuliah umum dan pertemuan ilmiah tentang hadist, tafsir, fiqih, mustolah al-hadist, ushul fiqh, aqidah dan bahasa arab yang didalamnya tidak ada ilmu khusus, ilmu pengetahuan tertentu, rahasia-rahasia terlarang ataupun pertemuan-pertemuan tersembunyi, bahkan semuanya terbuka untuk umum (Al-Am dan Al-Khos) dan tersebar dimana-mana (Al-Qorib dan Al-Ba’id), dan alhamdulillah rumah kami meniru (seperti) keterangan hadist Sayyidah Aisyah r.a. : رفيع العماد طويل النجاد عظيم الرماد قريب البيت من الناد artinya : (suamiku) mulia, tinggi perawakannya, banyak abunya, dan dekat rumah nya dari tempat pertemuan., Seperti halnya ditengah–tengah pelajaran kami, kami ingat keadaan orang islam, musibah/bencana yang menyakitkan yang menimpa mereka, dan apa yang mereka alami sekarang ini seperti perpecahan, cerai berai, lemah, terhina, ikut-ikutan, tidak sesuai dan jauh dari metode yang berlaku (Al-Minhaj AlRobbanie) dan cara yang legal (Al-Thoriq Al-Shohih) dan kami mengingatkan mereka kepada keadaan/sifat pendahulu mereka yang saleh seperti mulia (terhormat), kokoh, kuat, dan kekuasaan, mengingatkan pada kemampuan yang diberikan oleh Allah dimuka bumi dan sejarah agung mereka dan kami berfikir untuk kembali kepada agama islam dan hari-hari (kejayaan) yang dulu bisa kembali, dan Allah maha kuasa atas segala sesuatu dan pantas/berhak mengabulkan do’a.

وصلى الله وسلم على خير خلقه وإمام رسله سيدنا محمد وعلى أله وصحبه .

Dan semoga sholawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada mahluk terbaiknya dan imam para utusan Nabi Muhammad SAW kepada keluarga dan para sahabatnya.

وكتبه :

السيد محمد بن السيد علوي المالكي الحسني

خادم العلم الشريف بالبلد الحرام

Ditulis oleh :

Sayyid Muhammad bin Sayyid Alawi Al Maliki Al Hasani pengajar (guru besar) di tanah Haram

هل الإحتفال بالمولد النبوي واجب؟

 

لا تزال مسألة الإحتفال بالمولد النبوي الشريف تعتبر مشكلة كبيرة عند بعض المتشددين- هداهم الله إلى الصراط المستقيم .

Wajibkah Merayakan Maulid Nabi?

Masalah merayakan kelahiran Nabi besar Muhammad SAW senantiasa dianggap problem besar oleh sebagian kelompok aliran keras (Al-Mutasyaddidin) semoga mereka diberi hidayah oleh Allah ke jalan yang lurus. Amin

ولقد انحل- والحمد لله- كثير من العقد التي كانت في ذهن بعضهم وتفهموا الحقائق على اصولها بمروالايام وتغير الاحوال وتطور الحياة واختلاف مطالب العصر ومصطلحاته وظروف المجتمع وحياته فاعاد كثير من الناس حكمهم على كثير من المسائل الاجتهادية التي كانوا يرون فيها حكما غيرمايرونه اليوم ، ويقولون فيها قولا غير الذي يقولونه اليوم ، والشواهد الحضارية شاهدة على ذلك ، ومن أطال الله فى عمره فأدرك ذلك الزمن وهذا الزمن وسمع تلك الأقوال سابقا ولا حقا لاحظ الفرق بوضوح ظاهر لا إشكال فيه ، وكل هذا التغير والتطور لم تحظ به قضية المولد النبوي الشريف ولم تفز فيه بما فاز به غيرهامن القضايا .

Alhamdulillah telah terlepas sebagian besar ikatan yang membelenggu hati mereka dan mereka dapat memahami hakikat-hakikat itu sesuai dengan dasarnya. Seiring perjalanan waktu, perubahan keadaan, perubahan kehidupan, berbagai tuntutan zaman dan tekhnologinya serta wadah perkumpulan dan eksistensinya, akhirnya banyak orang yang mengkaji ulang keputusan (ketetapan) mereka terhadap berbagai masalah ijtihadiyah yang mana pendapat mereka tidak sesuai dengan pendapat mereka yang sekarang dan juga pernyataan mereka tidak sesuai dengan pernyataannya yang sekarang, Sesuai realita yang ada. Barang siapa yang diberi umur panjang, dan ia tahu zaman itu dan zaman sekarang serta mendengar berbagai pendapat tersebut, maka ia pasti mengetahui perbedaannya dengan jelas. Dan semua perubahan serta evolusi (perkembangan secara pelan-pelan) ini bukan suatu keberuntungan terhadap permasalahan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagaimana permasalahan lain yang bisa di untungkan dengan adanya perubahan dan evolusi.

فلا نزال نسمع في كل عام تلك الحوليات التي تظهر في شهر ( ربيع الأول ) عن المولد النبوي الشريف والاحتفال به ، ولا نزال نسمع تلك الاقوال السخيفة عن اجتماعات المولد من انه تحصل فيها المنكرات واختلاط الرجال بالنساء وتضييع الصلوات وتضرب الالات وتشرب الخمور ويحضرها الفساق واهل الفجور واكلة الربا واهل البدع والخرافات ، وأن المحتفلين بالمولد النبوي يتخذون عيدا شرعيا معتبرا مثل عيد الفطر والأضحى ، ولقد بينا كذب هذه الأقوال الساقطة أو كذب من نقلها إلى من صرخ بها وإن كان لا يعذر بجهله حيث لم يتبين فيما أخبره به الفاسق ، فخالف القرأن صراحة إذيقول : ”   يا أيها الذين أمنوا إن جاءكم فاسق بنبإ فتبينوا”

Maka senantiasa setiap tahun kami mendengar masalah-masalah tahunan yang tampak di bulan “Robi’ul Awal“ tentang hari kelahiran Nabi besar Muhammad SAW serta perayaannya, dan senantiasa kami mendengar komentar-komentar yang tidak masuk akal tentang perkumpulan maulid Nabi bahwa disitu terjadi pelbagai kemungkaran, percampuran laki-laki dengan prempuan, menyia-nyiakan sholawat, memukul alat-alat, meminum minuman keras dan dihadiri oleh orang-orang fasiq, ahli ma’siat, para pemakan riba dan ahli bid’ah dan tahayyul (dongeng), dan orang-orang yang merayakan maulid Nabi menjadikannya sebagai hari raya syar’i (I’d Syar’i) yang dianggap sama dengan idul fitri dan idul adha, dan kami telah mengungkap kebohongan pendapat-pendapat keliru tersebut atau kebohongan orang yang menuqil (memberitahukan) kepada orang yang meneriakkan pendapat-pendapat palsu tersebut, walupun tidak dimaafkan (udzur) dengan kebodohannya sekiranya dia tidak memperjelas berita orang fasiq, maka dia jelas-jelas berlawanan dengan Al-Qur’an yang menyatakan: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang ke padamu orang fasik dengan (membawa) berita, maka perjelaslah (kebenaran nya)”.

كم بينا ذلك وقلنا إن يوم مولد سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم ليس بعيد ولا نعتبره عيد لأنه أكبر من العيد وأعظم وأشرف منه.

Sering kami jelaskan hal tersebut, dan kami katakan bahwa maulid Nabi Muhammad SAW bukan hari raya dan tidak kami anggap sebagai hari raya, karena maulid Nabi itu lebih besar, lebih agung, dan lebih mulia dari hari raya.

إن العيد لا يعود إلا مرة واحدة في السنة ، وأما الإحتفال بمولد صلى الله عليه وسلم والإعتناع بذكره وسيرته يجب أن يكون دائما لا يتقيد بزمان ولا مكان

Sesungguhnya hari raya hanya sekali dalam setahun, sedangkan perayaan maulid Nabi SAW dan senantiasa mengingat beliau serta melestarikan sejarahnya adalah wajib selamanya, tidak dibatasi ruang dan waktu.

فمن أطلق عليه إسم العيد فهو جاهل وهو لا يقع إلا من العوام وهم لا يقصدون به العيد الشرعي المعروف عند الإطلاق ، وإنما هذا جريا على عادة الناس في تعبيرهم عن الفرح والسرور بكل عزيز بقولهم هذا يوم عيد … وقدومكم عيد… ولقاؤكم عيد… ، والشعر العربي مملوءٌ بهذا التعبيركقولهم:

إن عيدي يوم أتي حيهم     #   وأمرغ في ثراهم مقلتي

وقول بعضهم :

عِيْدٌ وعِيدٌ وعِيدٌ ِصْرنَ مجتمعهْ                                                               وجه الحبيب وعيدُ الفطرِ والجمعه

Maka barang siapa menyebut maulid Nabi sebagai hari raya adalah orang bodoh dan itu tidak akan terjadi kecuali dari orang-orang awam, sedangkan mereka tidak menyebutnya sebagai hari raya syar’i yang kita kenal ketika dimutlakkan, hal ini hanyalah tradisi masyarakat dalam mengungkapkan kegembiraan dan kesenangan dalam setiap peristiwa besar sebagaimana ungkapan mereka :”Ini adalah hari raya……..kedatangan kalian adalah hari raya ……..bertemu kalian adalah hari raya…,,,”, dan syair arab di penuhi ungkapan seperti ini:

Sesungguhnya hari rayaku adalah hari kedatanganku kekampung mereka

Dan aku membolak-balikkan pandanganku pada kekayaan mereka

Dan ungkapan sebagian penyair :

Hari raya, hari raya dan hari raya menjadi terkumpul

Wajah sang kekasih, hari raya dan hari jum’at

 

ومن هنا يقول عامة الناس عيد المولد والعيد النبوي ، وغير ذلك من الألفاظ الواردة في هذا الباب

Oleh sebab itu, pada umumnya orang-orang menyebut maulid Nabi sebagai I’d Al-Maulid (hari raya kelahiran Nabi) dan Al-i’d An-Nabawi (hari raya kenabian) dan selainnya dari ungkapan-ungkapan yang di gunakan dalam bab ini.

ومعلوم أنه ليس عندنا في الإسلام إلا عيدان الفطر والأضحى ، لكن يوم المولد أكبر ، وأعظم من العيد وإن كنا لانسميه عيدا ، فهو الذي جاء بالأعياد والأفراح ومن حسناته كل الأيام العظيمة في الإسلام ، فلولا مولد صلى الله عليه وسلم ما كانت البعثة ، ولا نزول القرأن ، ولا الإسراء ولا المعراج ، ولا الهجرة ، ولا النصر في بدر ، ولا الفتح الأعظم ، لأن كل ذلك متعلق به صلى الله عليه وسلم بمولده الذي هو منبع تلك الخيرات العظيمة ، قال السيد محمد أمين كتبي رحمه الله :

ياليلة الإثنين ماذا صـــــافحت  #       يمناك من شرف أشمّ ومن غنى

كل الليالي البيض في الدنيا لها  #      نسب إليك فأنت مفتاح السن

فالقدر والأعياد والمعراج من    #       حسناتك اللتي بَهرن الأعيُنا

Dan sudah kita ketahui bersama bahwa dalam agama islam hanya ada dua hari raya I’dul Fitri dan I’d Al-Adha, akan tetapi maulid nabi lebih besar dan lebih agung dari hari raya, maskipun kami tidak menyebutnya sebagai hari raya, karena Nabi Muhammad SAW adalah sang pembawa pelbagai hari raya dan kegembiraan, dan diantara kebagusan-kebagusan Nabi Muhammad SAW adalah hari-hari besar dalam islam, karena seandainya Nabi tidak dilahirkan, niscaya tidak ada al-bi’tsah (diutusnya Nabi), turunnya Al-Qur’an, Isro’ Mikroj, Hijrah, pertolongan di perang Badar dan kemenangan besar, karena semua itu erat kaitannya dengan Nabi Muhammad SAW dan kelahirannya yang merupakan sumber segala kebaikan yang besar, Sayyid Muhammad Amin Kutbi –Rahimahullah berkata:

Wahai malam senin, dengan apa berjabat tangan kananmu,

Dari kemulian orang mulia dan kekayaan

Setiap malam terang bulan di dunia bernisbat kepada engkau,                            

Karena engkau kunci segala cahaya

Adapun lailatul qadar, hari-hari besar, dan mi’roj

Adalah (termasuk) kebagusanmu yang menyilaukan mata

  

وقبل أن أسرد الأدلة على جواز الاحتفال بالمولد الشريف والاجتماع عليه أحب أن أبين المسائل الآتية :

Sebelum saya menyebutkan dalil-dalil tentang legalitas (kebolehan) perayaan maulid Nabi dan berkumpul untuk merayakannya, saya lebih senang menjelaskan masalah-masalah berikut :

الأولى : أننا نحتفل بمولد سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم دائما وأبدا في كل وقت وفي كل مناسبة وعند كل فرصة يقع فيها فرح أو سرور أو نشاط ويزداد ذلك في شهر مولده وهو الربيع ، وفي يوم مولده وهو الإثنين ، ولا يصح لعاقل أن يسأل لما ذا تحتفلون ؟ . . لأنه كأنه يقول : لماذا تفرحون بالنبي صلى الله عليه وسلم ؟ . . وكأنه يقول : لماذا يحصل عندكم هذا السرور وهذا الإبتهاج بصاحب الإسراء والمعراج ؟ فهل يصح أن يصدر هذا السؤال من مسلم يشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله ؟ لأنه سؤال بارد لايحتاج إلى جواب ، ويكفي أن يقول المسئول في الجواب :

أنا أحتفل لأني مسرور وفرح به صلى الله عليه وسلم ، وأنا مسرور وفرح به صلى الله عليه وسلم لأني محب له صلى الله عليه وسلم ، وأنا محب له صلى الله عليه وسلم لأني مؤمن .

   Pertama: Kami (Ahlus Sunnah Wal Jama’ah) senantiasa merayakan Maulid Nabi SAW sepanjang waktu, setiap kesempatan yang layak serta terdapat rasa suka cita dan semangat di dalamnya, terlebih di bulan Maulid (Robi’ul Awal) dan di hari kelahirannya (Senin). Dan tidak pantas jika ada orang yang berakal sehat bertanya: “Mengapa kalian merayakan kelahiran Nabi?” karena seakan-akan dia bertanya: “Kenapa kalian senang kepada Nabi SAW?”dan seakan-akan dia bertanya: “Kenapa kalian bisa senang kepada Nabi pemilik peristiwa Isro’ Mi’roj?”, Maka apakah pantas pertanyaan seperti itu diucapkan orang islam yang bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah?, karena itu pertanyaan orang bodoh yang tidak butuh jawaban, dan orang yang ditanyakan cukup menjawab:

Saya merayakan maulid Nabi sebagai ungkapan rasa senang dan cinta karena saya adalah orang yang beriman.

الثانية : أننا نعني بالإحتفال الاجتماع لسماع سيرته والصلاة والسلام عليه وسماع المدائح التي تقال في حقه وإطعام الطعام وإكرام الفقراء والمحتاجين وإدخال السرور على قلوب المحبين .

Kedua: Sesungguhnya tujuan kami merayakan maulid Nabi adalah berkumpul untuk mendengarkan sejarah beliau, membaca sholawat, mendengarkan pujian-pujian yang dilantunkan kepadanya, memberikan makanan, memuliakan orang-orang fakir dan orang-orang yang membutuhkan serta mengembirakan hati para pecinta Nabi Muhammad SAW.

الثالثة : أننا لا نقول بأن الإحتفال بالمولد المذكور في ليلة مخصوصة وعلى الكيفية المعهودة لدينا مما نصت عليه الشريعة صراحة كما هو الشأن في الصلاة والصوم وغيرهما إلا أنه ليس فيها ما يمنع من ذلك لأن الإجتماع على ذكرالله والصلاة والسلام على رسول الله صلى الله عليه وسلم ونحو ذلك من وجوه الخير مما ينبغي الإعتناء به كلما أمكن لاسيما في شهر مولده لأن الداعي فيه أقوى لإقبال الناس واجتماعهم وشعورهم الفياض بارتباط الزمان بعضه ببعض ، فيتذكرون بالحاضر الماضي وينتقلون من الشاهد إلى الغائب .

     Ketiga: Kami tidak mengatakgan bahwa perayaan maulid Nabi pada malam tertentu dengan cara yang telah kita ketahui merupakan ketentuan syari’at secara jelas sebagaimana sholat, puasa dan lain sebagainya, hanya saja hal di atas tidak ada larangan dari syari’at karena berkumpul untuk berdzikir kepada Allah, bersholawat kepada Rasulullah SAW dan kebaikan-kebaikan yang lain merupakan sesuatu yang harus diperhatikan sebisa mungkin apalagi di bulan kelahirannya, karena di bulan tersebut orang-orang lebih terdorong untuk berpartisipasi dan berkumpul serta mengungkapkan rasa cinta yang menggebu-gebu seiring dengan perjalanan waktu, sehingga mereka bisa mengenang orang-orang terdahulu sebab orang yang hadir dan berpindah kenyataan terhadap yang ghaib.

الرابعة : أن هذه الاجتماعات هي وسيلة كبرى للدعوة إلى الله ، وهي فرصة ذهبية ينبغي أن لا تفوت ، بل يجب على الدعاة والعلماء أن يذكروا الأمة بالنبي صلى الله عليه وسلم بأخلاقه وآدابه وأحواله وسيرته ومعاملته وعبادته ، وأن ينصحوهم ويرشدوهم إلى الخير والفلاح ويحذروهم من البلاء والبدع والشر والفتن وإننا دائما بفضل الله ندعو إلى ذلك ونشارك في ذلك

   Keempat: Bahwasannya perkumpulan-perkumpulan ini adalah wasilah (media) yang sangat besar untuk mengajak kepada Allah SWT dan ini merupakan kesempatan emas yang tidak boleh disia- siakan bahkan wajib bagi para da’i dan para Ulama mengingatkan umat tentang Akhlak, Perilaku, Sejarah, Muamalah dan Ibadah Nabi, dan memberi nasehat serta memberi petunjuk pada Kebajikan dan Kemenangan dan juga wajib memperingatkan Umat dari cobaan, Bid’ah, kejelekan dan kesesatan. Dan dengan anugerah Allah kami senantiasa mengajak dan berpartisipasi dalam hal tersebut.

ونقول للناس :

ليس المقصود من هذه الاجتماعات مجرد الاجتماعات والمظاهر بل هذه وسيلة شريفة إلى غاية شريفة وهي كذا وكذا ، ومن لم يستفد شيئا لدينه فهو محروم من خيرات المولد الشريف .

Dan kami nyatakan kepada masyarakat:

Maksud dari pekumpulan-perkumpulan ini bukanlah hanya sekedar berkumpul dan berhura-hura, akan tetapi perkumpulan ini adalah sebagai wasilah yang sangat mulia untuk mencapai puncak kemuliaan. Barang siapa yang tidak mengambil faedah untuk kepentingan agamanya maka dia terhalang dari keberkahan (kebaikan) dalam perayaan maulid Nabi.

أول المحتفلين بالمولد النبوي

 

إن أول المحتفلين بالمولد هو صاحب المولد وهو النبي صلى الله عليه وسلم كما جاء في الحديث الصحيح الذي رواه مسلم : لما سئل عن صيام يوم الإثنين ، قال ذاك يوم ولدت فيه ، فهذا أصح وأصرح نص في مشرعية الإحتفال بالمولد النبوي الشريف .

ولا يلتفت لقول من قال: إن أول من إحتفل به الفاطميون لأن هذا إما جهل أو تعامي عن الحق .

Orang Yang Pertama Kali

Merayakan Maulid Nabi

               

   Orang yang pertama kali merayakan Maulid Nabi adalah Shahibul Maulid (pemiliknya sendiri) yakni Nabi Muhammad SAW seperti keterangan dalam hadits shahih yang di riwayatkan oleh Imam Muslim: Ketika Nabi ditanya tentang puasa hari Senin, beliau menjawab:“Hari Senin adalah hari kelahiranku”. Hadist ini lebih shahih dan lebih shorihnyaNash di dalam legalitas perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Dan tidak perlu mempedulikan ucapan seseorang yang mengatakan: Bahwa yang pertama kali merayakan Maulid Nabi adalah AlFathimiyun (keturunan Sayyidah Fatimah) sebab hal ini bisa jadi karena suatu kebodohan atau pura-pura tidak tahu kebenaran.

 

   قول الحافظ ابن حجر العسقلاني :

قال الإمام الحافظ أبو الفضل أحمد بن حجر العسقلاني : وقد ظهر لي تخريجه على أصل ثابت وهو ما ثبت في الصحيحين من أن النبي صلى الله عليه وسلم قدم المدينة فوجد اليهود يصومون يوم عاشوراء فسألهم فقالوا هو يوم أغرق الله فيه فرعون ونجى موسى فنحن نصومه شكرا لله تعالى فقال صلى الله عليه وسلم : نحن أولى بموسى منكم ، فيستفاد منه فعل الشكر على ما من به في يوم معين من إسداء نعمة أو دفع نقمة ويعاد فى نظير ذلك اليوم من كل سنة ، والشكر لله يحصل بأنواع العبادة كالسجود والصيام والصدقة وتلاوة القرأن وأي نعمة أعظم من بروز هذا النبي نبي الرحمة في ذلك اليوم ، قال تعالى : ( لقد من الله على المؤمنين إذ بعث فيهم رسولا من أنفسهم )

 

     Pendapat Al Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqolani:

Imam Al-Hafidz Abul Fadl Ahmad Ibnu Hajar Al-Asqolani berkata: Sudah sangat jelas bahwa merayakan Maulid Nabi itu mempunyai dasar yang kuat yakni hadits yang di riwayatkan oleh Imam Bukhori & Muslim: Bahwa Nabi Muhammad SAW berkunjung ke kota Madinah, kemudian di sana Nabi mendapati orang-orang yahudi berpuasa di hari Asyuro’, lalu Nabi menanyakan prihal puasa tersebut, maka mereka menjawab bahwa Asyuro’ adalah hari ditenggelamkannya Fir’aun dan di selamatkannya Nabi Musa,   maka kami berpuasa pada hari Asyuro’ untuk berterima kasih (bersyukur) kepada Allah, maka kemudian Nabi Muhammad SAW bersabda:“Kami lebih berhak kepada Nabi Musa dari pada kalian semua”. Maka bisa diambil kesimpulan dari kejadian di atas untuk bersyukur atas segala anugerah yang dikaruniakan oleh Allah di hari tertentu seperti pemberian nikmat, atau tertolaknya bahaya (siksa), dan hal tersebut selalu terulang setiap tahun. Sedangkan bersyukur kepada Allah bisa hasil dengan berbagai bentuk ibadah, seperti sujud, puasa, shodaqoh dan membaca Al-Qur’an. Adakah nikmat yang lebih besar dari pada kelahiran Nabi sang pembawa rahmat,

Allah SWT berfirman:

Sungguh Allah telah memberi anugerah kepada orang-orang mukmin, karena Allah telah mengutus seorang Rasul dari golongan mereka”.

قول الحافظ جلال الدين السيوطي :

قال السيوطي : وقد ظهر لي تخريجه على أصل آخر وهو ما أخرجه البيهقي عن أنس أن النبي صلى الله عليه وسلم عقّ عن نفسه بعد النبوة مع أنه قد ورد أن جده عبد المطلب عقّ عنه في سابع ولادته ، والعقيقة لاتعاد مرة ثانية ، فيحمل ذلك على أن الذي فعله النبي صلى الله عليه وسلم إظهار للشكر على إيجاد الله إياه رحمة للعالمين وتشريع لأمته ، فيستحب لنا أيضا إظهار الشكر بمولده صلى الله عليه وسلم باجتماع الإخوان وإطعام الطعام ونحو ذلك من وجوه القربات وإظهار المسرات .

     Pendapat Al Hafidz Jalaluddin Assuyuthi:

Assuyuti berkata: Sudah sangat jelas bagi saya bahwa perayaan Maulid Nabi mempunyai dasar yang lain yakni hadist yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari sahabat Anas bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad SAW mengaqiqohi dirinya setelah kenabian, padahal kakek beliau, Abd Mutallib sudah mengaqiqohinya pada hari ketujuh kelahirannya, padahal aqiqah tidak harus di ulangi. Maka hal tersebut dijadikan dasar bahwa apa yang dilakukan Nabi adalah menampakkan rasa syukur kepada Allah yang telah menciptakan Nabi sebagaiRahmatan Lil Alamin dan pembawa syari’at bagi umatnya, maka juga di sunnahkan kepada kita menampakkan rasa syukur kepada Allah dengan kelahiran Nabi Muhammaad SAW dengan cara mengumpulkan saudara, memberikan makanan, dan sebagainya dari setiap sesuatu yang bernilai ibadah serta menampakkan kegembiraan.

    قول الحافظ شمس الدين الجزري:

قال السيوطي : ثم رأيت إمام القراء الحافظ شمس الدين الجزري قال في كتابه المسمى (( عرف التعريف بالمولد الشريف )) ما نصه :

وقد رؤي أبو لهب بعد موته في النوم فقيل له : ما حالك ؟ فقال في النار ، إلا أنه يخفف عني كل ليلة إثنين ، وأمص من بين أصبعيّ هاتين ماءً بقدر هذا ، وأشار برأس أصبعه – وإن ذلك بإعتاقي لثويبة عندما بشرتني بولادة النبي صلى الله عليه وسلم وبإرضاعها له .

 

     Pendapat Al Hafidz Syamsuddin Al Jazari:

Imam Assuyuti berkata: Kemudian saya melihat Imam Al- Qurro’ Al-Hafidz Syamsuddin Al Jazri berkata di dalam kitabnya yang di beri nama “Urfu At-ta’rifi Bilmaulidi Al-Sarif” tentang suatu penjelasan:

Setelah mati, Abu Lahab dimimpikan, lalu dia ditanya: Bagaimana keadaanmu? Abu Lahab menjawab: Di neraka, hanya saja siksaanku diringankan setiap malam Senin, dan saya menghisap air segini diantara jari-jariku (sambil isyarat dengan ujung jari tangannya), dan semua ini sebab saya memerdekakan Tsuwaibah ketika dia memberi kabar gembira tentang kelahiran Nabi Muhammad SAW dan menyusuinya.

فإذا كان أبو لهب الكافر الذي نزل القرآن بذمه جوزي ( في النار) بفرحه ليلة مولد النبي صلى الله عليه وسلم به ، فما حال المسلم الموحِّد من أمة النبي صلى الله عليه وسلم ، يسر بمولده ، ويبذل ما تصل إليه قدرته في محبته صلى الله عليه وسلم .

Maka ketika Abu Lahab yang kafir, yang telah di laknat oleh Al-Qur’an, di balas di neraka sebab gembira di malam kelahiran nabi, lalu bagaimana dengan seorang muslim dari umat nabi Muhammad SAW yang mengesakan Allah yang bergembira dengan kelahirannya dan mencurahkan tenaga untuk mencintainya.

ولعمري إنما يكون جزاؤه من المولى الكريم ، أن يدخله بفضله جنات النعيم .

Demi umurku, sesugguhnya balasan orang tersebut dari Allah yang maha mulia adalah di masukkan kedalam surga Na’im sebab anugerah-Nya.

     قول الحافظ شمس الدين بن ناصر الدين الدمشقي :

وقال الحافظ شمس الدين بن ناصر الدين الدمشقي في كتابه المسمى:

بـ (( مورد الصادي في مولد الهادي )) :

Pendapat Al Hafidz Syamsuddin bin Nasiruddin Addimisyqi:

Al-Hafidz Syamsuddin bin Nasiruddin Ad-dimisyqi berkata di dalam kitabnya yang di beri nama: Mauridu AsShodiy Fi Maulidi Al-Hadi

وقد صح أن أبا لهب يخفف عنه عذاب النار في مثل يوم الا ثنين لإعتاقه ثويبة سرورا بميلاد النبيٍّ صلّى الله عليه وسلّم ، ثم أنشد :

إذا كان هذا كافـرا جاء ذمـه     #    بتبّت يداه في الجحيم مخلدا

أتى أنه في يوم الإثنين دائـمـا     #    يُخفّف عنه للسرور بأحمدا

فما الظن بالعبد الذي طول عمره   #    بأحمد مسرورا ومات موحدا

Sungguh benar bahwa Abu Lahab diringankan siksaannya di dalam neraka setiap hari senin, sebab memerdekakan Tsuwaibah karena gembira atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Kemudian Al-Hafidz menembangkan:

Tatkala orang kafir ini (Abu Lahab), yang dicela

Dengan “binasa tangannya (jasadnya) di neraka jahim selamanya”

Pada hari Senin selalu diringankan siksaannya

Sebab gembira dengan Nabi Ahmad (Muhammad SAW)

 

Maka bagaimana dengan seorang hamba yang sepanjang umurnya

gembira dengan Nabi Ahmad dan mati dengan bertauhid.[1]

 

هل يشترط أن يكون إحتفالنا بالصيام؟

 

فإن قيل : إن النبي صلى الله عليه وسلم إعتنى بيوم مولده بالصيام وأنتم تحتفلون بالإجتماع وغيره من أنواع القربات والأعمال التي لم يفعلها صلى الله عليه وسلم في هذا اليوم ، وهذا من البدعة؟

فالجواب : أن هذا يرجع إلى كيفية اللإحتفال وهيئته ، والكيفيات المطلقة مسائل إجتهادية ، وهو ليس محل بحثنا لأن محل البحث هو مسألة الإعتناء بمولده صلى الله عليه وسلم ، هل ثبت أم لا ؟ أما كيف إعتنى ؟ وكيف إهتم ؟ فهذا مفتوح للأمة بحسب اجتهادهم ونظرهم وأحوالهم .

Apakah disyaratkan perayaan kami dengan berpuasa ?

Jika dikatakan: Bahwa Nabi memperingati hari kelahirannya dengan berpuasa, sedangkan kalian merayakannya dengan cara berkumpul dan mengerjakan bermacam-macam Ibadah serta amalan yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi SAW.

Apakah ini Bid’ah?

Maka jawabannya: hal ini kembali pada cara dan bentuk perayaannya, adapun cara-cara yang umum adalah masalah-masalah yang bersifat ijtihad, dan ini bukan topik pembahasan kami karena pokok pembahasan kami adalah masalah memperingati kelahiran Nabi SAW Apakah ada dasarnya? Bagaimana cara memperingatinya? Maka ini terbuka untuk umat tergantung ijtihad, pandangan dan kondisi mereka.

ومثل ذلك كثير من الأمور الاجتهادية التي ثبت أصلها وتركت كيفيتها وهيئتها للأمة وهي عشرات بل مئات المسائل ، يأتي في الدرجة الأولى القرآن الكريم الذي لا يخالف أحد في فضله وفضل حفظه و شرف تعلمه وشرف حملته ومعلميه .

Sebagaimana diatas, banyak dari berbagai masalah ijtihad yang ada dasarnya dan diperkenankan cara dan bentuknya kepada umat, dan masalah tersebut ada puluhan bahkan ratusan, diposisi pertama ada Al-Qur’an Al-Karim yang tidak seorangpun menyangkal keutamaannya dan keutamaan menghafalnya serta kemuliaan mempelajari, orang yang hafal dan yang mengajarkannya.

لكن هل هناك كيفية أو طريقة لابد من اتباعها في سبيل نشره وتعليمه وحفظه ؟

الجواب : متروك للقارئ .

Tetapi apakah hal diatas ada metode yang harus diikuti dalam menyebarkan, mengajarkan dan menghafal Al-Qur’an?

Jawabannya: Terserah yang membaca .

والواقع بين يديه ظاهر واضح كالشمس يرى فيه المدارس القرآنية والجمعيات والجوائز والشهادات والندوات والمسابقات . ويرى التسجيلات القرآنية على الأشرطة (الكاسيت) والاجهزة والألات الحديثة والمطابع والمجامع القرآنية والتفنن فى إخراج المصاحف طبعا وورقا وشكلا ورسما وحرفا ولونا وتجليدا على أشكال ونماذج ومقاسات متعددة متنوعة فاخرة ماهرة تسر الناظرين وتقرّ عيون المؤمنين

فهل هذا كله كان على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ .

Dan kenyataannya jelas seperti matahari. Terbukti, banyak madrasah Al-Qur’an, lembaga, Ijazah, sertifikat, tempat pertemuan dan lomba yang bernuansa Al-Qur’an. Dan juga terbukti, banyak kaset rekaman Al-Qur’an, perlengkapan alat modern, percetakan, universitas Al-Qur’an dan bermacam-macam penerbitan Al-Qur’an dalam bentuk cetakan, kertas, harakat, tulisan, huruf, warna dan menjilid dengan bermacam bentuk yang elegan dan sangat bagus yang menyenangkan orang yang melihatnya dan menyenangkan pandangan orang mukmin.

Maka apakah semua ini ada pada masa Rasulullah SAW?

أدلة جواز الاحتفال بمولد النبي صلى الله عليه وسلّم

الأول : أن الاحتفال بالمولد النبوي الشريف تعبير عن الفرح والسرور بالمصطفى صلّى الله عليه وسلّم ، وقد انتفع به الكافر .

 

Dalil-dalil legalitas perayaan maulid Nabi SAW

 

       Pertama: Sesungguhnya perayaan maulid Nabi SAW adalah sebagai ekspresi atau ungkapan rasa bahagia dan senang kepada Nabi AlMusthofa (nabi pilihan), dan kelahirannya dapat memberikan manfaat kepada orang kafir (Abu Lahab).

وسيأتي في الدليل التاسع مزيد بيان لهذه المسألة ، لأن أصل البرهان واحد وإن اختلفت كيفية الاستدلال وقد جرينا على هذا المنهج في هذا البحث وعليه فلا تكرار .

Dan akan ada penjelasan tambahan tentang masalah ini dalam dalil kesembilan, karena pada dasarnya dalilnya hanya satu meskipun cara pengambilan dalilnya berbeda, dan metode ini sudah kami terapkan dalam pembahasan ini, oleh sebab itu tidak perlu diulang.

فقد جاء في البخاري أنه يخفف عن أبي لهب كل يوم الاثنين بسبب عتقه لثويبة جاريته لما بشّرته بولادة المصطفى صلى الله عليه وسلّم .

Dalam kitab Al-Bukhori telah dijelaskan bahwa siksaan Abu Lahab diringankan setiap hari senin sebab memerdekakan Tsuwaibah (budaknya) ketika dia memberikan kabar gembira kepadanya atas kelahiran Nabi AlMusthofa.

ويقول في ذلك الحافظ شمس الدين محمد بن ناصر الدين الدمشقي :

إذا كان هذا كافـراً جاء ذمـه     #     بتبّت يداه في الجحيم مخلّدا

أتى أنه في يوم الاثنين دائـمـا     #    يُخفّف عنه للسرور بأحمدا

فما الظن بالعبد الذي طول عمره     #     بأحمد مسرورا ومات موحّدا

Dan dalam masalah diatas Al-Hafidz Syamsuddin Muhammad bin Nasiruddin Ad-dimisyqi berkata:

Tatkala orang kafir ini (Abu Lahab), yang dicela

Dengan “binasa tangannya (jasadnya) di neraka jahim selamanya”

Pada hari senin selalu diringankan siksaannya

Sebab gembira dengan Nabi Ahmad (Muhammad SAW)

Maka bagaimana dengan seorang hamba yang sepanjang umurnya gembira dengan Nabi Ahmad dan mati dengan bertauhid.

 

وهذا الخبر رواه البخاري في الصحيح في كتاب النكاح معلقا ونقله الحافظ ابن حجر في الفتح ورواه الإمام عبدالرزاق الصنعاني في المصنف ج٧ ص ٤٧٨والحافظ البيهقي في الدلائل وابن كثير في السيرة النبوية من البداية ج١ ص ٢٢٤ ابن الديبع الشيباني في حدائق الأنوار ج١ ص ١٣٤ والحافظ البغوي في شرح السنة ج ٩ ص ٧٦ وابن هشام والسهيلي في الروض الأنف ج ٥ ص ١٩٢ والعامري في بهجة المحافل ج ١ ص ٤١، وهذه الرواية وإنْ كانت مرسلة إلا أنها مقبولة لأجل نقل البخاري لها واعتماد العلماء من الحفاظ لذلك ولكونها في المناقب والخصائص لا في الحلال والحرام، وطلاب العلم يعرفون الفرق في الاستدلال بالحديث بين المناقب والأحكام، وأما انتفاع الكفار بأعمالهم ففيه كلام بين العلماء ليس هذا محل بسطه ، والأصل فيه ما جاء في الصحيح من التخفيف عن أبي طالب بطلب رسول الله صلّى لله عليه وسلّم .

Dan Hadist ini diriwayatkan oleh Al-Bukhori dalam As-Shohih dalam kitab An-Nikah sebagai hadist ta’liq (muallaq), dinukil oleh Al Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab Al-Fath, diriwayatkan oleh Imam Abd Rozak As-Shon’ani dalam kitab Al-Mushonnaf jilid 7 halaman 478, diriwayatkan oleh Al-Hafidz Al-Baihaqi dalam kitab Ad-Dala’il, Ibnu Katsir didalam AsSiroh An-Nabawiyah minal bidayah Jilid 1 halaman 224, Ibnu Ad-Diba’ As-Syaibani dalam HadaiqulAnwar jilid 1 halaman 134, Al-Hafidz Al-Baghowi dalam Syarh AsSunnah jilid 9 halaman 76, Ibnu Hisyam dan As-Suhaili dalam Ar-Roudl Al-Anf الروض الأُنُف   jilid 5 halaman 192 dan Al-Amiri dalam Bahjatul Mahafil jilid 1 halaman 41, Riwayat-Riwayat diatas meskipun Mursal, akan tetapi Maqbul karena dikutip oleh Al-Bukhori dan ada I’timadul Ulama (komitmen para Ulama ahli hadits) dan karena riwayat-riwayat tersebut terdapat dalam Al-Manaqib dan Al-Khoshoish bukan dalam Al-Halal dan Al-Harom, sedangkan para pelajar (santri) mengetahui perbedaan dalam pengambilan dalil menggunakan hadits antara Al-Manaqib dan Al-Ahkam. Adapun pengambilan manfaat bagi orang kafir dengan amal-amal mereka terdapat pembahasan di kalangan para Ulama yang tidak akan dibahas dalam kitab ini, sedangkan dasar dalam hal ini adalah hadits yang terdapat dalam kitab As-Shohih tentang keringanan siksa Abi Tholib sebab permohonan Rasululloh SAW.

الثاني : أنه صلى الله عليه وسلّم كان يعظّم يوم مولده ، ويشكر الله تعالى فيه على نعمته الكبرى عليه ، وتفضّله عليه بالجود لهذا الوجود، إذ سعد به كل موجود، وكان يعبّر عن ذلك التعظيم بالصيام كما جاء في الحديث عن أبي قتادة : أن رسول الله صلّى الله عليه وسلّم سُئل عن صوم يوم الإثنين ؟ فقال ” فيه وُلدتُ وفيه أُنزل عليَّ ” رواه الإمام مسلم في الصحيح في كتاب الصيام .

   Kedua: Sesungguhnya nabi Muhammad SAW memuliakan hari kelahirannya dan bersyukur kepada Allah di hari tersebut atas nikmat yang sangat besar dan keutamaan yang dianugerahkan oleh Allah kepadanya sebab sayangnya Allah kepada mahluk, karena dengan perantara Nabi semua mahluk bisa beruntung, dan Nabi mengungkapkan penghormatannya dengan berpuasa, sebagaimana diterangkan dalam hadits dari Abi Qotadah: “Sesungguhnya Rasululloh SAW pernah ditanya tentang puasa hari senin. Maka Nabi Menjawab: Pada hari tersebut saya dilahirkan dan pada hari itu pula Al-Qur’an diturunkan kepadaku”, HR. Imam Muslim dalam As-Shohih di kitab As-Shiyam.

وهذا في معنى الاحتفال به ، إلاّ أن الصورة مختلفة ولكن المعنى موجود سواء كان ذلك بصيام أو إطعام طعام أو إجتماع على ذكر أو صلاة على النبي صلّى الله عليه وسلّم أو سماع شمائله الشريفة .

Dan ini adalah bentuk perayaan atas kelahiran nabi, hanya saja caranya berbeda, akan tetapi esensinya (intinya) sama, baik perayaan tersebut dengan berpuasa, memberi makan, berkumpul untuk berzikir, membaca sholawat kepada nabi atau mendengarkan kisah tentang akhlak mulia Nabi.

الثالث : أن الفرح به صلّى الله عليه وسلّم مطلوب بأمرالقرآن من قوله تعالى(قل بفضل الله وبرحمته فبذلك فليفرحوا) فالله تعالى أمرنا أن نفرح بالرحمة ، والنبي صلّى الله عليه وسلّم أعظم رحمة ، قال الله تعالى (وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين).

   Ketiga: Sesungguhnya gembira kepada Nabi adalah tuntutan Al-Qur’an, yang berupa: “Katakanlah (Muhammad) dengan anugerah dan rahmat Allah, maka hendaklah mereka bergembira”. Maka Allah SWT memerintahkan kita agar gembira dengan datangnya rahmat, sedangkan Nabi Muhammad adalah rahmat Allah yang paling besar, Allah SWT berfirman: “Dan kami tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam”.

ويؤيد هذا تفسير حبر الأمة وترجمان القرآن الإمام ابن عباس رضي الله عنهما ، فقد روى أبو الشيخ عن ابن عباس رضي الله عنهما في الآية قال : فضل الله العلم ، ورحمته محمد صلى الله عليه وسلم . قال الله تعالى : ( وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين )

Dan hal ini dikuatkan oleh penjelasan Habru Al-Ummah (orang yang sangat Alim) dan penerjemah Al-Qur’an yaitu Imam Ibnu Abbas Ra, maka sesungguhnya Abu Syaikh telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas Ra tentang ayat diatas, Ibnu Abbas berkata: Anugerah Allah adalah ilmu, Adapun Rahmatnya adalah Nabi Muhammad SAW. Allah SWT berfirman: “Kami tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam”.

فالفرح به صلى الله عليه وسلم مطلوب في كل وقت وفي كل نعمة وعند كل فضل ولكنه يتأكد في كل يوم الإثنين وفي كل شهر الربيع لقوة المناسبة وملاحظة الوقت ، ومعلوم أنه لا يغفل عن المناسبة ويعرض عنها في وقتها إلا مغفل أحمق .

Adapun bergembira dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW adalah tuntutan di setiap waktu, di setiap mendapatkan nikmat dan anugerah, terlebih setiap hari Senin dan bulan Robi’ul Awal, karena merupakan waktu yang sangat sesuai dan tepat, dan sudah maklum bahwa tidak akan lupa dan berpaling dari sesuatu yang layak diperhatikan (diperingati), kecuali orang lalai yang bodoh.

الرابع : أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يلاحظ ارتباط الزمان بالحوادث الدينية العظمى التي مضت وانقضت ، فإذا جاء الزمان الذي وقعت فيه كان فرصة لتذكرها ، وتعظيم يومها لأجلها ولأنه ظرف لها .

Keempat: Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW memperingati berbagai peristiwa besar keagamaan yang sudah lampau disetiap tahun, jika datang suatu masa yang didalamnya terjadi berbagai peristiwa tersebut, maka saat itu dijadikan kesempatan (momentum) untuk mengenang dan memuliakan hari berbagai peristiwa itu, karena hari itu adalah saat terjadinya berbagai peristiwa tersebut.

وقد أصل صلى الله عليه وسلم هذه القاعدة بنفسه كما صرح في الحديث الصحيح أنه صلى الله عليه وسلم لما وصل إلى المدينة ورأى اليهود يصومون يوم عاشوراء سأل عن ذلك فقيل له : إنهم يصومون لأن الله نجّى نبيهم وأغرق عدوهم فهم يصومون شكرا لله على هذه النعمة فقال صلى الله عليه وسلم : (نحن أولى بموسى منكم) فصامه وأمر بصيامه .

Nabi Muhammad SAW mendasari sendiri kaidah ini sebagaimana dijelaskan dalam sebuah Hadist Shohih bahwa Nabi Muhammad SAW ketika sampai di Madinah beliau melihat orang yahudi berpuasa pada hari Asyuro’[2], kemudian Nabi menanyakan prihal puasa tersebut, maka mereka menjawab “Bahwa mereka berpuasa karena Allah telah menyelamatkan Nabi mereka dan menenggelamkan musuh mereka”, oleh sebab itu mereka berpuasa sebagai rasa syukur kepada Allah atas nikmat tersebut, lalu Nabi Muhammad SAW bersabda: “Saya lebih utama terhadap Nabi Musa dibandingkan kalian”, kemudian Nabi Muhammad berpuasa dan memerintahkannya pada hari Asyuro’.

الخامس : أن المولد الشريف يبعث على الصلاة والسلام المطلوبين بقوله تعالى :     ( إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين أمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما)

Kelima: Sesungguhnya (perayaan) maulid yang mulia bisa membangkitkan gairah untuk membaca sholawat dan salam yang diperintahkan oleh Allah dalam firmannya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat atas Nabi, Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kalian semua kepadanya dan ucapkan salam penghormatan atas Nabi SAW”.

وما كان يبعث على المطلوب شرعا فهو مطلوب شرعا ، فكم للصلاة عليه من فوائد نبوية ، وإمدادات محمدية ، يسجد القلم فى محراب البيان عاجزا عن تعداد آثارها ومظاهر أنوارها .

Sesuatu yang dapat membangkitkan tuntutan menurut syari’at maka hal itu menjadi tuntutan menurut syari’at, betapa banyak faedah dan manfaat yang diperoleh sebab membaca sholawat kepada Nabi, Al-Qolam (pena) bersujud di mihrab penjelasan, tidak mampu menghitung berbagai pengaruh dan cahayanya yang tampak.

السادس : ان المولد الشريف يشتمل على ذكر مولده الشريف ومعجزاته وسيرته والتعريف به، أولسنا مأمورين بمعرفته ومطالبين بالإقتداء به ، والتأسّى بأعماله، والإيمان بمعجزاته والتصديق بآياته؟ وكتب المولد تؤدي هذا المعنى تماما .

Keenam: Sesungguhnya Maulid Nabi memuat tentang peringatan kelahiran Nabi, Mukjizat, Sejarah dan pemberitaannya, tidakkah kita diperintah untuk mengenalnya, mengikuti jejak dan mencontoh amal perbuatannya, iman dengan semua mukjizat dan membenarkan semua ayat-ayatnya? sedangkan kitab-kitab Maulid Nabi menjelaskan hal ini secara sempurna.

السابع : التعرّض لمكافأته بأداء بعض ما يجب له علينا ببيان أوصافه الكاملة ، وأخلاقه الفاضلة ، وقد كان الشعراء يفدون إليه صلى الله عليه وسلم بالقصائد ويرضى عملهم ويجزيهم على ذلك بالطيبات والصلاة ، فإذا كان يرضى عمن مدحه ، فكيف لايرضى عمن جمع شمائله الشريفة ، ففي ذلك التقرب له عليه السلام باستجلاب محبته ورضاه .

Ketujuh: melaksanakan sebagian kewajiban kita kepada beliau secara terbuka untuk membalas jasa beliau Nabi Muhammad SAW yaitu dengan menjelaskan sifat-sifat sempurna dan akhlaknya yang mulia, ada beberapa penya’ir menembangkan beberapa Qosidah (pujian-pujian) kepada beliau dan beliau ridho dan membalas perbuatan mereka dengan beberapa kebaikan dan do’a, maka ketika Nabi ridho dengan orang yang memujinya, lalu bagaimana mungkin Nabi tidak ridho dengan orang yang mengumpulkan tabiat/perangai-perangai mulia beliau, maka didalam hal tersebut tersimpan pendekatan kepada Nabi SAW dengan mendatangkan cinta dan ridhonya.

الثامن : أن معرفة شمائله ومعجزاته وإرهاصاته تستدعي كمال الإيمان به عليه الصلاة والسلام ، وزيادة المحبة إذ الإنسان مطبوع على حب الجميل ، خَلقا وخُلقا ، علما وعملا ، حالا واعتقادا ، ولا أجمل ولاأكمال ولا أفضل من أخلاقه وشمائله صلى الله عليه وسلم ،وزيادة المحبة وكمال الإيمان مطلوبان شرعا فما كان يستدعيهما فهو مطلوب كذلك .

Kedelapan: Sesungguhnya mengetahui karakter/ tabiat, Mukjizat dan kebaikan-kebaikan Nabi bisa menyebabkan imam (seseorang) kepada Nabi lebih sempurna dan bertambah cinta/senang kepada Nabi, karena karakter/tabiat manusia itu senangnya kepada yang bagus-bagus, baik dalam bentuk akhlak, ilmu amal, keadaan dan keyakinan dan tidak ada yang lebih bagus, lebih sempurna dan lebih utama /agung dari akhlak dan tabiat nabi, dan bertambahnya cinta/ senang dan iman yang sempurna kepadanya adalah suatu tuntutan (anjuran) Syari’at, maka apapun yang bisa menyebabkan keduanya adalah juga tuntutan Syari’at.

التاسع : أن تعظيمه صلى الله عليه وسلم مشروع ، والفرح بيوم ميلاده الشريف بإظهار السرور وصنع الولائم والاجتماع للذكر وإكرام الفقراء من أظهر مظاهر التعظيم والابتهاج والفرح والشكرلله ، بما هدانا لدينه القويم ، وما منّ به علينا من بعثه عليه أفضل الصلاة والتسليم .

Kesembilan: Sesungguhnya mengagungkan/ memuliakan Nabi Muhammad SAW adalah di syariatkan, dan gembira dengan kelahiran nabi dengan memperlihatkan kebahagiaan, mengadakan jamuan, berkumpul untuk berzikir dan memuliakan orang-orang fakir adalah merupakan penggungan yang palimg ketara, senang, gembira, suka ria bersyukur kepada Allah atas hidayah dan anugerah (di utusnya nabi Muhammad SAW) yang telah di berikan kepada kita.

العاشر : يؤخذ من قوله صلى الله عليه وسلم في فضل يوم الجمعة ، وعد مزاياه :

( وفيه خلق آدم ) تشريف الزمان الذي ثبت أنه ميلاد لأي نبي كان من الأنبياء عليهم السلام ، فكيف باليوم الذي ولد فيه أفضل النبيين وأشرف المرسلين ؟

Kesepuluh: Memuliakan hari kelahiran dimana pada hari itu para Nabi dilahirkan, itu berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW tentang keutamaan dan keistimewaan hari Jum’at: “Dan di hari tersebut Nabi Adam diciptakan”, Lalu bagaimana dengan hari kelahiran Nabi yang paling utama dan Rasul yang paling mulia?

ولا يختص هذا التعظيم بذلك اليوم بعينه بل يكون له خصوصا ولنوعه عموما مهما تكرر كما هو الحال في يوم الجمعة ، شكرا للنعمة ، وإظهارا لمزية النبوة ، وإحياء للحوادث التاريخية الخطيرة ذات الإصلاح المهم في تاريخ الإنسانية وجبهة الدهر وصحيفة الخلود كما يؤخذ تعظيم المكان الذي ولد فيه نبي من أمر جبريل عليه السلام النبي صلى الله عليه وسلم بصلاة ركعتين ببيت لحم ، ثم قال له : أتدري أين صليت ؟ قال : لا ، صليت ببيت لحم ، حيث ولد عيسى ، كما جاء ذلك في حديث شداد بن أوس الذي رواه البزار وأبو يعلى والطبراني ، قال الحافظ الهيثمي في مجمع الزوائد : ورجاله رجال الصحيح ج ١ ص ٤٧ ، وقد نقل هذه الرواية الحافظ ابن حجر في الفتح ج ٧7 ص 199 وسكت عنها .

Dan mengagungkan ini tidak tertentu pada hari senin 12 Rabi’ul Awal, hanya saja pada hari itu bersifat khusus dan untuk senin yang lain bersifat umum sewaktu berulang kembali, seperti halnya hari jum’at, sebagai ungkapan syukur atas nikmat Allah, memperlihatkan keistimewaan kenabiaan, menghidupkan sejarah-sejarah penting yang mempunyai nilai khazanah yang tinggi dalam sejarah manusia, pra sejarah dan simbol keabadian sebagaimana perintah Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW untuk mengagungkan tempat kelahiran Nabi Isa As. (Bait Lahm) dengan melakukan sholat dua raka’at, kemudian Malaikat Jibril bertanya kepada Nabi: “Taukah dimana anda sholat (Ya Rosulallah)”? Beliau menjawab: “tidak”, “Anda sholat di Bait Lahm tempat Nabi Isa dilahirkan” jawab Malaikat Jibril, seperti diterangkan dalam Hadist Syaddad bin Aus yang di riwayatkan al-Bazzar, Abu Ya’la dan At-Thobroni, al-Hafidz al-Haitsami berkata dalam Majmak As-Sawaid jilid 1 hal 47: Dan Rowi-Rowinya adalah Rowi-Rowi Hadist Shohih dan riwayat ini di nukil (di kutip) pula oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar di dalam Al-Fath jilid 7 hal 199, dan beliau tidak berkomentar tentang riwayat tersebut.

الحادي عشر : أن المولد أمرٌ استحسنه العلماء والمسلمون في جميع البلاد ، وجرى به العمل في كل صقع فهو مطلوب شرعاً للقاعدة المأخوذة من حديث ابن مسعود رضي الله عنه الموقوف ( ما رآه المسلمون حسناً فهو عند الله حسن ، وما رآه المسلمون قبيحاً فهو عند الله قبيح ) أخرجه أحمد .

Kesebelas: Sesungguhnya perayaan Maulid Nabi adalah hal yang dianggap bagus oleh para Ulama dan umat islam di seluruh Negeri dan dilaksanakan di seluruh daerah karena memang ada tuntutan Syari’at berdasarkan kaidah yang diambil dari Hadist Ibnu Mas’ud:“Sesuatu yang diyakini baik oleh orang islam, maka baik pula di sisi Allah, dan sesuatu yang diyakini jelek oleh orang islam, maka jelek pula di sisi Allah”.

الثاني عشر : أن المولد اشتمل على اجتماع وذكر وصدقة ومدح وتعظيم للجناب النبوي فهوسنة ، وهذه أمور مطلوبة شرعاً وممدوحة ، وقد جاءت الآثار الصحيحة بها وبالحثّ عليها .

 

Keduabelas: Sesungguhnya perayaan kelahiran Nabi itu terdiri atas perkumpulan, Dzikir, Sedekah, pujian dan memuliakan Nabi yang semuanya adalah sunnah dan merupakan tuntutan syari’at serta pekerjaan terpuji, karena ada beberapa Atsar as-Shohihah tentang hal tersebut dan anjuran untuk melaksanakannya.

الثالث عشر : أن الله تعالى قال : ( وكلاًّ نقصُّ عليك من أنباء الرسل ما نثبّت به فؤادك ) فهذا يظهر منه أن الحكمة في قصّ أنباء الرسل عليهم السلام تثبيت فؤاده الشريف بذلك ولا شك أننا اليوم نحتاج إلى تثبيت أفئدتنا بأنبائه وأخباره أشد من احتياجه هو صلّى الله عليه وسلّم .

Ketigabelas: Sesungguhnya Allah Swt berfirman: “dan semuanya (semua yang di butuhkan) kami ceritakan kepadamu, dari kisah-kisah para rasul, sesuatu yang dengan sesuatu tersebut, kami mantapkan hatimu (Muhammad)”, maka dari ayat ini sudah jelas sekali bahwa hikmah menceritakan kisah-kisah para utusan dapat memantapkan hati beliau yang mulia dan tidak ragu lagi bahwa sesungguhnya kita saat ini butuh untuk memantapkan hati kita dengan kisah-kisah Nabi melebihi butuhnya Nabi Muhammad SAW.

الرابع عشر : ليس كل ما لم يفعله السلف ولم يكن في الصدر الأول فهو بدعة منكرة سيئة يحرم فعلها ويجب الإنكار عليها, بل يجب أن يعرض ما أحدث على أدلة الشرع فما اشتمل على مصلحة فهو واجب ، أو على محرّم فهو محرّم ، أو على مكروه فهو مكروه ، أو على مباح فهو مباح ، أو على مندوب فهو مندوب ، وللوسائل حكم المقاصد ، ثم قسّم العلماء البدعة إلى خمسة أقسام :

Keempatbelas: Tidaklah semua perkara yang tidak dikerjakan oleh orang terdahulu dan tidak ada di awal masa adalah bid’ah yang tidak dibenarkan (bid’ah munkarot), jelek, haram dikerjakan dan wajib diingkari, bahkan wajib difilter dengan dalil-dali Syari’at, maka perkara yang mengandung kemaslahatan adalah wajib, yang mengandung sesuatu yang diharamkan adalah haram, yang mengandung makruh adalah makruh, yang mengandung mubah adalah mubah, yang mengandung sesuatu yang disunnahkan adalah Sunnah, dan hukum perantara (media) sama seperti tujuan, Kemudian para Ulama mengklasifikasi bid’ah menjadi lima macam:

واجبة : كالرد على أهل الزيغ وتعلّم النحو .

ومندوبة   : كإحداث الربط والمدارس ، والأذان على المنائر وصنع إحسان لم يعهد في الصدر الأول .

ومكروه    : كزخرفة المساجد وتزويق المصاحف .

ومباحة    : كاستعمال المنخل ، والتوسع في المأكل والمشرب .

ومحرمة : وهي ما أحدث لمخالفة السنة ولم تشمله أدلة الشرع العامة ولم يحتو على مصلحة شرعية .

Wajib   : Seperti menolak orang yang menyimpang dan belajar ilmu nahwu.

Sunnah : Seperti mendirikan Pondok dan Madrasah, Adzan diatas menara, berbuat baik yang tidak dikenal di masa awal.

Makruh  : Seperti menghiasi masjid dan memperindah al-Qur’an.

Mubah : Seperti menggunakan ayakan tepung, banyak makan dan minum.

Haram : Segala sesuatu yang baru yang tidak sesuai dengan as-Sunnah, tidak dimuat oleh dalil-dalil umum Syari’at dan tidak mengandung maslahah syar’iah.

 

الخامس عشر : فليست كل بدعة محرّمة ، ولو كان الأمر كذلك لحرُم جمع أبي بكر وعمر وزيد رضي الله عنهم القرآن وكتبه في المصاحف خوفاً على ضياعه بموت الصحابة القراء رضي الله عنهم ، ولحرم جمع عمر رضي الله عنه الناس على إمام واحد في صلاة القيام مع قوله😦نعمت البدعة هذه ) ولحرم التصنيف في جميع العلوم النافعة, ولوجب علينا حرب الكفار بالسهام والأقواس مع حربهم لنا بالرصاص والمدافع والدبابات والطيارات والغواصات والأساطيل ، ولحرم الأذان على المنائر واتخاذ الربط والمدارس والمستشفيات والإسعاف ودور اليتامى والسجون ، فمن ثَم قيّد العلماء رضي الله عنهم حديث (كل بدعة ضلالة ) بالبدعة السيئة ، ويصرّح بهذا القيد ما وقع من أكابر الصحابة والتابعين من المحدثات التي لم تكن في زمنه صلّى الله عليه وسلّم ، ونحن اليوم قد أحدثنا مسائل كثيرة لم يفعلها السلف وذلك كجمع الناس على إمام واحد في آخر الليل لأداء صلاة التهجد بعد صلاة التراويح ، وكختم المصحف فيها وكقراءة دعاء ختم القرآن وكخطبة الإمام ليلة سبع وعشرين في صلاة التهجد وكنداء المنادي بقوله ( صلاة القيام أثابكم الله ) فكل هذا لم يفعله النبي صلّى الله عليه وسلّم ولا أحد من السلف, فهل يكون فعلنا له بدعة ؟

   Kelimabelas: Tidak semua Bid’ah diharamkan, dan seandainya kenyataannya demikian, maka niscaya pengumpulan dan penulisan Al-Qur’an kedalam mushaf oleh sahabat Abu Bakar, Umar dan Zaid RA. karena khawatir terabaikan sebab wafatnya para sahabat yang pandai membaca (hafal) Al-Qur’an adalah haram, begitu pula pengumpulan sayyidina umar terhadap satu imam dalam sholat malam juga di haramkan, padahal beliau berkata: “Sebaik-baiknya Bid’ah adalah ini”, dan penyusunan dalam semua disiplin ilmu yang bermanfaat adalah haram, dan wajib bagi kita memerangi orang kafir dengan anak panah dan busur, padahal mereka memerangi kita dengan peluru, meriam, tank baja, kapal terbang, kapal selam dan armada (laut dan udara), dan niscaya haram pula adzan diatas menara, membuat pondok, madrasah (sekolah), rumah sakit, ambulan, panti asuhan dan penjara. Oleh sebab itu, Ulama membatasi Hadist    “كل بدعة ضلالة” dengan bid’ah sayyi’ah, dan batasan ini diperjelas dengan beberapa peristiwa (hal baru) yang terjadi dari para pembesar sahabat dan tabi’in (generasi setelah sahabat) yang tidak ada pada zaman Nabi Muhammad SAW sementara kita -sekarang- melakukan banyak hal yang tidak pernah dilakukan oleh orang-orang terdahulu seperti berjama’ah pada satu imam di akhir malam untuk melaksanakan sholat tahajjud setelah sholat tarawih, menghatamkan Al-Qur’an dalam sholat tahajjud, membaca do’a Khotmil Qur’an, khotbah Imam pada malam kedua puluh tujuh dalam sholat tahajjud danNida’ (panggilan shalat sunnah) dengan ucapan: “صلاة القيام اثابكم الله”. Semua ini tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dan orang-orang terdahulu. Apakah semua perbuatan kita itu Bid’ah?

السادس عشر : فالاحتفال بالمولد وإن لم يكن في عهده صلّى الله عليه وسلّم فهو بدعة ، ولكنها حسنة لاندراجها تحت الأدلة الشرعية ، والقواعد الكلية ، فهي بدعة باعتبار هيئتها الاجتماعية لا باعتبار أفرادها لوجود أفرادها في العهد النبوي, عُلم ذلك في الدليل الثاني عشر .

 Keenambelas: Perayaan maulid nabi meskipun tidak terjadi pada zaman Rasulullah SAW adalah bid’ah. akan tetapi tergolong Bid’ah Hasanah, karena masih sesuai dengan dalil syar’i dan kaidah-kaidah umum. Perayaan Maulid Nabi termasuk bid’ah jika dipandang dari bentuknya secara umum, dan tidak termasuk bid’ah jika dipandang dari segi satuannya, karena terdapat pada zaman Rasulullah, hal tersebut bisa diketahui pada dalil kedua belas.

السابع عشر : وكل ما لم يكن في الصدر الأول بهيئته الاجتماعية لكن أفراده موجودة يكون مطلوباً شرعاً ، لأن ما تركّب من المشروع فهو مشروع كما لا يخفى .

   Ketujuhbelas: Segala sesuatu yang tidak terdapat pada kurun waktu pertama dengan bentuk secara umum, tetapi yang terdapat satuannya, maka hal ini dianjurkan dalam syari’at, karena sesuatu yang tersusun dari yang disyari’atkan, maka juga disyari’atkan seperti yang kita ketahui.

الثامن عشر : قال الإمام الشافعي رضي الله عنه : ما أحدث وخالف كتاباً أو سنة أو إجماعاً أو أثراً فهو البدعة الضالة ، وما أحدث من الخير ولم يخالف شيئاً من ذلك فهو المحمود ، اهـ .

Kedelapanbelas: Imam Syafi’i RA berkata: Perkara baru yang bertentangan dengan Al-Qur’an, Hadist, Ijma’ ataupun Atsar, adalah bid’ah yang sesat (menyesatkan), sedangkan perkara baru yang baik dan tidak bertentangan dengan salah satunya, maka termasuk hal yang terpuji.

وجرى الإمام العز بن عبد السلام والنووي كذلك وابن الأثير على تقسيم البدعة إلى ما أشرنا إليه سابقا .

Imam Izzuddin bin Abdussalam, Imam An-nawawi dan Ibnu al-Atsir mengklasifikasikan (membagi) bid’ah menjadi lima bagian seperti yang telah kami sebutkan diatas.

التاسع عشر : فكل خير تشمله الأدلة الشرعية ولم يقصد بإحداثه مخالفة الشريعة ولم يشتمل على منكر فهو من الدين .

   Kesembilanbelas: Segala kebaikan yang terkandung dalam dalil-dalil syari’at, yang diadakan tidak bertujuan menentang Syari’at serta tidak mengandung kemungkaran, maka termasuk bagian dari agama.

وقول المتعصب : ” إن هذا لم يفعله السلف ” ليس هو دليلاً له بل هو عدم دليل كما لا يخفى على مَن مارس علم الأصول ، فقد سمى الشارع بدعة الهدى سنة ووعد فاعلها أجراً فقال عليه الصلاة والسلام : ( مَنْ سنّ في الإسلام سنة حسنة فعمل بها بعده كُتب له مثل أجر مَن عمل بها ولا ينقص من أجورهم شيء)

Adapun pernyataan orang yang fanatik (penentang Maulid Nabi): “Sesungguhnya perayaan ini belum pernah dilaksanakan oleh orang-orang terdahulu”, itu bukanlah sebuah dalil bahkan hal itu menunjukkan bahwa mereka tidak punya dalil, sebagaimana yang sudah maklum di kalangan orang yang menekuni ilmu Ushul, maka sesungguhnya pembawa syari’at (Nabi Muhammad SAW) menyebut Bid’ah Al-Huda dengan sunnah (perbuatan baik) dan menjanjikan pahala bagi pelakunya. Nabi bersabda: Barang siapa melakukan kebaikan dalam Islam lalu diamalkan orang-orang setelahnya, maka orang itu mendapat pahala seperti pahala orang yang mengamalkannya dan tanpa dikurangi sedikitpun.

 

العشرون : أن الاحتفال بالمولد إحياء لذكرى المصطفى صلّى الله عليه وسلّم وذلك مشروع عندنا في الإسلام ، فأنت ترى أن أكثر أعمال الحج إنما هي إحياء لذكريات مشهودة ومواقف محمودة فالسعي بين الصفا والمروة ورمي الجمار والذبح بمنى كلها حوادث ماضية سابقة ، يحيي المسلمون ذكراها بتجديد صُوَرِها في الواقع والدليل على ذلك قوله تعالى : ( وأذِّن في الناس بالحج ) وقوله تعالى حكاية عن إبراهيم وإسماعيل عليهما السلام ( وأرنا مناسكنا )

 

     Keduapuluh: Sesungguhnya perayaan maulid Nabi adalah pelestarian terhadap peringatan Nabi besar Muhammad SAW yang disyari’atkan -menurut kita- dalam islam, maka anda telah melihat bahwa sesungguhnya kebanyakan amalan Haji itu merupakan pelestarian peringatan-peringatan dan tempat perkumpulan yang terpuji, pelaksanaan sa’i (lari-lari kecil) antara bukit shofa dan bukit marwa, melontar jumrah dan menyembelih hewan kurban di Mina, itu semua adalah peristiwa-peristiwa masa lalu yang di lestarikan kembali (diperingati) oleh orang islam dengan memperbaharui bentuk pelaksanaannya, sedangkan dalilnya adalah firman Allah SWT:           “وأذن فى الناس بالحج” dan firman Allah SWT yang menceritakan tentang Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail As:       ” وأرنا مناسكنا ”

الحادي والعشرون : كل ما ذكرناه سابقا من الوجوه في مشروعية احتفالات المولد الشريف إنما هو احتفالاته التي خلت من المنكرات المذمومة التي يجب الإنكار عليها ، أما إذا اشتمل المولد على شئ مما يجب الإنكار عليه كاختلاط الرجال بالنساء وارتكاب المحرمات وكثرة الإسراف مما لا يرضى به صاحب المولد الشريف صلّى الله عليه وسلّم فهذا لاشك في تحريمه ومنعه لما اشتمل عليه من المحرمات لكن تحريمه حينئذ يكون عارضيا لا ذاتيا كما لايخفى على مَن تأمّل ذلك.

 Keduapuluhsatu: semua yang telah kami sebutkan diatas tentang legalitas (disyari’atkannya) perayaan-perayaan Maulid Nabi itu hanya perayaan-perayaan yang tidak ada unsur kemungkaran-kemungkaran yang tercela yang wajib diingkari. Adapun perayaan-perayaan maulid nabi yang mengandung sesuatu yang wajib diingkari seperti bercampurnya laki-laki dan perempuan, melakukan hal-hal yang diharamkan dan terlalu berlebihan, dari sesuatu yang tidak diridhoi oleh shahibul maulid (Nabi Muhammad SAW), maka ini tidak diragukan lagi keharaman serta terlarangnya, karena mengandung sesuatu yang diharamkan, akan tetapi dalam hal ini keharamannya bersifat ‘Aridliy (eksternal) bukan bersifat Dzatiyah (internal). Seperti keterangan yang sudah jelas bagi orang yang berfikir tentang hal ini.

رأي الشيخ ابن تيمية في المولد

يقول : قد يُثاب بعض الناس على فعل المولد ، وكذلك ما يحدثه بعض الناس إما مضاهاة للنصارى في ميلاد عيسى عليه السلام وإما محبة للنبي صلّى الله عليه وسلّم وتعظيما له ، والله قد يثيبهم على هذه المحبة والاجتهاد لا على البدع ، ثم قال :

واعلم أن من الأعمال ما يكون فيه خير لاشتماله على أنواع من المشروع ، وفيه أيضاً شر من بدعة وغيرها فيكون ذلك العمل شراً بالنسبة إلى الإعراض عن الدين بالكلية كحال المنافقين والفاسقين .

Pendapat Syaikh Ibnu Taimiyah

tentang Maulid Nabi SAW.

Syaikh Ibnu Taimiyah berkata: Terkadang sebagian orang mendapatkan pahala sebab merayakan Maulid Nabi, seperti halnya yang dilaksanakan oleh mereka, ada kalanya karena menyerupai orang Nasrani dalam merayakan kelahiran Nabi Isa As, dan ada kalanya karena cinta dan mengagungkan Nabi Muhammad SAW, Allah memberikan pahala kepada mereka karena cinta dan ijtihad bukan karena bid’ah, kemudian beliau berkata:

Ketahuilah bahwa sesungguhnya perbuatan itu ada yang baik karena mengandung perkara-perkara yang disyari’atkan, dan ada yang buruk karena berisi bid’ah dan selainnya, maka suatu perbuatan dianggap buruk, jika tergolong I’rod ‘An-Addin (berpaling dari agama) secara menyeluruh seperti perilaku orang-orang munafiq dan orang-orang fasiq.

وهذا قد ابتلي به أكثر الأمة في الأزمان المتأخرة

فعليك هنا بأدبين :

Dan inilah ujian bagi kebanyakan umat di akhir zaman. Maka pertahankanlah dua prinsip ini:

أحدهما : أن يكون حرصك على التمسك بالسنة باطناً وظاهراً في خاصتك وخاصة من يطيعك وأعرف المعروف وأنكر المنكر.

ر

Pertama: Benar-benar berpegang teguh dengan As-Sunnah lahir bathin terutama diri anda dan para pengikut anda, betul-betul melakukan perkara yang baik dan menjauhi perkara yang munkar.

الثاني : أن تدعو الناس إلى السنة بحسب الإمكان ، فإذا رأيت من يعمل هذا ولا يتركه إلا من شر منه فلا تَدْعُو إلى ترك منكر بفعل ما هو أنكر منه أو بترك واجب أو مندوب تركه أضر من فعل ذلك المكروه ، ولكن إذا كان في البدعة نوع من الخير فعوّض عنه من الخير المشروع بحسب الإمكان ، إذ النفوس لا تترك شيئاً إلا بشئ ولا ينبغي لأحد أن يترك خيراً إلا إلى مثله أو إلى خير منه ثم قال :

Kedua: Sebisa mungkin mengajak orang lain terhadap As-Sunnah, jika anda melihat orang melakukan hal ini dan dia tidak akan meninggalkannya kecuali akan ada hal yang lebih buruk, Maka janganlah anda mengajak orang lain meninggalkan kemungkaran dengan melakukan perkara yang lebih mungkar, atau dengan cara meninggalkan perkara wajib atau sunnah yang lebih berbahaya dari pada melakukan perkara makruh tersebut, akan tetapi ketika Bid’ah tersebut berpotensi kebaikan, maka gantilah dengan kebaikan yang dianjurkan oleh syari’at, karena jiwa seseorang tidak akan meninggalkan sesuatu kecuali sebab sesuatu yang lain, dan tidak pantas bagi seseorang meninggalkan perkara yang baik kecuali pada kebaikan yang sama atau yang lebih baik, kemudian beliau berkata:

فتعظيم المولد واتخاذه موسماً قد يفعله بعض الناس ويكون له فيه أجر عظيم لحسن قصده وتعظيمه لرسول الله صلّى الله عليه وسلّم كما قدمته لك أنه يحسن من بعض الناس ما يستقبح من المؤمن المسدد ، ولهذا قيل للإمام أحمد عن بعض الأمراء إنه أنفق على مصحف ألف دينار ونحو ذلك فقال : دعه فهذا أفضل ما أنفق فيه الذهب أو كما قال ، مع أن مذهبه : أن زخرفة المصاحف مكروهة ، وقد تأول بعض الأصحاب أنه أنفقها في تجديد الورق والخط ، وليس مقصود أحمد هذا وإنما قصده أن هذا العمل فيه مصلحة وفيه أيضاً مفسدة كُره لأجلها .

Mengagungkan dan menjadikan Maulid Nabi SAW sebagai rutinitas musiman itu telah dilakukan oleh sebagian orang, dan di situ ada pahala yang sangat agung, karena tujuan yang baik dan pengagungan kepada Rasulallah SAW seperti yang telah dipaparkan diatas bahwa perkara yang dianggap baik oleh sebagian orang adalah buruk di mata sebagian orang islam garis keras, oleh sebab itu Imam Ahmad pernah ditanya mengenai sebagian pemimpin yang telah menginfakan seribu dinar untuk mushaf Al-Qur’an dan sebagainya, maka beliau menjawab: “biarkan! karena Al-Qur’an adalah perkara yang paling utama untuk dibiayai”, Sementara prinsip madzhab beliau: Sesungguhnya menghiasi Mushaf Al-Qur’an hukumnya makruh, dan Ba’dlu Al-Ashhab sudah menjelaskan bahwa penginfakan tersebut adalah untuk memperbaharui kertas dan tulisan Al-Qur’an, sedangkan tujuan Imam Ahmad tidak demikian. Akan tetapi maksud beliau adalah bahwa dalam pekerjaan ini terdapat maslahah dan mafsadah yang bisa berdampak makruh.

مفهوم المولد في نظري

إننا نرى ان الاحتفال بالمولد النبوي الشريف ليست له كيفية مخصوصة لابد من الإلتزام او إلزام الناس بها , بل أن كل ما يدعو الى الخير ويجمع الناس على الهدى ويرشدهم الى ما فيه منفعتهم في دينهم ودنياهم يحصل به تحقيق المقصود من المولد النبوي .

 

Pemahaman maulid dalam pandanganku

 

Sesungguhnya kita meyakini bahwasannya perayaan maulid Nabi itu tidak mempunyai cara tertentu yang wajib dikerjakan atau dianjurkan untuk dikerjakan, akan tetapi setiap sesuatu yang dapat menarik kebaikan, bisa mengajak manusia atas petunjuk dan bisa menuntun mereka terhadap sesuatu yang bermanfaat bagi agama dan dunianya, maka hal itu dapat menghasilkan sesuatu yang di maksud dari Maulid Nabi SAW.

ولذلك فلو اجتمعنا على شئ من المدائح التي فيها ذكرالحبيب صلّى الله عليه وسلّم وفضله وجهاده وخصائصه ولم نقرأ قصة المولد النبوي التي تعارف الناس على قراءتها واصطلحوا عليها حتى ظن بعضهم أن المولد النبوي لا يتم إلا بها ، ثم استمعنا إلى ما يلقيه المتحدثون من مواعظ وإرشادات وإلى ما يتلوه القارئ من ايات. أقول : لو فعلنا ذلك فإنه داخل تحت المولد النبوي الشريف ويتحقق به معنى الاحتفال بالمولد النبوي الشريف ، وأظن أن هذا المعنى لا يختلف عليه اثنان ولا ينتطح فيه عنـزان

.

Karena itulah, jika kita berkumpul untuk mengerjakan hal-hal yang terpuji yang di dalamnya terdapat unsur untuk mengingat kepada Nabi Muhammad SAW, keutamaan, jihad, dan keistimewaannya, Sedangkan kita tidak membaca kisah Maulid Nabi yang sudah menjadi tradisi di kalangan orang-orang Islam, sehingga di antara mereka menyangka bahwa maulid nabi tidak sempurna kecuali dengan pembacaan kisah Maulid Nabi, kemudian kita mendengarkan mau’idzoh, petunjuk kebaikan, dan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Maka saya berpendapat: “Jika kita mengerjakan hal itu, maka sudah masuk dalam pengertian Maulid Nabi, dan dengan hal itu pula, tercapailah sebuah maksud dari perayaan Maulid Nabi, dan saya yakin pengertian ini tidak akan membuat dua pihak berbeda pendapat dan tidak akan terjadi pertarungan dua domba betina dalam menyikapi persoalan ini”.

القيام في المولد

أما القيام في المولد النبوي عند ذكر ولادته صلّى الله عليه وسلّم وخروجه إلى الدنيا ، فإن بعض الناس يظن ظناً باطلاً لا أصل له عند أهل العلم فيما أعلم بل عند أجهل الناس ممن يحضر المولد ويقوم مع القائمين ، وذلك الظن السيئ هو أن الناس يقومون معتقدين أن النبي صلّى الله عليه وسلّم يدخل إلى المجلس في تلك اللحظة بجسده الشريف ، ويزيد سوء الظن ببعضهم فيرى أن البخور والطيب له وأن الماء الذي يوضع في وسط المجلس ليشرب منه .

Berdiri saat perayaan Maulid Nabi SAW.

Berdiri saat perayaan Maulid Nabi SAW ketika menyebut kelahiran Nabi ke dunia, maka sesungguhnya sebagian orang mempunyai prasangka batil yang tidak ada dasarnya menurut para Ulama, bahkan menurut orang terbodoh sekalipun yang menghadiri perayaan Maulid dan sama-sama berdiri dengan mereka. Prasangka jelek tersebut adalah bahwasanya orang-orang yang berdiri meyakini bahwa jasad Nabi Muhammad SAW yang mulia hadir di majelis pada momen tersebut, diperparah lagi oleh sebagian mereka yang meyakini bahwasanya dupa dan wewangian diperuntukkan kepada Nabi Muhammad SAW dan air yang diletakkan di tengah majelis agar diminum oleh Nabi SAW.

ولكل هذه الظنون لا تخطر ببال عاقل من المسلمين ، وإننا نبرأ إلى الله من كل ذلك لما في ذلك من الجراءة على مقام رسول الله صلّى الله عليه وسلّم والحكم على جسده الشريف بما لايعتقده إلا ملحد مفتر وأمور البرزخ لا يعلمها إلا الله سبحانه وتعالى.

والنبي صلّى الله عليه وسلّم أعلى من ذلك وأكمل وأجل من أن يُقال في حقه أنه يخرج من قبره ويحضر بجسده في مجلس كذا.. في ساعة كذا.

Dan tentunya prasangka-prasangka ini tidak akan pernah terlintas dalam hati orang muslim yang berakal sehat, dan kepada Allah-lah kami berlepas dari semua itu karena di dalamnya terdapat kelancangan atas derajat Rasululllah SAW, menghukumi jasad mulia beliau dengan sesuatu yang tidak akan pernah diyakini kecuali oleh orang kafir yang suka berdusta, dan urusan alam barzah (alam kubur) yang tidak seorangpun tahu kecuali Allah SWT.

Padahal Nabi Muhammad SAW lebih tinggi dari prasangka tersebut, lebih sempurna dan agung dari anggapan mereka tentang hak beliau yang mengatakan: “sesungguhnya Nabi keluar (bangkit) dari kuburnya dan hadir dengan jasadnya di majelis ini… pada saat ini….

أقول : هذا افتراء محض وفيه من الجراءة والوقاحة والقباحة ما لا يصدر إلا من مبغض حاقد أو جاهل معاند.

Pendapat saya: ini murni rekayasa yang ada unsur kelancangan, tidak punya rasa malu dan kekejian yang tidak akan pernah dilakukan kecuali oleh seorang pembenci dan pendendam atau orang bodoh yang durhaka.

نعم إننا نعتقد أنه صلّى الله عليه وسلّم حيٌّ حياة برزخية كاملة لائقة بمقامه ، وبمقتضى تلك الحياة الكاملة العليا تكون روحه صلّى الله عليه وسلّم جوّالة سيّاحة في ملكوت الله سبحانه وتعالى ويمكن أن تحضر مجالس الخير ومشاهد النور والعلم ، وكذلك أرواح خُلّص المؤمنين من أتباعه ،

وقد قال مالك : بلغني أن الروح مرسلة تذهب حيث شاءت

وقال سلمان الفارسي : أرواح المؤمنين في برزخ من الأرض تذهب حيث شاءت . (كذا في الروح لابن القيم ص ١٤٤).

Betul… Sesungguhnya kami meyakini bahwasanya Nabi Muhammad SAW itu hidup di alam barzah yang sempurna dan pantas dengan kedudukan (derajat)nya, dan kehidupan sempurna yang agung ini menjadikan ruh Nabi bisa berkelana dan bertamasya di kerajaan Allah SWT dan memungkinkan untuk menghadiri majelis-majelis kebaikan dan tempat munculnya cahaya dan ilmu, begitu pula arwah para pengikut beliau yakni mereka orang mukmin yang ikhlas.

Imam Malik sungguh telah berkata: Telah sampai kepadaku keterangan bahwasanya arwah itu bebas dan bisa berjalan kapanpun.

Dan Salman Al-Farisi berkata: Di bumi alam barzah, arwah orang-orang mukmin itu bebas dan bisa pergi kapanpun. (Begitu pula dalam kitab Ar-Ruh karya Ibnu Al-Qoyyim Hal. 144).

إذا علمت هذا فاعلم أن القيام في المولد النبوي ليس هو بواجب ولا سنة ولا يصح اعتقاد ذلك أبداً ، وإنما هو حركة يعبّر بها الناس عن فرحهم وسرورهم, فإذا ذكر أنه صلّى الله عليه وسلّم ولد وخرج إلى الدنيا يتصور السامع في تلك اللحظة أن الكون كله يهتز فرحاً وسروراً بهذه النعمة فيقوم مظهراً صلّى الله عليه وسلّم لذلك الفرح والسرور معبّراً عنه , فهي مسألة عادية محضة لادينية ، إنها ليست عبادة ولا شريعة ولا سنة وما هي إلا أنْ جرت عادة الناس بها

Ketika anda sudah mengerti hal ini, maka ketahuilah bahwasanya berdiri dalam perayaan maulid Nabi SAW   itu tidak wajib dan tidak sunnah, dan keyakinan tersebut selamanya tidak bisa dibenarkan, hal itu hanya sebuah ekspresi dalam mengungkapkan kegembiraan dan kebahagian mereka, oleh sebab itu jika disebutkan bahwasanya Nabi Muhammad SAW lahir kedunia maka orang yang mendengar akan membayangkan pada momen tersebut bahwasanya seluruh mahluk bergerak karena gembira dan bahagia dengan nikmat ini, lalu dia berdiri untuk menampakkan kegembiraan dan kebahagian dalam rangka mengekspresikan hal tersebut, maka ini murni masalah tradisi bukan masalah keagamaan, ibadah, syari’at dan sunnah. Dan hal ini tidak lain kecuali hanyalah sebuah tradisi.

استحسان العلماء لقيام المولد وبيان وجوهه

واستحسن ذلك من استحسنه من أهل العلم ، وقد أشار إلى ذلك البرزنجي مؤلف أحد الموالد النبوية بنفسه إذ قال بالنّص : ( وقد استحسن القيام عند ذكر مولده الشريف أئمةٌ ذووا رواية ورويّة ، فطوبى لمن كان تعظيمه صلّى الله عليه وسلّم غاية مرامه ومرماه )

Berdiri saat perayaan Maulid dianggap baik oleh para Ulama dan penjelasan pelbagai pendapat

 

Berdiri saat perayaan Maulid dianggap baik oleh para Ulama dan telah disinyalir oleh Al Barzanji salah satu penyusun kitab Maulid dengan sebuah Nash: “Berdiri saat perayaan Maulid Nabi yang mulia sungguh dianggap baik oleh para imam (para perawi), maka sungguh beruntung orang yang mengagungkan Nabi Muhammad SAW sebagai puncak dari maksud dan tujuannya”.

ونعنى بالاستحسان للشيئ هنا كونه جائزا من حيث ذاته واصله ومحمودا مطلوبا من حيث بواعثه وعواقبه لا بالمعنى المصطلح عليه في اصول الفقه , واقل الطلاب علما يعرف ان كلمة (استحسن) يجري استعمالها فى الامور العادية المتعارف عليها بين الناس فيقولون : استحسنت هذا الكتاب , وهذا الأمر مستحسن , واستحسن الناس هذه الطريقة , ومرادهم بذلك كله هو الاستحسان العادي اللغوي والا كانت امور الناس اصولا شرعية ولا يقول بهذا عاقل او من عنده أدنى إلمام بالاصول .

Maksud kami dengan menganggap baik suatu perkara dalam bab ini adalah adanya suatu perkara tersebut boleh dari segi dzatiyah dan dasarnya, terpuji dan menjadi tuntutan dari segi adanya motivasi dan konsekwensinya, bukan dengan arti yang menjadi istilah dalam ushul fiqh, pelajar yang paling minim pengetahuannya sekalipun tahu bahwa kata “استحسن” berlaku dalam pelbagai tradisi yang sudah masyhur di kalangan masyarakat, lalu mereka mengatakan: “Saya menganggap bagus kitab ini, perkara ini dianggap bagus, dan masyarakat menganggap bagus metode ini”, sedangkan maksud mereka dengan pelbagai perkataan ini adalah sebuah anggapan biasa yang bersifat bahasa, karena kalau tidak demikian, maka semua urusan manusia adalah dasar-dasar syariat yang tidak akan pernah dikatakan oleh seorang yang berakal sehat atau orang yang sedikit tahu tentang ilmu ushul.

   وجوه استحسان القيام:

     الوجه الأول : انه جرى عليه العمل فى سائر الأقطار والأمصار واستحسنه العلماء شرقا وغربا والقصد به تعظيم صاحب المولد الشريف صلى الله عليه وسلم وما استحسنه المسلمون فهو عند الله حسن وما استقبحوه فهوعند الله قبيح كما تقدم فى الحديث عن ابن مسعود .

Pelbagai pendapat yang menganggap baik Qiyam (berdiri saat perayaan Maulid)

 

Pendapat pertama: Bahwasanya Qiyam itu sudah menjadi tradisi di seluruh pedesaan dan perkotaan serta dianggap baik oleh para Ulama, baik dari daerah timur maupun barat, sedangkan maksud dari Qiyam adalah mengagungkan Nabi besar Muhammad SAW sebagai pemilik peristiwa Maulid tersebut. Segala sesuatu yang dianggap baik oleh kaum muslimin, maka baik pula di sisi Allah. Sebaliknya, segala sesuatu yang dianggap buruk oleh mereka, maka buruk pula di sisi-Nya, sebagaimana Hadist dari Ibnu Mas’ud yang sudah dijelaskan di atas.

الوجه الثاني : أن القيام لاهل الفضل مشروع ثابت بالأدلة الكثيرة من السنة , وقد الف الإمام النواوي في ذلك جزأ مستقلا وايده ابن حجر ورد على من اعترض على النواوي بجزء سماه : “رفع الملام عن القائل باستحسان القيام” .

Pendapat kedua: Sesungguhnya berdiri untuk menghormati orang yang mempunyai keutamaan itu disyari’atkan sesuai dengan berbagai dalil Hadist. Dalam hal ini, Imam An-Nawawi secara khusus telah menyusun sebuah kitab yang dikuatkan oleh Imam Ibnu Hajar, dan beliau juga menolak atas penentang Imam An-Nawawi dengan sebuah kitab yang diberi nama: “Rof’ul Malam ‘Anil Qoil Bistihsanil Qiyam”.

     الوجه الثالث : ورد في الحديث المتفق عليه قوله صلى الله عليه وسلم خطابا للأنصار : (قوموا الى سيدكم) , وهذا القيام كان تعظيما لسيدنا سعد رضي الله عنه ولم eيكن من اجل كونه مريضا , وإلا لقال : قوموا الى مريضكم ولم يقل الى سيدكم ولم يأمر الجميع بالقيام بل كان قد امر البعض .

     Pendapat ketiga: Sabda Nabi Muhammad SAW dalam sebuah Hadist yang ditujukan pada sahabat Anshar: “Berdirilah untuk menghormati pemimpin kalian”. Berdiri ini merupakan bentuk penghormatan terhadap Sayyid Sa’ad RA dan bukan karena beliau sedang sakit, karena kalau tidak, maka niscaya beliau bersabda: “Berdirilah untuk menghormati orang sakit”dan tidak bersabda: “untuk menghormati pemimpin kalian” dan tidak memerintah semuanya untuk berdiri akan tetapi hanya sebagian.

الوجه الرابع : كان من هدي النبي صلى الله عليه وسلم ان يقوم تعظيما للداخل عليه وتأليفا كما قام لا بنته فاطمة وأقرها على تعظيمها له بذلك وأمر الأنصار بقيامهم لسيدهم فدل ذلك على مشروعية القيام وهو صلى الله عليه وسلم أحق من عظم لذلك .

     Pendapat keempat: Diantara petunjuk Nabi Muhammad SAW adalah berdiri untuk mengagungkan dan menyayangi terhadap orang yang sowan kepada beliau, sebagaimana beliau berdiri untuk putrinya Sayyidah Fatimah dan beliaupun membiarkan siti Fatimah untuk mengagungkan beliau dengan cara berdiri dan memerintah sahabat Anshar berdiri untuk pemimpin mereka, maka hal tersebut menunjukkan legalitas Qiyam. Sedangkan Nabi Muhammad SAW adalah orang yang paling berhak untuk dihormati.

     الوجه الخامس : قد يقال إن ذلك في حياته وحضوره صلى الله عليه وسلم وهو في حالة المولد غير حاضر , فالجواب عن ذلك : أن قارئ المولد الشريف مستحضر له صلى الله عليه وسلم بتشخيص ذاته الشريفة , وهذا التصور شيئ محمود ومطلوب بل لابد ان يتوفر في ذهن المسلم الصادق في كل حين ليكمل اتباعه له صلى الله عليه وسلم وتزيد محبته فيه صلى الله عليه وسلم ويكون هواه تبعا لما جاء به .

     Pendapat kelima: Terkadang ada yang mengatakan bahwasannya menghormati beliau dengan berdiri itu terjadi pada saat beliau masih hidup dan hadir, sedangkan beliau di waktu perayaan Maulid tidak hadir, maka jawabannya: “Bahwasannya orang yang membaca Maulid As-Syarif itu menganggap beliau ( Nabi Muhammad SAW ) dengan membayangkan dzat beliau yang mulia”. Gambaran semacam ini merupakan sesuatu yang terpuji dan memang dianjurkan, bahkan harus ditanamkan di dalam hati orang islam setiap saat, supaya Ittiba’(ikut kepada Nabi SAW) menjadi sempurna dan rasa cinta semakin bertambah serta selalu mengikuti segala sesuatu yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

فالناس يقومون إحتراما وتقديرا لهذا التصور الواقع في نفوسهم عن شخصية ذلك الرسول العظيم مستشعرين جلال الموقف وعظمة المقام وهو أمر عادي كما تقدم , ويكون استحضار الذاكر ذلك موجبا لزيادة تعظيمه صلى الله عليه وسلم.

Maka, berdirinya manusia untuk memuliakan dan membayangkan fisik Rasulullah SAW yang hadir di dalam hati dan merasakan keagungan serta kebesaran derajat beliau adalah sesuatu yang lumrah sebagaimana di atas, dan berusaha untuk menghadirkan hal tersebut bisa menambah pengagungan kepada Nabi Muhammad SAW.

بدع المولد النبوي

 

     لا شك أن هناك بدعا ومخالفات تقع في حفلات المولد النبوي التي تعقد في بعض البلاد العربية والاسلامية , وقد حذرنا منها ونبهنا الى ضررها وشرها كثيرا , ولكن شيئا من ذلك لا يقع بفضل الله في المجالس والمحافل والاجتماعات التي تنعقد في الحرمين الشرفين خاصة , والمملكة العربية السعودية عامة , كيف لا .. وهي مهبط الوحي ومولد الاسلام ورسول الاسلام صلى الله عليه وسلم وفيها الحكم بالشريعة الاسلامية , وفيه الامر بالمعروف والنهي عن المنكر , وهي معقل التوحيد وحصنه الحصين ودرعه المتين وعنها يؤخذ الخير ومنها يروى الفضل واليها يلجأ أهل الحق , وانما نذكر ما يقع في بعض البلدان الاسلامية , فمن ذلك اختلاط الرجال بالنساء وهو من أعظم أبواب الشر واكبر اسباب الفتنة , كما جاء في الحديث .

 

Bid’ah-bid’ah dalam perayaan maulid Nabi SAW.

Tidak diragukan lagi bahwasannya dalam perayaan maulid Nabi terdapat bid’ah-bid’ah dan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di sebagian negara Arab dan Islam, dan kami sudah sering mewanti-wanti dan mengingatkan akan bahaya dan kejelekan hal tersebut. akan tetapi dengan anugerah Allah SWT, tidak sedikitpun hal tersebut terjadi di beberapa majlis, perayaan, perkumpulan yang di laksanakan di Haramain (Makkah dan Madinah) yang mulia khususnya, dan umumnya di seluruh daerah kerajaan arab saudi, Bagaimana tidak….? sedangkan kerajaan arab saudi adalah tempat turunnya wahyu, tempat lahirnya islam dan utusan islam yakni Nabi Muhammad SAW, dan yang di dalamnya syari’at islam diberlakukan, yang mencakupi Amar ma’ruf Nahi mungkar, dan Negara-negara tersebut merupakan tempat berlindung yang menjadi benteng tauhid, dan dari sana kebaikan diambil, keutamaan di ceritakan dan juga disana orang-orang baik berlindung. Kami hanya menyebutkan peristiwa yang terjadi di sebagian Negara-negara Islam, diantaranya adalah bercampurnya laki-laki dan perempuan, yang hal itu merupakan pintu dan pemicu kejelekan serta fitnah yang paling besar, seperti keterangan dalam sebuah Hadits.

ومن بدع الموالد ما يفعله بعض الجهال في بعض البلاد من اللهو واللعب والغناء المحرم وما يتبع ذلك من السهر في معصية الله والاستهانة بمحارم الله فلا حول ولا قوة الا بالله .

Dan diantara bid’ah perayaan Maulid adalah perayaan yang di lakukan oleh orang-orang bodoh disebagian Negara seperti hiburan, bercanda gurau, nyanyian yang di haramkan, sesuatu yang ikut pada hal tersebut seperti begadang (tidak tidur di malam hari) untuk bermaksiat kepada Allah SWT dan meremehkan terhadap hal-hal yang diharamkan oleh-Nya, maka tiada daya dan kekuatan tanpa pertolongan dari Allah SWT.

ومن بدع الموالد ما يحصل من بعض من يحتفل بالموالد من فعل المنكرات والتهاون بالصلوات والتعامل بالربا وتضييع السنن الظاهرة والباطنة فلا حول ولا قوة إلا بالله .

Dan diantara Bid’ah perayaan Maulid adalah perayaan yang dilakukan oleh sebagian orang, seperti mengerjakan kemungkaran, meremehkan sholat maktubah, bertransaksi atau melakukan praktek Riba, menyia-nyiakan Sunnah dzohir dan batin, maka tiada daya dan kekuatan tanpa pertolongan dari Allah SWT.

ومن أقبح أنواع الغفلة والإعراض عن الخير وعن الذي جاء به صلى الله عليه وسلم أن يحتفل بعض الناس بالمولد في ليلة ما ، ثم يهجرونه بقية أيام السنة فلا يجتمعون على سيرته ولا يتذاكرون أخباره .

Dan diantara macam-macam lupa dan berpaling dari kebajikan dan dari apa yang telah dibawa oleh Rasulallah SAW yang paling buruk adalah perayaan maulid oleh sebagian orang hanya pada malam tertentu, kemudian meninggalkannya pada hari-hari yang lain, dan tidak berkumpul untuk mendengarkan atau mengkaji sejarah serta saling mengingat kisah-kisah Nabi Muhammad SAW.

ومن بدع الموالد التي تقع في بعض البلاد الإعتناء بذكره صلى الله عليه وسلم والإهتمام بسيرته وقراءة أخباره وتعطير المجالس بشمائله وفضائله ومدحه والثناء عليه وإطعام الطعام وفعل الخير وأنواع الإكرام في شهر الربيع فقط بمناسبة المولد النبوي الشريف , وهي أعمال لا يشك عاقل مسلم في صلاحها وحسنها وفضلها , ولكن الواجب أن لا يقتصر فعلها على شهر الربيع فقط ، بل الواجب على المسلمين أن يقوموا بذلك دائما وأبدا في كل أيام السنة، لأن ذكرى الرسول صلى الله عليه وسلم لا تحدد باوقات ولا تكفي فيها ايام مخصوصة إنها حياة المسلم التي ينبغي ان يعيشها يوميا وان يتذكرها في جميع شئون حياته, وينبغي ان تكون هذه الاجتماعات مفتاحا للتنبيه على هذه الحقائق والإرشاد الى هذه المعاني الجليلة , فلو سلم المولد النبوي من البدع التي ذكرناها وغيرها لكان أعظم وسيلة للخير واجل باب للدعوة الى الله تعالى واشرف سبيل للوعظ والإرشاد وتذكير الناس بأمجادهم وأجدادهم وسلفهم الصالح رضي الله عنهم أجمعين , وهذا هو المقصود الأسمي والغاية العظمى التي ينبغي التركيز عليها واعتبار الاجتماعات وسائل مقبولة للوصول الى مقاصد جليلة حميدة , وغايات نبيلة , نسأل الله سبحانه وتعالى تمام التوفيق . امين .

Dan diantara bid’ah perayaan Maulid Nabi yang terjadi di sebagian daerah adalah bersungguh-sungguh menyebut atau mengingat Nabi Muhammad SAW dan sejarahnya, membaca sejarah-sejarah beliau, dan mengharumkan beberapa majlis dengan berbagai perilaku dan keutamaan beliau, memuji dan menyanjungnya, memberikan makanan, melakukan kebaikan dan berbagai macam penghormatan di bulan Robi’ul awal saja dengan menyesuaikan terhadap hari atau tanggal kelahiran Nabi yang mulia, dan hal tersebut adalah amalan-amalan yang kebaikan dan keutamaannya tidak diragukan lagi oleh orang yang berakal sehat, akan tetapi kewajiban tersebut tidak hanya dilakukan pada bulan Robi’ul awal saja, bahkan wajib bagi orang islam untuk senantiasa melaksanakan Maulid Nabi setiap hari, karena peringatan Maulid Nabi SAW tidak dibatasi dengan waktu dan tidak cukup pada hari-hari tertentu. Sesungguhnya hal tersebut adalah kehidupan orang islam, yang seyogyanya dihidupkan (dirayakan) setiap hari dan selalu mengingatnya dalam segala kebutuhan hidupnya, dan sepantasnya perkumpulan ini menjadi kunci untuk mengingatkan berbagai kebenaran dan sebagai petunjuk untuk pengertian agung ini, dan jika perayaan Maulid Nabi SAW terhindar dari berbagai Bid’ah yang telah kami sebutkan diatas dan bid’ah-bid’ah yang lain, maka niscaya perayaan Maulid adalah wasilah (media) kebaikan yang paling besar, pintu atau cara dakwah yang paling agung dan paling mulia, dan mengingatkan mereka atas para pembesar, nenek moyang dan orang shaleh terdahulu RA dan ini adalah cita-cita luhur dan agung yang seyogyanya diprioritaskan, sedangkan memperhatikan perkumpulan-perkumpulan di atas adalah media (wasilah) yang diterima untuk sampai terhadap tujuan yang mulia dan terpuji. Kami memohon pertolongan yang sempurna kepada Allah SWT, Amin.

المولد والمنكرات :

كم بينا في كثير من كتبنا ومحاضراتنا ان الاجتماعات التي ندعو اليها وننادي بها ونقصدها والتي تنعقد للاحتفال بسيرة النبي الكريم والرسول العظيم سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم في الحرمين ونحضرها او في غيرها من البلاد العربية والاسلامية كمصر والمغرب والشام وبلاد الخليج واليمن هي مجامع شريفة ونظيفة … مجامع أدب وذوق وتقدير واحترام… مجامع فضل وعلم وفرح وبهجة وسرور…

Maulid dan hal-hal yang diingkari

Sering kami jelaskan di berbagai kitab dan ceramah kami, bahwasanya pertemuan-pertemuan dimana kami mengajak, mengundang untuk menghadirinya, kami maksudkan untuk senantiasa memperhatikan sejarah Nabi mulia dan Rasul agung yakni Muhammad SAW di Haramain dan kami menghadirinya atau Negara-Negara Arab dan Negara Islam yang lain, seperti Mesir, Maroko, Syiria, Negara-Negara teluk dan Yaman adalah tempat-tempat perkumpulan yang mulia dan suci….. yakni tempat-tempat berkumpul yang mengedepankan tata krama, daya rasa, introspeksi dan memuliakan…… yakni tempat-tempat perkumpulan keutamaan, ilmu, kebahagiaan, kegembiraan dan kesenangan ……

والمكان الذي تنعقد فيه هو المساجد غالبا أشرف الأماكن وأعلاها واكرمها (بيوت الله تعالى) او المراكز الاسلامية والقاعات الكبري او الزوايا العلمية والمدارس الدينية وبيوت العلماء , ويحضرها كبار العلماء من المرشدين والوعاظ الكرام الدعاة الى الله ليعطروا المجالس بنصائحهم وارشاداتهم , وتنقل على جميع الأجهزة الإعلامية , فهذه المجامع والمحافل مشرفة مكرمة مطهرة بحمد الله وفضله , ولعل المعترض رأى ما يقع من الغوغاء والسفهاء الذين يتخذون المولد موسما للهو واللعب وفعل المنكرات…

Biasanya, tempat dilaksanakannya pertemuan tersebut adalah masjid-masjid (Rumah-rumah Allah) yang merupakan tempat termulia, terluhur dan teragung atau pusat keislaman dan ruang tamu yang luas atau sudut-sudut keilmuan, sekolah-sekolah agama dan rumah-rumah para Ulama, dan tempat-tempat tersebut dihadiri oleh para pembesar Ulama yang mulia, yang senantiasa menunjukkan ke jalan yang lurus dan yang selalu memberi Nasehat serta mengajak terhadap agama Allah SWT untuk mengharumkan majelis-majelis tersebut dengan nasehat-nasehat dan petunjuk-petunjuk mereka, dan mengirimkan terhadap semua media informasi, perkumpulan-perkumpulan dan perayaan-perayaan ini merupakan hal yang dimuliakan, diagungkan dan disucikan dengan sebab memuji kepada Allah SWT dan anugerah-Nya, barangkali penentang perkumpulan perayaan maulid melihat sesuatu yang dikerjakan oleh rakyat jelata dan orang-orang bodoh yang menganggap maulid sebagai pekan raya atau pesta musiman untuk permainan alat musik, dan hal-hal yang tidak bermanfaat menurut syari’at serta melakukan perkara munkar.

فنقول له : هذا ليس خاصا باجتماعات المولد النبوي الشريف , بل أنه يقع من هؤلاء في كثير من الأماكن التي يحصل فيها اجتماع الناس مغتنمين تلك الفرصة ليستتروا تحتها ويستظلوا بمظلة أشرف العناوين وأفضل المناسبات , وهذا لايخلو منه أي اجتماع مشروع كما يشاهد ذلك في المساجد او في أماكن الحج والعمرة عندما يقع الازدحام , او في الاجتماعات السنوية التي لا يختلف أحد في مشروعيتها كالاجتماع لصلاة عيد الفطر او صلاة عيد الأضحى او الوقوف بعرفات او رمي الجمرات وغير ذلك من المشاهد والاجتماعات , وكل هذا لايقدح في اصل الاجتماع لأن الماء الطهور لاينجسه شيء.

Kami nyatakan kepadanya: hal ini tidak tertentu dengan perkumpulan-perkumpulan perayaan Maulid Nabi yang mulia, bahkan dari mereka hal ini terjadi di berbagai tempat perkumpulan yang dijadikan kesempatan itu untuk menutup diri dan bernaung di bawah payung ketundukan dan penyesuaian, dan hal ini tidak lepas dari perkumpulan yang disyari’atkan seperti yang terlihat di beberapa masjid atau tempat pelaksanaan haji dan umroh ketika terjadi desakan, atau perkumpulan yang disunnahkan yang tidak seorangpun yang memperselisihkan legalitas disyari’atkannya, seperti perkumpulan Sholat ‘Idul fitri, Sholat ‘Idul adha, wukuf di ‘Arafah, melempar Jumroh dan lain sebagainya. Semua ini tidak merusak dasar atau pokok perkumpulan tersebut, karena air yang suci dan menyucikan tidak ada sesuatu yang bisa menajiskan.

فَهَلْ يَصِحُّ أَنْ يَقُوْلَ عَاقِلٌ : ينبغي منع هذه الاجتماعات المشروعة لما يقع فيها من بعض المخالفات والمنكرات التي تحصل من الجهلة , سبحانك هذا بهتان عظيم , ولو انصف الناظر وتدبر الناهي الامر وفكر لقال : يجب ان نمنع جميع المنكرات وان نحارب كل البدع التي تقع في اي اجتماع او احتفال , سواء كان للمولد اوللمعراج او للحج او للعمرة او للعيدين او للتراويح , وسواء أكان ذلك في المساجد او في البيوت او في الزوايات دون التركيز على اصل الاجتماع للمولد ومحاربة القضية من اصلها وتجييش الجيوش الفكرية في بعض الأجهزة الإعلامية او على المنبر في الخطب الجمعية لمحاربة الاجتماع على المولد من حيث هو اجتماع والاحتفال به لإحياء المناسبة في وقتها المناسب بها .

Sahkah pernyataan orang yang berakal: “sebaiknya perkumpulan-perkumpulan legal (di syari’atkan) ini di larang karena di dalamnya terdapat penyimpangan-penyimpangan dan kemungkaran-kemungkaran yang dilakukan oleh orang-orang bodoh”, maha suci engkau (ya Allah), ini adalah kebohongan besar, seandainya anNadlir (orang yang melihat masalah ini dengan bijaksana) mau melihat secara adil dan orang yang melarang mau mengkaji masalah ini dengan benar, niscaya dia berkata: “kita wajib mencegah segala kemungkaran dan memerangi semua bid’ah (yang menyesatkan) yang terjadi di perkumpulan atau perayaan apapun, baik untuk maulid, mi’raj, haji, umroh, hari raya (baik ‘Id fitri maupun ‘Id adha), atau tarawih, baik hal itu terjadi di berbagai masjid, rumah atau surau, tidak hanya fokus pada dasar perkumpulan untuk acara maulid dan memerangi permasalahan dari dasarnya serta mempersiapkan pasukan intelektual di sebagian media informasi atau di atas mimbar dalam khutbah-khutbah jum’at untuk memerangi perkumpulan perayaan maulid dari segi pertemuan dan perayaannya, untuk menghidupakan penyesuaian pada waktunya”.

أقول : لو دعا المرشدون الناصحون الناس الى محاربة البدع والمنكرات من حيث هي بدع ومنكرات سواء كان في اجتماع المولد او غيره لكان ذلك عين الصواب , ولقام معهم في هذا الباب كل عاقل فاهم وغيور ناصح حريص على الخير داع الى الهدى .

Saya berkata: Apabila para Mursyid (mereka yang ahli memberi petunjuk) dan para Da’i(mereka yang ahli memberi nasehat) mengajak manusia untuk memerangi bid’ah dan kemunkaran dari segi kebid’ah-an dan kemunkarannya, baik itu terjadi di pertemuan perayaan maulid atau lainnya, maka ajakan tersebut adalah kebenaran sejati, dan orang yang berakal yang paham akan masalah ini, bersemangat untuk membahasnya, ahli pemberi nasehat, benar-benar menginginkan kebaikan dan mengajak terhadap hidayah, niscaya melaksanakan bersama mereka dalam bab ini.

شبه ساقطة

 

Pengkaburan-pengkaburan yang keliru

 

اعلم ان المولد في حقيقته-عندنا- ما هو الا اجتماع يقصد منه سماع سيرة النبي صلى الله عليه وسلم وتذكر منّة الله وفضله على الأمة بهذا النبي الكريم الرءوف الرحيم صلى الله عليه وسلم .

Ketahuilah! Bahwasanya perayaan maulid pada hakekatnya -menurut kami- tidak lain kecuali pertemuan yang dimaksudkan untuk mendengarkan sejarah Nabi SAW, mengingat anugerah Allah bagi umat dengan adanya Nabi Muhamad SAW yang mulia serta penuh kasih sayang ini.

وهناك علل واهية وشبه ساقطة يتمسك بها المنكرون للمولد وينادون بها في كل عام .

Dalam hal tersebut terdapat alasan-alasan lemah dan pengkaburan-pengkaburan keliru yang dibuat pegangan dan didengungkan di setiap tahun oleh para pengingkar perayaan Maulid.

منها : أن المحتفلين بالمولد يعتقدون أنه عيد ثالث وهذه دعوى مردودة كما سبق بيانه .

Diantaranya: Sesungguhnya mereka yang merayakan maulid menyakini bahwasanya maulid adalah hari raya ketiga. Hal ini merupakan klaim atau anggapan yang tertolak (tidak benar) seperti penjelasan yang telah lewat.

منها : أن الإحتفال بالمولد زيادة فى الشريعة وتكميل للدين ، لأنه لو كان خيرا لفعله النبي صلى الله عليه وسلم ، وهذه العلة معلولة ، لأنه لا أحد من عوام المسلمين يعتقد أو يظن ذلك فضلا عن علمائهم وليس كل ما لم يفعله النبي صلى الله عليه وسلم والسلف وفعله من بعدهم يعتبر تكميلا للدين واستدراكا على الشريعة… حاشا وكلا ثم حاشا وكلا وإلا فأين باب الإجتهاد ؟

Dan diantaranya: Bahwasanya perayaan Maulid adalah tambahan dalam syari’at dan penyempurna agama, karena seandainya perayaan Maulid adalah perkara yang baik, niscaya Nabi SAW melakukannya, alasan ini hanya dibuat-buat, karena tidak ada satupun orang islam yang menyakini atau menyangka terhadap hal itu, lebih-lebih para Ulama, sebab tidak semua perkara yang tidak pernah dikerjakan oleh Nabi SAW serta orang terdahulu (sahabat), dan dikerjakan oleh orang-orang sesudahnya itu dianggap penyempurna agama dan perbaikan syari’at..… sungguh jauh sekali dan jangan begitu…. karena kalau tidak, lantas di mana pintu ijtihad?

وماذا يقولون في ألوف المسائل الإجتهادية التي ظهرت فيما بعد القرون الفاضلة ؟ هل هي تكميل للدين أيضا ؟

وهل يصح أن يقال : إنها فاتت على النبي صلى الله عليه وسلم والسلف ؟ وأنهم نسوا ذلك أو قصروا فيه أو جهلوه ؟

سبحانك هذا بهتان عظيم !!

Lalu bagaimana dengan pendapat mereka dalam ribuan masalah yang bersifat Ijtihad yang muncul setelah masa keemasan? Apakah hal itu juga penyempurna agama?

Apakah benar dikatakan: Bahwasanya masalah-masalah yang bersifat ijtihad itu berlalu (habis waktunya) atas Nabi muhammad SAW dan orang-orang terdahulu (sahabat)? dan mereka melupakan, meninggalkan atau juga tidak mengetahui hal itu?

Maha suci Engkau, ini adalah kebohongan yang sangat besar!!

ثم نقول : ومن الذي ادعى أن عمل المولد من الكيفيات التعبدية المنصوص عليها بعينها ؟

فهذا الإدعاء أكذب من الكذب وأبطل من الباطل ، وقد تقدم الرد على هذه الفرية بما فيه الكفاية .

Kemudian kami berkata: Siapakah yang mengklaim bahwa perayaan Maulid termasuk cara-cara yang bernilai ibadah yang telah ditentukan bentuk pelaksanaannya?

Klaim ini adalah kebohongan dan kesalahan yang sangat besar, dan sudah lewat penolakan terhadap kebohongan ini dengan sesuatu yang sudah tercukupi.

ومنها: أن الإحتفال بالمولد بدعة رافضية لأن أول من اخترعها هم الفاطميون وهم زنادقة روافض أحفاد عبد الله بن سبأ !! هكذا يقولون .

Dan diantaranya: Sesungguhnya perayaan maulid adalah bid’ah Aliran Rofidloh, karena orang yang pertama kali melakukan perayaan maulid adalah Fatimiyun (kelompok yang sangat fanatik terhadap Sayyidah Fatimah), mereka adalah kafir zindiqnya kaum Rofidloh yakni keturunaan Abdullah bin Saba’ !! begitulah kata mereka.

والجواب عن هذه العلة هو ما قررناه سابقا من أن أول المحتفلين بالمولد هو صاحب المولد نفسه وهو سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم ، وذكرنا الدليل على ذلك وهذا لا خلاف فيه ، وإنما الخلاف في الكيفية والطريقة التي تطورت وتغيرت وهي ليست أمرا نصّيّا على أنه قد اعتنى به الناس قبل الفاطميين وألفوا فيه وفي قراء ته الكتب المخصصة لذلك مثل مولد الحافظ العراقي والحافظ ابن ناصر الدين الدمشقي والحافظ ابن كثير والحافظ السخاوي وابن الجوزي .

Jawaban dari alasan ini adalah perkara yang telah kami tetapkan di atas, bahwasanya orang yang pertama kali merayakan maulid adalah pemilik peristiwa maulid itu sendiri yakni Nabi Muhammad SAW, dan sudah kami sebutkan dalilnya dan dalam hal ini tidak ada perselisihan, perselisihannya hanya dalam tata cara pelaksanaannya yang berkembang dan berubah, dan itu bukan perkara yang bersifat nash di mana manusia telah melaksanakan ritual maulid sebelum kelompok Fathimiyyun (pengikut setia Sayyidah Fathimah) dan mereka menyusun beberapa kitab khusus tentang maulid dan bacaannya seperti karya Al Hafidz Al-Iroqy, Al Hafidz Ibnu Nashiruddin Ad-Dimisyqy, Al Hafidz Ibnu Katsir, Al Hafidz As-Sahowy dan Ibnu Al-Jauzy.

الإ فتراء على ابن كثير وتحريف كلامه :

 

Fitnah atas Ibnu katsir dan memutarbalikkan ucapannya

 

 وقد مهد المغرضون لنشر باطلهم ولو بالتدليس كعادتهم على عامة المسلمين وقليلى الفهم منهم ، حيث قالوا بالحرف الواحد :

Dan para penentang mensiasati penyebaran kesesatan mereka walaupun dengan cara menipu, seperti kebiasaan mereka atas orang-orang awam yang minim pemahaman, di mana mereka berkata menggunakan satu huruf:

إن الحافظ ابن كثير ذكر في البداية والنهاية (١١/١٧٢) أن الدولة الفاطمية العبيدية -المنتسبة إلى عبيد الله بن ميمون القداح اليهودي- والتي حكمت مصر من سنة (٣٥٧ – ٥٦٧) أحدثوا احتفالات بأيام كثيرة ، ومنها الاحتفال بمولد النبي صلى الله عليه وسلم ، اهــ .

هذا ما نقلوه عن الحافظ ابن كثير .

Sesungguhnya Al-Hafidz Ibnu Katsir menyebutkan di dalam kitab Al-Bidayah Wan-Nihayah(11/172), bahwa sesungguhnya Dinasti Fathimiyah Al-Ubaidiyah (pemerintahan yang dinisbatkan kepada Ubaidillah bin Maimun Al-Qoddah Al-Yahudi) dan pemerintahan yang berdiri di negara mesir pada tahun 357-567 memperbaharui beberapa perayaan di sekian banyak hari, dan diantaranya adalah perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Inilah yang dikutip oleh mereka dari Al-Hafidz Ibnu Katsir.

وحسب المرجع الذي أشاروا إليه نقول لكم : كذبتم والله !! فإننا وجدنا ما ادعيتموه على الحافظ وما نقلتموه عنه إنما هو عين الكذب والإفتراء والتدليس والخيانة في النقول عن علماء الأمة ، وإن كنتم مصرين على ذلك فنقول لكم : أخرجوه لنا إن كنتم صادقين .

Penilaian atau tolak ukur yang disinyalir oleh mereka (para penentang), kami katakan kepada kalian semua: “Demi Allah kalian berdusta!! karena kami menemukan apa yang kalian tuduhkan kepada Al-Hafidz dan apa yang kalian kutip darinya bahwasanya semuanya hanyalah dusta, fitnah, pengkaburan dan penghianatan dalam penukilan dari para Ulama, dan jika kalian tetap begitu, maka kami nyatakan kepada kalian semua: “Keluarkanlah (buktikanlah) kepada kami jika kalian memang benar”.

وأين أنتم من ادعائكم بأنكم ستناقشون هذه القضية بعدل وإنصاف وتجرد عن كل هوى بل إنه عين التعصب المخزي والهوى الممقوت ، فكيف نأمن بعد ذلك يا أخي المسلم لمثل هؤلاء في نقولهم عن علماء الأمة ، وإليك أخي المسلم الرأي الحقيقي للحافظ ابن كثير في عمل المولد ونشأته ، والذي أخفاه من يدعي مناقشة الموضع بعدل وإنصاف ، قال الحافظ ابن كثير في ( البداية والنهاية )١٣/١٣٦ طبعة مكتبة المعارف ما نصه :

Dimana pengakuan kalian bahwasanya kalian akan membantah keputusan ini dengan bijak, berlaku adil dan terlepas dari hawa nafsu…. bahkan hal itu hanyalah kefanatikan yang tercela dan hawa nafsu yang dibenci saja, lalu bagaimana kami percaya (setelah hal tersebut) –wahai saudara muslimku– kepada mereka tentang penukilan mereka dari para Ulama, dan berpijaklah anda –wahai saudara muslimku- terhadap pendapat hakiki dari Al-Hafidz Ibnu Katsir tentang perayaan Maulid dan perkembangannya, sedangkan apa yang disembunyikan oleh orang yang mengaku mengungkit permasalahan dengan bijak dan berlaku adil, itu sudah dikomentari oleh Al-Hafidz Ibnu Katsir di dalam kitab AlBidayah wan-Nihayah (13/136) cetakan Maktab Al-Ma’arif dengan sebuah penjelasan:

” ….. المَلْكُ المظفر أبو سعيد الكوكبرى ، أحد الأجواد والسادات الكبراء والملوك الأمجاد ، له آثار حسنة ( انظر إلى قوله آثار حسنة ) وكان يعمل المولد الشريف في ربيع الأول ويحتفل به احتفالا هائلا ،,وكان مع ذالك شهما شجاعا فاتكا عاقلا عالما عادلا رحمه الله وأحسن مثواه – إلى أن قال- : ” وكان يصرف في المولد ثلاثمائة ألف دينار ” اهــ .

“…Raja Al-Mudaffar Abu Said Al-Kaukubra salah satu orang dermawan, pemimpin, pembesar dan raja agung banyak berjasa (lihatlah bunyi kata “اثار حسنة”) dan beliau melaksanakan perayaan Maulid Nabi yang mulia di bulan Rabiul Awal serta merayakannya dengan perayaan yang menakjubkan, padahal beliau seorang raja yang cerdas, pemberani, pintar, alim dan adil (semoga dirahmati dan ditempatkan oleh Allah di tempat yang layak), -sampai kepada kata-: dan beliau membelanjakan 300.000 (tiga ratus ribu dinar) untuk merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW”.

 

فانظر رحمك الله إلى هذا المدح والثناء عليه من ابن كثير إذ أنه وصفه بأنه عالم عادل شهم شجاع ، إلى قوله : رحمه الله وأحسن مثواه ولم يقل :زنديق فاجر فاسق مرتكب للفواحش والموبقات كما هي دعوى المعارض فيمن يقول بعمل المولد الشريف !! وأحيل القارئ إلى نفس المرجع فهناك كلام أعظم مما ذكرت في حق الإمام الجليل لم أنقله خوف الإطالة .

Cermatilah -semoga anda dirahmati Allah– pujian dan sanjungan atasnya (Raja Al-Mudaffar) dari Ibnu Katsir ketika beliau mensifatinya sebagai orang alim, adil, cerdas dan pemberani -sampai ucapannya-: Semoga Allah merahmati dan memberinya tempat yang bagus dan beliau tidak mengatakan: Zindiq (orang kafir yang bermuka islam), penjahat, fasik dan pelaku dosa seperti klaim penentang tentang orang yang mengatakan perayaan Maulid Nabi yang mulia!! Dan saya alihkan pembaca terhadap topik utama yang disitu terdapat pembicaraan yang lebih besar dari pada apa yang telah kami sebutkan tentang Haknya Al-Imam Al-Jalil yang tidak kami kutip karena khawatir kepanjangan.

وانظر إلى قول الإمام الحافظ الذهبي في ( سير أعلام النبلاء ) ٢٢ / ٣٣٦ عند ترجمة الملك المظفر ما نصه : ” كان متواضعا خيرا ُسنِّيًا يحب الفقهاء والمحدثين “.

Lihatlah pendapat Imam Al-Hafidz Al-Dzahabiy dalam kitab “Sairu A’lamin Nabala’” 22/336 ketika menjelaskan sifat Raja Al-Mudaffar: “Beliau adalah seorang yang tawadduk, baik dan sunni (pengikut Madzhab Sunniy) yang cinta kepada para Fuqoha’ dan para Ulama Hadits”.

أقوال أئمة الهدى في الإحتفال بالمولد :

 

Pedapat-pendapat para Imam pemberi petunjuk dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.

 

   ) الإمام الحجة الحافظ السيوطي : عقد الإمام الحافظ السيوطي في كتابه ” الحاوي للفتاوي ” بابا أسماه ( حسن المقصد في عمل المولد ) ص ١٨٩ ، قال في أوله : وقع السؤال عن عمل المولد النبوي في شهر ربيع الأول ، ما حكمه من حيث الشرع ؟ وهل هو محمود أم مذموم ؟ وهل يثاب فاعله أم لا ؟.

     (1) Al-Imam Al-Hujjah Al-Hafidz As-Suyuti: Al-Imam Al-Hafidz As-Suyuti dalam kitabnya“Al Hawi Lil Fatawi” menampilkan sebuah bab yang disebutnya “Husnul Maksod Fi Amalil Maulid” halaman 189, beliau berkata di bagian depan: Terdapat pertanyaan tentang perayaan Maulid Nabi pada bulan Rabi’ul Awal, Bagaimanakah hukumnya menurut pandangan syara’? Apakah termasuk perbuatan yang terpuji atau yang tercela? Dan apakah pelakunya mendapatpahala atau tidak?

والجواب عندي أن أصل عمل المولد الذي هو إجتماع الناس وقراءة ما تيسر من القرأن ، ورواية الأخبار الواردة في بداية أمر النبي صلى الله عليه وسلم وما وقع في مولده من الآيات ، ثم يمد لهم سماط يأكلونه ، وينصرفون من غير زيادة على ذلك هو من البدع الحسنة التي يثاب عليها صاحبها لما فيها من تعظيم قدر النبي صلى الله عليه وسلم وإظهار الفرح بمولده الشريف .

 

Jawabannya: menurut saya bahwa dasar perayaan Maulid yakni mengadakan perkumpulan, membaca Al-Qur’an, menceritakan awal mula sejarah Nabi SAW dan ayat-ayat yang menjelaskan Maulid, lalu menghidangkan makanan kemudian selesai, tanpa ada kegiatan lain, adalah termasuk Bid’ah Hasanah yang pelakunya mendapat pahala, karena di dalamnya terdapat pengagungan terhadap derajat Nabi dan menampakkan kebahagian atas kelahiran Nabi Muhammad SAW yang mulia.

(٢) شيخ الإسلام ابن تيمية : قال في كتابه ( إقتضاء الصراط المستقيم ) طبعة دار الحديث ص : ٢٦٦ ما نصه : ” وكذلك ما يحدثه بعض الناس إما مضاهاة للنصارى في ميلاد عيسى عليه السلام وإما محبة للنبي صلى الله عليه وسلم وتعظيما له ، والله قد يثيبهم على هذه المحبة والإجتهاد…… وقال : ” فإن هذا لم يفعله السلف ، مع قيام المقتضى له ، وعدم المانع منه ” اهــ . فهذا قول من ترك التعصب جانبا وتكلم بما يرضى الله ورسوله صلى الله عليه وسلم . أما نحن فلا نفعل المولد إلا كما قال شيخ الإسلام : ” محبة للنبي صلى الله عليه وسلم وتعظيما له ” والله قد يثيبنا على هذه المحبة والإجتهاد ، ولله در القائل :

دع ما ادعته النصارى في نبيهم

واحكم بما شئت مدحا فيه واحتكم

وانسب إلى ذاته ما شئت من شرف

وانسب إلى قدره ما شئت من عظم

فإن فضل رسول الله ليس له

حد فيعرب عنه ناطق بفم

   (2) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: Berkata dalam kitabnya “Iqtidhous-Shirotil Mustaqim”cetakan Darul Hadits halaman 266 dengan sebuah ketentuan: “Dan begitulah perayaan sebagian masyarakat, adakalanya menyerupai Umat Kristen dalam merayakan kelahiran Nabi Isa AS. dan adakalanya berupa ekspresi kecintaan serta pengagungan kepada Nabi Muhammad SAW, dan Allah akan memberi pahala atas kecintaan dan usaha ini. Dan beliau berkata: “Ini tidak pernah dilakukan oleh orang terdahulu, sekalipun ada tuntutan, dan tidak ada larangan”. Ini adalah pendapat Ulama yang tidak fanatik dan berbicara dengan apa yang diridhoi oleh Allah dan Rasul-Nya. Sedangkan kami tidak merayakan Maulid kecuali sebagaimana pendapat Syaikhul Islam: “Atas dasar cinta dan pengagungan kepada Nabi Muhammad SAW” dan Allah akan memberi pahala kepada kita atas kecintaan dan usaha ini.

Untaian mutiara kata:

 

Tinggalkanlah pengakuan Umat Kristen atas Nabi mereka

dan tetapkanlah (kuatkanlah) pujian sesuka hatimu

 

     Dan nisbatkanlah segala kemulian kepadanya

     dan sandarkanlah seluruh keagungan atas derajatnya

 

Karena sesugguhnya keutamaan Rasulullah tidak ada batasnya, Sehingga bisa dijelaskan dengan ungkapan.

                                                                                                                                   

   (٣) شيخ الإسلام وإمام الشراح الحافظ ابن حجر العسقلاني :

قال الحافظ السيوطي في نفس المرجع السابق ما نصه : “وقد سئل شيخ الاسلام حافظ العصر ابو الفضل ابن حجر عن عمل المولد وأجاب بما نصه : اصل عمل المولد بدعة لم تنقل عن السلف الصالح من القرون الثلاثة , ولكنها مع ذلك اشتملت على محاسن وضدها , فمن تحرى في عملها المحاسن وتجنب ضدها كانت بدعة حسنة , وقد ظهر لي تخريجها على اصل ثابت وهو ما ثبت في الصحيحين من ان النبي صلى الله عليه وسلم قدم المدينة فوجد اليهود يصومون يوم عاشوراء فسألهم , فقالوا : هو يوم اغرق الله فيه فرعون , ونجى موسى , فنحن نصومه شكرا لله , فيستفاد منه فعل الشكر لله على ما من به في يوم معين من إسداء النعمة , او دفع النقمة ..الى ان قال : واي نعمة اعظم من نعمة بروز هذا النبي صلى الله عليه وسلم نبي الرحمة في ذلك اليوم , فهذا ما يتعلق باصل عمله , واما ما يعمل فيه فينبغي ان يقتصر فيه على ما يفهم الشكر لله تعالى من نحو ما تقدم من التلاوة والاطعام و الصدقة وإنشاد شيئ من المدائح النبوية والزهدية المحركة للقلوب الى فعل الخير والعمل للاخرة “انتهى كلامه رحمه الله .

       (3) Syaikhul Islam wa Imamus-Syurrah Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-‘Asqolani:

       Al-Hafidz As-Suyuti berkata dalam tolak ukur di depan dengan sebuah ketentuan: Dan Syaikhul Islam Hafidul ‘Ashri Abul fadl Ibnu Hajar pernah ditanyakan perihal pelaksanaan perayaan Maulid dan beliau menjawab dengan sebuah ketentuan: Dasar pelaksanaan perayaan Maulid adalah Bid’ah (hal baru) yang tidak diadopsi dari Salafus Shaleh pada kurun ketiga (masa Tabi’in), akan tetapi walaupun demikian, hal tersebut mengandung beberapa kebaikan dan kejelekan, maka barang siapa memilih kebaikan dalam merayakannya dan menjahui kejelekannya, maka hal tersebut menjadi Bid’ah Hasanah (hal baru yang baik), dan hal itu sungguh telah dijelaskan sesuai dasar yang kuat yakni sebuah Hadits: “Bahwasanya Nabi Muhammad SAW berkunjung ke kota Madinah, lalu beliau mendapati orang yahudi sedang berpuasa pada hari ‘Asyura’, maka Nabi bertanya kepada mereka (perihal puasa tersebut), lalu mereka menjawab: Hari ‘Asyura’ adalah hari di mana Allah menenggelamkan Fir’aun, dan menyelamatkan Nabi Musa AS, maka kami berpuasa sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah.(HR.Imam Bukhori Muslim). Maka bisa diambil kesimpulan dari kejadian di atas untuk bersyukur atas segala anugerah yang dikaruniakan oleh Allah pada hari tertentu seperti pemberian nikmat, atau tertolaknya bahaya (siksa)… sampai perkataan beliau: Adakah nikmat yang lebih besar dari pada kelahiran Nabi sang pembawa rahmat. maka ini adalah hal yang berkaitan dengan dasar pelaksanaannya. Jadi sebaiknya perayaan yang dilaksanakan hanyalah sebatas ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT sebagaimana yang telah disebutkan, yakni membaca Al Qur’an, memberi makan, sedekah, dan melantunkan pujian-pujian kenabian dan ke-zuhud-an yang bisa menggerakkan hati untuk mengerjakan kebaikan dan beramal untuk akhirat”.

فهذه الاستنباطات هي التي قال عنها المعارض انها استدلال باطل وقياس فاسد , وانكرها , فليت شعري من الناكر ومن المنكور عليه !!

Penetapan hukum ini adalah penetapan hukum yang dikomentari oleh para penentang sebagai dasar penetapan hukum yang batal dan Qiyas yang rusak, dan diingkarinya, saya ingin tahu dari pengingkar dan orang yang diingkari!!

واما قول المنكر ان الرسول صلى الله عليه وسلم لم يفعله ولا خلفاؤه الراشدون ولاغيرهم من الصحابة رضوان الله عليهم اجمعين ..الخ .

فإننا نقول : الترك وحده ان لم يصحبه نص على ان المتروك محظور لا يكون نصا في ذلك , بل غايته ان يفيد ان ترك ذلك الفعل مشروع , وأما أن ذلك الفعل المتروك يكون محظورا فهذا لا يستفاد من الترك وحده ,وإنما يستفاد من دليل يدل عليه , ومع ذلك فهذا الاعتراض ساقط لان الخلاف كما قلنا في الكيفية والطريقة لا في اصل الحقيقة(١) .

Adapun komentar penginkar yang mengatakan bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW,Hulafa’ur Rosyidin (Abu bakar, Umar, Ustman dan Ali), dan Sahabat-sahabat yang lain RA tidak pernah melakukan hal tersebut…dan seterusnya.

Maka kami berkata: Meninggalkan saja tanpa disertai sebuah ketentuan bahwa sesuatu yang ditinggalkan terlarang, tidak bisa dijadikan sebuah ketetapan dalam hal ini, akan tetapi pada akhirnya mengindikasikan bahwa meninggalkan pekerjaan tersebut adalah disyari’atkan. Adapun anggapan bahwasanya pekerjaan yang ditinggalkan tersebut terlarang, maka hal ini tidak bisa dibuat kesimpulan untuk meninggalkan hal terserbut, akan tetapi harus dibuktikan, kendati demikian, perdebatan ini tetap keliru, karena perbedaannya hanya dalam caranya saja bukan hakikat dasarnya, sebagaimana yang telah saya paparkan.[3]

وأما الادعاء بان اكثر من يحتفل هم من الفسقة والفجار ممن تعاملوا بالربا وتهاونوا في الصلوات وضيعوا السنن الظاهرة والباطنة وعرفوا بكثرة المعاصي والاثام وارتكاب الفواحش والموبقات , فهذا قذف صريح وافتراء واضح على رؤوس الاشهاد , وسيسأل عنه قائله غدا ان لم يسأل عنه اليوم , وعليه ان يثبت بما عنده من ادلة انهم كما قال , والا فسينتقم الله منه , وأما نحن فنقول : سبحانك هذا بهتان عظيم .

Adapun tuduhan bahwasanya kebanyakan orang yang merayakan Maulid adalah orang-orang fasik dan orang-orang jahat yang melakukan praktek Riba, meremehkan shalat, menyia-nyiakan sunnah dhohir maupun bathin, dan dikenal sering melakukan maksiat, dosa, kejelekan dan kerusakan, maka hal ini jelas-jelas Qodzaf (tuduhan) dan fitnah dihadapan para saksi, dan orang yang mengatakan akan dimintai pertanggung jawaban besok (di akhirat), jika tidak hari ini (di dunia), dan dia harus membuktikan ucapannya, karena kalau tidak, Allah akan menyiksanya. Sedangkan kami berkata: maha suci engkau, ini kebohongan besar.

ونقول :

وهل كل الذين يحضرون الصلاة في جماعة ويصومون ويحجون ويعتمرون ويقرأون القرأن ويعمرون المساجد بالاعتكاف منزهون عن هذه النقائص؟ أقول:

اليس فيهم من يأخذ الربا ويأكل اموال الناس بالباطل ؟

اليس فيهم من يشرب الخمر ويفعل الفواحش ؟

اليس فيهم من يخطيئ ويتوب ويرجع ؟

وكل بني ادم خطاء , والانسان محل النسيان والتقصير .

Kami berkata:

Apakah semua orang yang menghadiri sholat berjamaah, berpuasa, haji, umroh, membaca al qur’an dan meramaikan masjid-masjid dengan cara beriktikaf terbebas dari kekurangan-kekurangan ini? Saya berkata:

Apakah diantara mereka tidak ada yang mengambil riba dan memakan harta orang lain dengan cara yang Bathil (tidak benar)?

Apakah diantara mereka tidak ada yang minum khomer dan melakukan kejahatan?

Apakah diantara mereka tidak ada yang berbuat salah, bertaubat dan kembali (mengulangi lagi)?

Semua orang pasti punya salah, dan manusia tempat lupa dan kesalahan.

نعوذ بك اللهم من الكبر والعجب ورؤية النفس وطريقة ابليس القائل : (انا خير منه خلقتني من نار وخلقته من طين) .

Kami memohon perlindungan kepadamu ya Allah dari sifat sombong, ujub, bangga diri dan jalan yang ditempuh Iblis yang berkata: “Saya lebih baik darinya (Adam), Engkau menciptakanku dari api dan Engkau menciptakannya dari tanah”.

وقد قال العلماء : إن العالم اذا قال : هلك الناس محتقرا لهم معجبا بنفسه فهو اهلكهم واخسرهم.

Dan para Ulama sungguh telah berkata: Sesungguhnya orang alim ketika berkata: “Manusia binasa” dengan maksud meremehkan mereka dan membanggakan dirinya, maka dia adalah manusia yang paling celaka dan paling rugi.

ومن العلل التي يتعلل بها المنكرون قولهم : إن الاحتفال ليس دليلا على محبته صلى الله عليه وسلم .

Dan diantara alasan orang-orang yang inkar adalah ucapan mereka: bahwa merayakan maulid bukan bukti kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.

والجواب : أننا لم نقل أبدا إن الاحتفال بالمولد هو الدليل الوحيد على محبته صلى الله عليه وسلم , وان من لم يحتفل فليس بمحب , بل أننا نقول : إن الاحتفال بالمولد مظهر من مظاهر محبته , وهو دليل من دلائل التعلق به واتباعه , ولا يلزم أن من لم يحتفل لا يكون محبا ولا متبعا .

Jawabannya: sesungguhnya kami tidak pernah mengatakan bahwasanya perayaan Maulid Nabi adalah satu-satunya bukti atas kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, dan orang yang tidak merayakan maulid dianggap tidak cinta kepada beliau, akan tetapi kami katakan: sesungguhnya merayakan maulid Nabi SAW adalah satu diantara beberapa ungkapan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW dan hal itu adalah salah satu bukti keterkaitan dan mengikutinya, dan tidaklah mesti orang yang tidak merayakan maulid bukan pecinta dan pengikut Nabi Muhammad SAW.

وإثبات المحبة بالاتباع لا ينفي إثباتها به مع مزيد العناية والاهتمام المشروعين المتمثلين في الإحتفال الذي لا يخرج عن القواعد والأصول عند ذوي العقول ، ولو بحث العاقل وأنصف المنكر لوجد أن الكثرة الكاثرة ممن يحتفل هم على النقيض تماما مما افتراه المفترون وتشدق به المتشدقون القاذفون فكبرت كلمة تخرج من أفواههم إن يقولون إلا كذبا .

Pengukuhan Mahabbah (rasa cinta) dengan cara mengikuti tidaklah menghilangkan pengukuhan Mahabbah dengan cara mengikuti serta bertambah perhatian dan peduli yang disyari’atkan yang tergambar didalam perayaan maulid yang tidak keluar dari kaidah-kaidah dan dasar-dasar menurut mereka yang berakal sehat. Seandainya orang yang berakal sehat dan orang yang inkar mau berlaku adil, niscaya dia akan mendapati mayoritas orang yang merayakan maulid bertolak belakang dari fitnah dan tuduhan mereka (tukang fitnah, mereka yang banyak omong dan suka menuduh), maka alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.

ومن الشبه والمغالطات التى يصرخ بها المنكرون والمعترضون قولهم : إنه يحصل في المولد إختلاط الرجال بالنساء ، واستعمال الأغاني والمعازف وشرب المسكرات ، والنظر إلى المردان ……. الخ تلك السفاهات .

Dan diantara kesesatan-kesesatan dan kesalahan-kesalahan yang digembar-gemborkan oleh mereka para pengingkar dan para penentang adalah ucapan mereka: bahwa sesungguhnya didalam perayaan Maulid terdapat percampuran antara laki-laki dan perempuan, nyanyian-nyanyian, alat musik yang bersenar banyak, minuman keras dan melihat Amrod (pemuda tampan yang belum tumbuh jenggotnya)…… dan kebodohan-kebodohan yang lain.

وقد كذب والله هذا القائل ، فقد حضرنا مئات من حفلات المولد فلم يقع إختلاط ولم نسمع معازف ولم نر شيئا من هذا الإفتراء وخصوصا في بلادنا في الحرمين الشريفين ، ولا ندري كيف يثبتون أن ذلك يحصل في هذا البلد وهذه مراكز هيئة الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر منتشرة بفضل الله في طول البلاد وعرضها ومع ذلك لم يضبطوا -وعلى مر السنين- حالة واحدة من هذه الإحتفالات فيها ما ذكر من اختلاط وشرب وعزف وغناء وفساد عظيم ، هذا أمر واضح كوضوح الشمس في رابعة النهار ولا ينكره إلا أعمى أو متعامي .

وليس يصح في الأذهان شيئ

إذا احتاج النهار إلى دليل

Demi Allah, sungguh bohong orang yang mengucapkan ini, maka sungguh kami telah menghadiri ratusan perayaan maulid akan tetapi tidak menemukan praktek percampuran, tidak mendengar jenis alat musik dan tidak melihat sedikitpun dari fitnah ini, khususnya di daerah kami Haramain (makkah dan madinah) yang mulia, dan kami tidak mengerti bagaimana mereka menetapkan bahwa hal tersebut terjadi di daerah ini, padahal daerah ini adalah pusat lembaga Amar Ma’ruf Nahi Munkar yang tersebar -berkat anugerah Allah- di berbagai Negara, kendati demikian mereka tidak membatasi -tahun demi tahun- satu keadaan dari perayaan-perayaan ini yang di dalamnya terdapat bercampurnya laki-laki dan perempuan, minuman keras, suara piano, nyanyian dan kerusakan besar, ini perkara yang jelas sebagaimana tampaknya matahari di siang hari, dan hal ini tidak di ingkari kecuali oleh orang yang buta atau orang yang pura-pura buta.

Dan tidak masuk akal

Jika siang butuh petunjuk

فإذا قال : لكن ذلك إنما يحصل في بعض البلدان الخارجية ، قلنا : إذن لماذا عممت ؟ وكان الواجب أن تقول : إنه يقع في بعض البلدان كذا وكذا ، إن كنت قد تبينت أن الذي نقل ذلك الخبر ليس بفاسق ، أو كنت قد شاهدت ذلك بعيني رأسك ، ومع ذلك لو أنصفت لقلت : إنه يقع في بعض البلدان من الجهلة الغوغاء وعامة السفهاء الذين لا وزن لهم ولا قيمة في ميزان الحق ولا اعتباربهم في دليل ولا تعليل .

Maka jika dia berkata: Akan tetapi hal tersebut terjadi di sebagian luar daerah, maka kami katakan: kalau demikian, kenapa anda sama-ratakan? Mestinya anda berkata: bahwa di sebagian daerah terjadi begini dan begitu, jika anda sudah mengklarifikasi bahwasanya orang yang mengutip hadits tersebut bukan orang fasik, atau anda telah menyaksikan sendiri, sekalipun demikian, seandainya anda mau berlaku adil, niscaya anda berkata: hal tersebut terjadi di sebagin daerah yang dilakukan oleh orang-orang bodoh yang tersesat yang tidak diperhitungkan dan tidak bisa dijadikan dalil dan alasan.

وقد بلينا بأقوام ابتلاهم الله تعالى بقصر النظر وضيق الأفق ، فلا يرون أنفسهم ولا يفهمون من النصوص إلا مدلولاتها الحرفية وظواهرها اللفظية ، وليس عندهم استعداد لفهم غير ذلك أو تصور خلافه ، ولذلك فإنهم يسلكون مسلك التعميم في أحكامهم وردودهم وإنكارهم كَاْلإِسْتِشْهَادِ بِحَدِيْثٍ : ” مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ ” وَحَدِيْثٍ : ” كُلُّ مُحَدَّثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ” إلى إطلاق القول في أن احتفالات الموالد فيها اختلاط وشرب ولهو وغناء.. الخ ، دون التفات إلى أقوال أهل العلم في تقييد أحاديث البدعة ، ودون تفهم لكلمة ( ما ليس منه) التي في حديث ( من احدث في امرنا هذا ما ليس منه فهو رد) ، مع أن كل من أمعن النظر أو لم يمعن لكن فكر قليلا سيعرف أن المردود من الأعمال هو ما لم تشمله قواعد الشريعة وأصولها ،وهذه مسألة قد غدت من المسائل المعلومة المشهورة عند أهل العلم وطلابه .

Dan sungguh kami diuji dengan golongan yang berpandangan sempit dan daerah yang sempit, mereka tidak melihat kecuali pada diri mereka dan tidak memahami Nash kecuali hanya dari segi Harfiyah dan dzohirnya lafadz saja, dan mereka tidak punya bekal untuk memahami atau untuk menggambarkan perbedaannya, oleh sebab itu mereka menempuh metode umum dalam berbagai hukum, penolakan dan pengingkaran mereka, Seperti minta penjelasan mengenai Hadits: Barang siapa memperbaharui perkara dalam agama kami ini, yang bukan bagian darinya, maka itu ditolak” dan Hadist: Semua perkara baru adalah Bid’ahdan semua Bid’ah adalah sesat” untuk memutlakkan bahwa dalam berbagai perayaan maulid terdapat percampuran antara laki-laki dan perempun, minum Khamer, bersenang-senang, bernyanyi dan lain sebagainya, tanpa mengindahkan pendapat para Ulama dalam membatasi Hadits-hadits tentang Bidah, dan tanpa memahami kalimat (ما ليس منه) yang ada dalam Hadits (من احدث في امرنا هذا ما ليس منه فهو رد), padahal orang yang mempertimbangkan dengan cermat atau sedikit berfikir, maka dia akan tahu bahwa amal yang tertolak adalah amal yang tidak tercakup dalam kaidah-kaidah dan pokok-pokok Syari’at. Masalah ini adalah salah satu masalah yang sudah maklum dan masyhur dikalangan para Ulama dan para Santri.

ومن الشبه الساقطة قول بعضهم : إن أية ( قل بفضل الله وبرحمته فبذلك فليفرحوا ) لاتدل على الفرح بالرسول صلى الله عليه وسلم كما استظهرنا ذلك في أدلة المولد ، قالوا : ” لأن المراد بالرحمة هنا الإسلام والقرآن ، ونقلوا أقوال بعض المفسرين في ذلك وجملة من الأثار في هذالباب مع أنه لم يرد حديث مرفوع في ذلك ، ولايصح أحد حينئذ أن يقول هذا القول هو قول رسول الله صلى الله عليه وسلم .

Dan termasuk pengkaburan yang keliru adalah pendapat sebagian mereka: bahwasanya ayat                       قل بفضل الله وبرحمته فبذلك فليفرحوا)) tidak menunjukkan atas gembira dengan lahirnya Rasulullah, sebagaimana yang sudah saya jelaskan dalam dalil-dalil yang menerangkan Maulid, mereka berkata: yang dimaksud Rahmat dalam ayat tersebut adalah Islam dan Al-Qur’an, dan dalam hal itu mereka mengambil beberapa pendapat sebagian ahli tafsir dan beberapa Atsar dalam bab ini, serta tidak ada Hadits Marfu’ yang menerangkan hal itu, dan kalau demikian, maka tidak boleh bagi siapapun berpendapat bahwa Qaul ini adalah sabda Rasulallah SAW.

نقول : سبحان الله .. أي شيء أعجب وأغرب من هذا ، ولولا أن هذا المنكر يشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول لله ، لقلنا : إنه عدو مضل مبين ومبغض حاقد مهين ، لكن تشفع له كلمة التوحيد فتكف عنه السنة المؤمنين الموحدين المحبين ويحملونه على الجهل وسوء الفهم تحسينا للظن به كما هو شأن أهل الإيمان ، وفي الجواب أقول : لقد جاء وصف الرسول صلى الله عليه وسلم بالرحمة في قوله تعالى ( وما أرسلناك إلا رحمة للعا لمين ) ووصفه بالرحيم في قوله تعالى : ( لقد جاءكم رسول من انفسكم عزيز عليه ما عنتم حريص عليكم بالمؤمنين رؤف رحيم) وفي الحديث الشريف نصوص كثيرة في هذا الموضوع. فما المانع من أن الرحمة في قوله تعالى😦 قل بفضل الله وبرحمته ) تشمل النبي صلى الله عليه وسلم ، فيكون الإسلام والقرأن والنبي صلى الله عليه وسلم كل ذلك رحمة .

Saya menjawab: Subhanallah……!! tidak ada yang lebih menakjubkan dan lebih aneh dari pada ini, andaikata pengingkar ini tidak bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah, maka tentu saya mengatakan bahwa orang ini adalah musuh yang jelas-jelas menyesatkan, benci, dendam dan menghina (kita), Akan tetapiKalimat Tauhid menolong orang ini sehingga terhindar dari kritikan atau cemoohan orang-orang Mukmin yang meng-Esakan Allah dan mencintai Allah serta Rasul-Nya, dan mengarahkannya atas kebodohan serta pemahaman yang jelek, karena Husnuddzon (berbaik sangka) kepada orang ini, sebagaimana perangai orang-orang Mukmin, dan dalam menjawab permasalahan ini saya berpendapat: Sungguh telah datang dalam mensifati Rasulallah SAW dengan Rahmat dalam firman Allah SWT; وما ارسلناك الا رحمة للعالمين “Dan Aku tidak mengutusmu kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam”. dan sifat Rahim dalam firman Allah swt. :         (لقد جاءكم رسول من انفسكم عزيز عليه ما عنتم حريص عليكم بالمؤمنين رؤف رحيم “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keislaman) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”) dan dalam hadits, banyak sekali keterangan tentang masalah ini, lalu apa yang mencegah bahwa Rahmat dalam firman Allah (قل بفضل الله وبرحمته) juga meliputi Nabi Muhammad SAW, dengan demikian Islam, Al-Qur’an dan Nabi Muhammad SAW adalah Rahmat (kasih sayang Allah).

 

ومن الذي جاء بالإسلام الذي هو الرحمة ؟

ومن الذي أنزل عليه القرأن الذي هو الرحمة ؟

أليس هو النبي محمد صلى الله عليه وسلم الذي جاء بهذه الرحمة ! ؟

فلو لم يأت في القرأن نص صريح بإطلاق لفظ الرحمة على شخصه الكريم وذاته الشريفة لكفى في ذلك دلالة وإشارة إلى أنه جاء بالرحمة فهو رحمة .

رحمة كله وحزم وعزم ووقار وعصمة وحياء

Siapakah orang yang datang membawa islam yang merupakan Rahmat ?

Dan siapakah orang yang Al Qur’an diwahyukan kepadanya yakni Rahmat?

Bukankah dia adalah Nabi Muhammad SAW yang datang membawa Rahmat ini!?

Maka jika dalam Al-Quran tidak ada Nash Shorih (jelas) yang mengarahkan kata Rahmat atas diri (dzat) Rasulallah, maka cukup sebagai bukti dan indikasi bahwa Nabi yang datang membawa Rahmat adalah Rahmat.

Segala Rahmat, keteguhan, ketabahan hati, kewibawaan, suci dari kesalahan/dosa dan sifat malu adalah sifat Nabi

فكيف وقد جاء التصريح بذلك في القرأن ، فعلى مذهب صاحب أضواء البيان في تفسير القرأن بالقرأن لاشك في أن الآية الكريمة تشمل النبي صلى الله عليه وسلم فهو رحمة الله التي أمرنا الله بالفرح بها : (قل بفضل الله وبرحمته فبذلك فليفرحوا ) وهو فضل الله ونعمته العظمى وحبله المتين كما جاء في الآية الأخرى : ( واعتصموا بحبل الله جميعا ولاتفرقوا واذكروا نعمة الله عليكم إذ كنتم أعداء فألف بين قلوبكم فأصبحتم بنعمته إخوانا ) الآية .

Lalu bagaimana, padahal ada penjelasan tentang hal tersebut dalam Al-Qur’an, menurut madzhab pengarang kitab Adwaul Bayan dalam menafsiri Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, tidak diragukan lagi bahwasanya ayat diatas mencakup Nabi Muhammad SAW maka Nabi adalah rahmat Allah SWT yang mana Allah memerintahkan kita untuk bahagia karenanya:“Katakanlah Muhammad! Dengan Anugerah dan Rahmat Allah, maka berbahagialah mereka”dan Nabi adalah anugerah, nikmat dan tali Allah yang maha perkasa seperti keterangan di ayat yang lain: “Dan berpegang-teguhlah kalian dengan tali Allah dan janganlah kalian bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepada kalian, ketika kalian bermusuhan lalu Allah merukunkan kalian, maka berkat nikmat Allah kalian menjadi saudara”.

فهو حبل الله ونعمة الله لأنه هو الذي ألف بين قلوبهم بما جاء به من القرآن والإسلام والهدي القويم والصراط المستقيم ، قال ابن إسحاق فيما رواه الطبري في تفسيره : ” ثم إن الله عز وجل أطفأ ذلك بالإسلام وألف بينهم برسوله محمد صلى الله عليه وسلم فذكرهم جل ثناءه ” اهـ .

Maka Nabi Muhammad SAW adalah tali dan nikmat Allah karena beliau adalah orang yang merukunkan mereka dengan Al-Qur’an, Islam, petunjuk dan jalan yang lurus yang dibawanya, Ibnu Ishak mengomentari hadits yang diriwayatkan oleh At-Thobari dalam tafsirnya: “Kemudian sesungguhnya Allah menenangkan hati mereka dengan Islam dan merukunkan mereka dengan rasul-Nya, maka penyebutan mereka terhadap Nabi merupakan sanjungan yang sangat agung”.

ومن الشبه الساقطة قول بعضهم : إن يوم ولادته هو نفس يوم وفاته فليس الفرح بأولى من الحزن ، وكان الأولى بالمحب أن يتخذ هذا اليوم مأتما ويوم حزن.

Dan di antara pengkaburan-pengkaburan yang keliru adalah ucapan sebagian mereka: Sesungguhnya hari kelahiran Nabi adalah hakikat hari wafatnya, jadi bahagia tidak lebih utama dari susah, dan yang paling utama bagi pecintanya adalah menjadikan hari tersebut sebagai hari berkabung dan hari kesusahan.

ونقول : إن الإمام العلامة جلال الدين السيوطي قد كفانا الرد على هذه المغالطة ، فقال في كتابه الحاوي ما نصه : ” إن ولادته صلى الله عليه وسلم أعظم النعم ووفاته أعظم المصائب لنا ، والشريعة حثت على إظهار شكر النعم ، والصبر والسكون عند المصائب ، وقد أمر الشرع بالعقيقة عندالولادة وهي إظهار شكر وفرح بالمولود ، ولم يأمر عند الموت بذبح ( عقيقة ) ولا بغيره ، بل نهى عن النياحة وإظهار الجزع ، فدلت قواعد الشريعة على أنه يحسن في هذالشهر إظهار الفرح بولادته صلى الله عليه وسلم دون إظهار الحزن فيه بوفاته ،وقد قال ابن رجب في كتابه ( اللطائف ) في ذم الرافضة .. حيث اتخذوا يوم عاشوراء مأتما لأجل مقتل الحسين ، ولم يأمر الله ولا رسوله صلى الله عليه وسلم باتخاذ ايام مصائب الانبياء وموتهم مأتما فكيف ممن هو دونهم ”

Dan kami katakan: Sesungguhnya penolakan Imam Al-Allamah Jalaluddin As-Syuyuthi atas kesesatan ini telah cukup bagi kami, beliau berkata dalam kitabnya “AlHawi” : Sesungguhnya kelahiran Nabi adalah nikmat yang paling agung dan wafatnya adalah musibah yang paling besar. Syari’at menganjurkan untuk menampakkan dalam mensyukuri nikmat, sabar dan tabah dalam menghadapi musibah, dan syariat juga memerintahkan untuk ber-Aqiqah[4] ketika melahirkan. Aqiqah adalah menampakkan rasa syukur dan bahagia atas anak yang dilahirkan, dan tidak memerintahkan untuk menyembelih hewan (ber-Aqiqah) dan selain menyembelih pada saat kematian, bahkan melarang menjerit dan menampakkan kegelisahan. Kaidah-kaidah syari’at menunjukkan bahwa menampakkan kebahagian atas kelahiran Nabi SAW di bulan tersebut adalah perbuatan yang baik, bukan menampakkan kesedihan atas wafatnya. Imam Ibnu Rojab sungguh telah berkata dalam kitabnya (Al-Lathoif) dalam bab mencela kaum Ar-Rafidhah yang menjadikan hari ‘Asyura’sebagai hari berkabung atas terbunuhnya Sayyidina Husain. Allah dan Rasul-Nya tidak memerintahkan untuk menjadikan hari-hari musibah para Nabi sebagai hari berkabung. Lalu bagaimana dengan orang yang derajatnya di bawah para Nabi?!

والحاصل أن كثيرا من هذه الإعتراضات ينطبق عليهم[5] حديث المصطفى صلى الله عليه وسلم الذي أخرجه أبو يعلى عن حذيفة قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ” مما أخاف عليكم رجل قرأ القرآن حتى إذا رؤيت بهجته عليه وكان رداءه الإسلام إنسلخ منه ونبذه وراء ظهره وسعى على جاره بالسيف ورماه بالشرك ، قال : قلتُ : يانبي الله ، أيهما أولى بالشرك المرمي أو الرامي ؟ قال : بل الرامي ،، . قال الحافظ ابن كثير : إسناده جيد .

Kesimpulannya adalah sesungguhnya dari sekian banyak sanggahan mereka itu sudah sesuai dengan hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Abu Ya’la dari Hudzaifah, beliau berkata: Rasulullah bersabda: “Termasuk yang aku khawatirkan atas kalian adalah lelaki yang membaca Al-Qur’an sehingga ketika keindahan Al-Qur’an tampak kepadanya dan dia berjubahkan Islam, maka terlepaslah Al-Qur’an darinya dan membuang di belakangnya, menghampiri tetangganya dengan pedang, dan menuduh syirik kepada tetangganya, dia (Hudzaifah) berkata: aku berkata: “Wahai Nabi Allah! mana yang syirik, yang dituduh atau yang menuduh? maka Nabi menjawab: yang menuduh”. Al-Hafidz Ibnu Katsir bekata: Sanadnya jayyid.

ومن الشبه الساقطة التي يتمسك بها بعضهم هو قولهم : إن خبر عتق أبي لهب لثويبة مولاته لما بشرته بولادة النبي صلى الله عليه وسلم أثر باطل لأنه رؤيا منام لاحجة فيه وأنه مخالف للقرآن ، ثم يستدلون بكلام ابن حجر ويقولون : ذكر الحافظ في الفتح أنه رؤيا منام لاحجة فيه .

Di antara pengkaburan yang keliru yang dijadikan tendensi atau pedoman oleh mereka adalah ucapan mereka: Bahwa sesungguhnya kabar tentang pemerdekaan Abu Lahab terhadap Tsuwaibah budaknya ketika dia memberi kabar gembira atas kelahiran Nabi Muhammad SAW adalah Atsar (perkataan sahabat) yang bathil, karena itu hanya mimpi belaka yang tidak bisa dijadikan argumen dan tidak sesuai dengan Al-Qur’an, kemudian mereka bertendensi terhadap pendapat Ibnu Hajar dan berkata: “Al-Hafidz berkata dalam kitab Al-Fath bahwa kabar itu hanya mimpi belaka yang tidak argumentatif”.

أقول : هذا ابن حجر الذي استدل بكلامه هنا ووصفه بالحافظ هو ابن حجر نفسه الذي استنبط تخريج المولد على أصل صحيح مستدلا له بحديث صوم عاشوراء كما تقدم ولكن المنكر لم يأخذ بكلامه هنا بل قال : ” إن استدلال ابن حجر بحديث صيام عاشوراء إستدلال باطل وقياس فاسد ” .

Saya katakan: Ibnu Hajar yang pendapatnya dikutip dalam bab ini dan disifati denganAlHafidz adalah Ulama yang menjelaskan maulid Nabi dengan bertendensi pada hadits tentang puasa ‘Asyura’ seperti di atas, akan tetapi orang yang mengingkari tidak mengutip pendapat beliau dalam hal ini, bahkan mereka berkata: “Sesungguhnya tendensi Ibnu Hajar dengan hadits tentang puasa ‘Asyura’ adalah tendensi yang bathil dan Qiyas yang rusak”.

فانظر يا اخي الى اعوجاج مسلك هذا المخالف , فانه يتكثر بابن حجر عند ما يظن ان اجتهاده يوافق هواه, فيقول: قال (الحافظ( هكذا محترما مقدرا واصفا له (بالحافظ) , ولم يكترث حتى بذكر اسمه عند ما رأى ان اجتهاده يخالف هواه, هذا اذا كان يعلم ان ابن حجر هو اول من خرج المولد على حديث عاشوراء, اما اذا كان لا يعلم فحسبك بالجهل قاض على صاحبه.

Lihatlah saudaraku! penyimpangan cara penentang ini, sesungguhnya dia banyak mengutip pendapat Ibnu Hajar ketika dia menyangka bahwa ijtihad beliau sesuai dengan hawa nafsunya, maka dia berkata: Al-Hafidz berkata demikian, untuk memuliakan, menghormati dan menyifatinya dengan sebutan Al-Hafidz. Dan tidak memperhatikannya bahkan tidak menyebut namanya ketika dia melihat bahwa ijtihad Ibnu Hajar tidak sesuai dengan hawa nafsunya. Hal ini ketika dia tahu bahwa Ibnu Hajar adalah orang yang pertama kali menjelaskan maulid Nabi melalui hadits ‘Asyura’. Tetapi apabila dia tidak tahu, maka cukuplah kebodohan menghukumnya.

وأزيدك علما وبيانا عن جهل هذا المنكر المستدل بكلام ابن حجر في رد خبر ثويبة ” بأنه رؤيا منام لاحجة فيه ” بأن هذا الناقل حرّف كلامه وتصرف فيه بما يوافق هواه إذ قطعه عن أصله ، ولم يأت به على وجهه الصحيح ، ولو جاء به كاملا لصكه بحجته ورده على عقبه مخذولا ، فإن الحافظ ابن حجر رد هذا الإعتراض وبين في خاتمة بحثه أنه يجوز أن يتفضل الله بما شاء على أبي لهب كما تفضل على أبي طالب ، والمتبع في ذلك التوقيف نفيا وإثباتا ، والتفضيل المذكور إكراما لمن وقع من الكافر البر له ونحو ذلك ، وقد كتبنا بحثا خاصا عن هذا الخبر في كتابنا ” المفاهم ” وإليك نصه :
Dan saya menambahkan catatan dan pernyataan tentang kebodohan pengingkar ini yang bertendensi dengan pendapat Ibnu Hajar dalam menolak kabar tentang Tsuwaibah “bahwakabar tersebut hanya mimpi yang tidak argumentatif” bahwa pengutipnya merubah pendapat beliau dengan sesuatu yang sesuai dengan hawa nafsu mereka, karena tidak sesuai dengan aslinya, dan tidak sesuai dengan cara yang Shahih (benar), seandainya dia mengutip secara sempurna, niscaya dia akan menampar dirinya sendiri dengan hujjahnya dan mengembalikan ke tumitnya dalam keadaan terhina, karena sesungguhnya Al-Hafidz Ibnu Hajar menepis penolakan tersebut dan menjelaskan di akhir pembahasannya bahwa boleh-boleh saja Allah SWT memberi anugerah kepada Abi Lahab sesuai dengan kehendak-Nya sebagaimana Allah SWT telah memberi anugerah kepada Abi Thalib, rujukan dalam hal ini adalah penjelasan syari’at dalam segi mentiadakan dan menetapkan, dan penganugerahan di atas untuk memuliakan orang yang menerima kebaikan dari orang kafir. Dan kami telah menulis pembahasan khusus tentang kisah ini dalam kitab kami Al-Mafahim.

قصة عتق ثويبة

 

يذكر العلماء فى كتب الحديث والسيرة قصة عتق أبي لهب لجاريته ثويبة لما أخبرته بولادة النبي صلى الله عليه وسلم وأن العباس ابن عبد المطلب رأى أبا لهب في النوم بعد وفاته فسأله عن حاله فقال : لم ألق خيرا بعدكم غير أني سقيت في هذه بعتاقتي ثويبة وأنه ليخفف عليّ فى كل يوم الاثنين .
Kisah kemerdekaan Tsuwaibah

 

Dalam berbagai kitab hadits dan sejarah, para Ulama menyebutkan kisah memerdekakan Abu Lahab terhadap Tsuwaibah budaknya, ketika dia memberi kabar bahagia atas kelahiran Nabi Muhammad SAW dan sesungguhnya sayyidina Abbas bin Abdul muthallib bermimpi bertemu Abu Lahab setelah kematiannya, lalu beliau menanyakan keadaannya, kemudian Abu Lahab menjawab: “Saya tidak menemukan kebaikan setelah kalian, selain sesungguhnya aku diberi minuman dị neraka ini, sebab aku telah memerdekakan Tsuwaibah, dan sungguh diringankan siksaanku setiap hari senin”.

قلت : هذا الخبر رواه جملة من أئمة الحديث والسير مثل الإمام عبد الرزاق الصنعاني والإمام البخاري والحافظ ابن حجر والحافظ ابن كثير والحافظ البيهقي وابن هشام والسهيلي والحافظ البغوى وابن الديبع والأشخر والعامرى , وسأبين ذلك بالتفصيل فيما يأتي :

Saya katakan: Kisah ini diriwayatkan oleh sekelompok imam hadist dan sejarah seperti Imam Abdurrozaq As-Son’ani, imam al-Bukhori, al-Hafidz Ibnu hajar, al-Hafidz Ibnu katsir, al-Hafidz al-Baihaqi, Ibnu Hisyam, al-Suhaili, al-Hafidz al-Baghowi, Ibnu Dhiba’, al-Asy-khor dan al-‘Amiri, dan akan dijelaskan secara detail di bawah ini:

فأما الإمام عبد الرزاق الصنعاني فقد رواه في المصنف ( ج 7 ص 478) وأما الإمام البخاري فقد رواه في صحيحه بإسناده إلى عروة بن الزبير مرسلا في كتاب النكاح باب (وأمهاتكم اللاتي أرضعنكم) . وأما ابن حجر فقد ذكره في الفتح وقال : إنه رواه الإسماعيلي من طريق الذهل عن إبي اليمان ، ورواه عبد الرزاق عن معمر وقال : وفي الحديث دلالة على أن الكافر قد ينفعه العمل الصالح في الآخرة ، لكنه مخالف لظاهر القرآن ، قال الله تعالى : ( وقدمنا إلى ما عملوا من عمل فجعلناه هباء منثورا ) وأجيب أولا بأن الخبر مرسل أرسله عروة ولم يذكر من حدثه به ، وعلى تقدير أن يكون موصولا فالذي في الخبر رؤيا منام فلا حجة فيه ، ولعل الذي رآها لم يكن إذ ذاك أسلم بعد فلا يحتج به ، [6]وثانيا على تقدير القبول: فيحتمل ان يكون ما يتعلق بالنبي صلى الله عليه وسلم مخصوصا من ذلك بدليل قصة أبي طالب كما تقدم أنه خفف عنه فنقل من الغمرات إلى الضحضاح ، وقال البيهقي : ما ورد من بطلان الخير للكفار فمعناه أنهم لايكون لهم التخلص من النار ولا دخول الجنة ، ويجوز أن يخفف عنهم من العذاب الذي يستوجبونه على ما ارتكبوه من الجرائم سوى الكفر بما عملوه من الخيرات .

Adapun Imam Abdurrozaq as-Shon’ani sungguh telah meriwayatkan kisah ini dalam kitab Al-Mushonnaf jilid 7 halaman 478, Imam Al-Bukhori meriwayatkannya dalam shohih al-Bukhori dengan sanadnya kepada ‘Urwah ibn Al-Zubair secara Mursal dalam bab nikah (وامهاتكم اللاتي ارضعنكم). dan Ibnu Hajar telah menyebutkan dalam kitab Al-Fath dan beliau berkata: sesungguhnya kisah ini diriwayatkan oleh Al-Ismailiy dari ad-Dzahl dari Abi al-yaman, dan diriwayatkan oleh Abdurrozaq dari Muammar dan beliau berkata: di dalam kisah ini ada indikasi bahwasanya orang kafir bisa mengambil manfaat dengan amal baiknya (kelak) di akhirat, akan tetapi ini tidak sesuai dengan teks al-Qur’an, Allah SWT berfirman: “dan kami akan perlihatkan segala amal yang mereka lakukan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan (sia-sia)”.

Jawaban pertama: bahwasanya kisah tersebut adalah kisah Mursal-nya ‘Urwah yang tidak disebutkan siapa yang menceritakannya, berdasarkan bahwa kisah tersebut adalah kisahMaushul, maka kisah tersebut hanya mimpi belaka yang tidak argumentatif. Barang kali yang bermimpi pada waktu itu belum islam sehingga tidak argumentatif.

Kedua: kemungkinan bisa diterima, diarahkan pada sesuatu yang berkaitan dengan Nabi secara khusus, dengan dalil kisah Abi Thalib yang diringankan siksaannya lalu dipindah dari neraka yang dalam ke neraka yang dangkal. Imam al-Baihaqi berkata: hadits tentang tidak diterimanya kebaikan orang kafir. Artinya adalah bahwasanya mereka orang kafir tidak bisa selamat dari api neraka dan tidak akan masuk surga. Dan boleh-boleh saja mereka diberi keringanan siksa yang disebabkan dosa-dosa yang mereka kerjakan selain kufur, hal ini disebabkan amal baik mereka.

وأما عياض فقال : انعقد الإجماع على أن الكفار لاتنفعهم أعمالهم ولا يثابون عليها بنعيم ولا تخفيف عذاب ، وإن كان بعضهم أشد عذابا من بعض .

Adapun imam ‘Iyadh berkata: Ulama sepakat bahwasanya amal orang kafir tidak bermanfaat dan tidak dibalas dengan kenikmatan dan keringanan siksa, meskipun sebagian dari mereka siksaannya lebih berat dari sebagian yang lain.

قلت : وهذا لا يرد الاحتمال الذي ذكره البيهقي ، فإن جميع ما ورد من ذلك فيما يتعلق بذنب الكفر ، وأما ذنب غير الكفر فما المانع من تخفيفه ؟

Saya katakan: Ini tidak menolak kemungkinan yang disebutkan oleh Al-Baihaqi, karena semua pembahasan di atas hanya membahas masalah yang berhubungan dengan dosa kekafiran, adapun dosa selainnya, apa yang mencegah untuk diringankan?

وقال القرطبي : هذا التخفيف خاص بهذا وبمن ورد النص فيه ، وقال ابن المنير في الحاشية : هنا قضيتان :

إحداهما : محال وهي اعتبار طاعة الكافر مع كفره لأن شرط الطاعة أن تقع بقصد صحيح وهذا مفقود من الكافر .

الثانية : إثابة الكافر على بعض الأعمال تفضلا من الله تعالى وهذا لا يحيله العقل ، فإذا تقرر ذلك لم يكن عتق أبي لهب لثويبة قربة معتبرة ، ويجوز أن يتفضل الله عليه بما

شاء كما تفضل على أبي طالب ، والمتبع في ذلك التوقيف نفيا وإثباتا .

Dan Al-Qurtubi berkata: Keringanan ini khusus kepada orang ini (Abu Lahab) dan orang yang sudah ada Nash-nya, dan Ibn al-Munir berkata dalam al-Hasyiyah-nya: dalam hal ini ada dua keputusan:

Pertama: Mustahil (tidak masuk akal), menilai ibadahnya orang kafir dalam keadaan kufur, karena syaratnya amal ibadah harus dilakukan dengan tujuan yang benar, dan hal ini tidak dimiliki oleh orang kafir.

Kedua: Memberi pahala kepada orang kafir atas sebagian ibadahnya sebagai anugerah dari Allah SWT ini tidak masuk akal, kalau ketetapannya demikian, maka memerdekakannya Abu Lahab terhadap Tsuwaibah tidak dianggap ibadah. Dan boleh bagi Allah memberi anugerah kepada Abu Lahab sesuai kehendak-Nya sebagaimana Allah telah memberi anugerah kepada Abu Thalib, rujukan dalam hal ini adalah penjelasan syari’at dalam segi mentiadakan dan menetapkan.

قلت : وتتمة هذا أن يقع التفضل المذكور إكراما لمن وقع من الكافر البر له ونحو ذلك . والله أعلم . اهـ من السيرة النبوية لابن كثير ( ج 1 ص 224 )

Saya katakan: kesimpulannya adalah anugerah tersebut terjadi untuk memuliakan orang yang diperlakukan baik oleh orang kafir. Wallahu a’lam.

Dikutip dari kitab As-Sairoh An-nabawiyah karya Ibnu Katsir (jilid 1 halaman 224).

وأما الحافظ عبد الرحمن بن الديبع الشيباني صاحب جامع الأصول فقد رواه في سيرته وقال معلقا : ” قلت : فتخفيف العذاب عنه إنما هو كرامة النبي صلى الله عليه وسلم كما خفف عن أبي طالب لا لأجل العتق ، لقوله تعالى😦 وحبط ما صنعوا فيها وباطل ما كانوا يعملون ) اهـ . من حدائق الانوار في السيرة ( ج 1 ص 134)

Adapun Al-Hafidz Abdurrahman ibn Al-diba’ As-Syaibany pengarang kitab Jami’ul Ushul telah meriwayatkan bahwa kisah di atas sebagai kisah Mu’allaq di dalam sejarahnya. Saya berkata: keringanan siksa terhadap Abu Lahab adalah untuk memuliakan Nabi Muhammad SAW sebagaimana keringanan yang diterima Abu Thalib, bukan karena memerdekakan, karena Allah SWT berfirman: “Dan Allah menghapus segala amal yang mereka lakukan, dan batal (sia-sia) seluruh amal yang mereka lakukan”. Dikutip dari Hadaiq al-Anwar di dalam kitab As-Siroh (jilid 1 halaman 134).

وأما الحافظ البغوي فقد رواه في شرح السنة ( ج ٩ ص ٧٦)

Adapun Al-Hafidz Al-Baghowi telah meriwayatkan kisah tersebut dalam kitab Syarh al-Sunnah (jilid 9 halaman 76).

وأما الإمام الأشخر فقد رواه في بهجة المحافل ، وقال شارحه العامرى : قيل هذا خاص به إكراما له صلى الله عليه وسلم كما خفف عن أبي طالب بسببه ، وقيل : لامانع من تخفيف العذاب عن كل كافر عمل خيرا . اهـ من شرح البهجة (١/٤١) .

Adapun Imam Al-Asyhor sungguh telah meriwayatkan kisah ini dalam kitab Bahjah al-Mahafil, dan penyarahnya, Al-Amiri berkata: di katakan, keringanan ini khusus kepadanya (Abu Lahab) sebagai penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW sebagaimana keringanan atas Abi Thalib, dan dikatakan: tidak ada yang mencegah keringanan siksa atas orang kafir yang berbuat baik. Dari Syarh al-Bahjah (1/41).

أما السهيلي فقد رواه في الروض الأنف في شرح السيرة لابن هشام وقال بعد نقل الخبر : فنفعه ذلك وهو في النار كما نفع أخاه أبا طالب ذبه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم فهو أهون أهل النار عذابا ، وقد تقدم في باب أبي طالب أن هذا النفع إنما هو نقصان من العذاب ، وإلا فعمل الكافر كله محبط بلا خلاف أي لايجده في ميزانه ولا يدخل به جنة أهــ . الروض الأنف ( ج ٥ص ١٩٢).

Imam As-Suhaily sungguh telah meriwayatkan kisah tersebut dalam kitab Ar-Roudh al-Anfi, Syarh As-siroh karya Ibnu Hisyam dan beliau berkata setelah mengutip kisah tersebut: Bermanfaatnya hal tersebut meskipun Abu Lahab di dalam neraka, itu seperti halnya manfaat pembelaan Abu Thalib (saudaranya) atas Nabi Muhammad SAW maka dia adalah penghuni neraka yang paling ringan siksaannya. Dan di atas telah dijelaskan bahwasanya manfaat tersebut hanya pengurangan siksa, karena jika tidak demikian, maka seluruh perbuatan (baik) orang kafir terhapus (tidak bernilai) sesuai dengan kesepakatan ulama, dengan artian dia tidak akan mendapati (pahala) amal perbuatannya dan dia tidak akan masuk surga sebab amal tersebut. Ar-roudh al-Anf (5/192).

حاصل البحث

والحاصل أن هذه القصة مشهورة في كتب الأحاديث وفي كتب السيرة ونقلها حفاظ معتبرون معتمدون ، ويكفي في توثيقها كون البخاري نقلها في صحيحه المتفق على جلالته ومكانته ، وكل ما فيه من المسند صحيح بلا كلام ، حتى المعلقات والمرسلات (1) فإنها لا تخرج أصولها عن دائرة المقبول ولا تصل إلى المردود ، كما هي مفصلة في مواضعها ، وهذا يعرفه أهل العلم المشتغلون بالحديث والمصطلح والذيــن يعرفون معنى المعلق والمرسل ، ويعرفون حكمهما إذا جاءت في الصحيح .

Kesimpulan

 

     Kesimpulannya adalah bahwa kisah tersebut masyhur dalam kitab-kitab hadits dan sejarah, serta sering dikutip oleh banyak Hafidz (Ulama yang Hafal Hadits) yang diakui dan bisa dijadikan pedoman, Dan cukup sebagai bukti bahwa cerita di atas bisa dipercaya, adanya Imam Bukhori yang telah mengutip kisah tersebut dalam kitabnya Shahih Bukhori yang diakui keagungan dan kemuliaannya, dan semua hadits Musnad di dalamnya adalah hadits Shahih yang tidak perlu dibahas, bahkan hadits-hadits Muallaq dan Mursalsekalipun[7]. Karena pokok-pokoknya tidak keluar dari kategori hadits Maqbul dan tidak masuk kategori hadits Mardud, seperti yang dijelaskan dalam babnya masing-masing. Dan sudah maklum di kalangan para Ulama yang menekuni hadits dan Mustholah, dan para Ulama yang mengerti arti hadits Muallaq dan hadits Mursal serta hukumnya, jika terdapat dalam kitab Shahih Bukhori .

فانظر إن شئت ذلك في كتب المصطلح كألفية السيوطي والعراقي وشروحهما وتدريب الراوى فإنهم تعرضوا لهذه المسألة وبينوا قيمة ما في الصحيح من المعلق والمرسل وأن ذلك مقبول عند المحققين .

Jika anda ingin mengetahui hal di atas, maka pelajarilah dalam kitab Mustholahil-hadist seperti Alfiyah As-Suyuthi dan Alfiyah Al-Iroqi serta beberapa syarahnya dan kitab Tadrib Al-Rawy, sesungguhnya para ulama hadits telah menyinggung masalah ini dan menjelaskan kedudukan hadits Muallaq dan hadits Mursal yang ada dalam As-Shahih merupakan haditsMaqbul menurut para ahli .

ثم إن هذه المسألة من المناقب والفضائل والكرامات التي يذكرها العلماء في كتب الخصائص والسير ويتساهلون في نقلها ولا يشترطون فيها الصحيح بالمعنى المصطلح عليه ، ولو ذهبنا إلى اشتراط هذا الشرط الشاذ لما أمكن لنا ذكر شيئ من سيرة النبي صلى الله عليه وسلم قبل البعثة وبعد البعثة مع أنك تجد كتب الحفاظ الذين عليهم العمدة وعلى صنيعهم المعول ، والذين منهم عرفنا ما يجوز وما لا يجوز ذكره من الحديث الضعيف ، نجد كتبهم مملوءة بالمقطوعات والمراسيل وما أخذ عن الكهان وأشباههم في خصائص رسول الله صلى الله عليه وسلم ، لأن ذلك مما يجوز ذكره في هذا المقام إلا ما تحقق وضعه وثبتت نكارته .

Sesungguhnya masalah ini adalah masalah prilaku terpuji, keutamaan dan keistimiwaan yang disebutkan para Ulama dalam kitab-kitab Khoshois (kitab yang menjelaskan tentang keistimewaan atau karomah) dan kitab-kitab sejarah, mereka mempermudah dalam mengutip masalah tersebut dan tidak mensyaratkan harus berupa hadits shahih sebagaimana dalam ilmu mustholah. Seandainya kita memberlakukan syarat langka tersebut, niscaya kita tidak akan bisa menyebutkan sedikitpun tentang sejarah Nabi Muhammad SAW sebelum dan sesudah terutusnya beliau, padahal anda menemukan kitab-kitab para Hafidz yang dijadikan rujukan dan prilaku mereka dijadikan pijakan, dan dari mereka pula kita bisa mengetahui mana hadits dho’if yang boleh diamalkan dan yang tidak, kita menemukan kitab-kitab mereka dipenuhi hadits-hadits Maqthu’, Mursal, hadist yang diambil dari para pendeta dan sebagainya, mengenai keistimewaan-keistimewaan Nabi Muhammad SAW, karena hal itu termasuk kategori hadits yang boleh diamalkan dalam masalah ini, kecuali hadits yang nyata ke-maudlu’-an dan kemungkarannya.

أما قول من قال : إن هذا الخبر يعارض قوله تعالى : (وقدمنا إلى ما عملوا من عمل فجعلناه هباء منثورا )   فهذا قول مردود بما قاله العلماء ونقلناه عنهم سابقا .

Adapun pendapat seseorang: Sesungguhnya kisah ini bertentangan dengan firman Allah SWT: Dan kami akan perlihatkan segala amal yang mereka lakukan lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan” itu pendapat yang tidak benar atau tertolak oleh pendapat para Ulama yang telah kami kutip di atas.

وتحرير الكلام في هذا المقام هو أن الآية تدل على أن أعمال الكفار لاينظر إليها وليس فيها أنهم سواء في العذاب وأنه لايخفف عن بعضهم العذاب كما هو مقرر عند العلماء.

Dan meneliti kembali masalah ini bahwa sesungguhnya ayat tersebut menunjukkan tentang amal-amal (ibadah-ibadah) orang kafir itu tidak bernilai dan dalam ayat tersebut tidak ada indikasi bahwa siksaan mereka sama, dan sebagian dari mereka tidak diringankan siksaannya seperti yang sudah di tetapkan para Ulama.

وكذلك الإجماع الذي حكاه عياض ، فإنه في عموم الكفار وليس فيه أن الله تعالى لا يخفف العذاب عن بعضهم لأجل عمل عملوه، ولهذا جعل الله تعالى جهنم دركات، والمنافقون في الدرك الأسفل منها .

Begitu juga Ijma’ yang diceritakan oleh Imam ‘Iyad, itu menerangkan orang kafir secara umum dan di sana tidak ada indikasi bahwasanya Allah SWT tidak meringankan siksaan sebagian mereka sebab amal mereka, oleh karenanya Allah SWT menciptakan neraka Jahanam bertingkat-tingkat, dan orang munafik berada paling bawah.

ثم إن هذا الإجماع يرده النص الصحيح ، ولايصح إجماع مع مخالفة النص كما هو معلوم للطلبة ، وذلك أنه ثبت في الصحيح أن رسول الله صلى الله عليه وسلم سئل: هل نفعت أبا طالب بشيئ فإنه كان يحوطك ويدافع عنك ؟ فقال : وجدته في غمرات من النار فأخرجته إلى ضحضاح منها .. الحديث .

Dan Ijma’ ini ditolak oleh Nash Shahih, dan sudah maklum di kalangan santri bahwasanya Ijma’ tidak sah jika bertentangan dengan Nash, dalam As-Shahih hal ini sudah ditetapkan sesungguhnya Rasulullah SAW pernah ditanyakan: “Bermanfaatkah engkau bagi Abi Thalib yang telah menjaga dan membela engkau? Maka Nabi menjawab: Aku menemukannya di dalam genangan air (kepedihan) neraka lalu aku keluarkan dia ke air yang dangkal darinya”……………AlHadits.

 

فها هو أبو طالب قد نفعه دفاعه عن النبي صلى الله عليه وسلم وأخرجه النبي صلى الله عليه وسلم من أجل ذلك من غمرات النار إلى ضحضاح منها .

 

Ingatlah! bahwasanya benar-benar bermanfaat bagi Abu Thalib, pembelaannya kepada Nabi SAW dan karena hal itu dia dikeluarkan oleh Nabi dari genangan air (kepedihan) neraka ke air yang dangkal darinya.

فالتخفيف عن أبي لهب من هذا الباب أيضا لا منكر فيه ، والحديث يدل على أن الآية المذكورة فيمن لم يكن لهم عمل يوجب التخفيف وكذلك الإجماع .

Maka keringanan siksa atas Abu Lahab termasuk dari bab ini juga, tidak ada yang ingkar, dan hadits tersebut menunjukkan bahwa ayat di atas menerangkan tentang orang yang tidak punya amal yang dapat menyebabkan ringannya siksa, begitu juga Ijma’.

وفي حديث أبي طالب المذكور دلالة وأي دلالة على أن النبي صلى الله عليه وسلم يتصرف الآن وقبل يوم القيامة في أمور الآخرة ويشفع لمن تعلق به ودافع عنه .

Dan dalam Hadits yang menceritakan tentang Abi Thalib di atas ada indikasi bahwasanya Nabi Muhammad SAW dapat bertindak pada saat ini dan sebelum hari kiamat dalam beberapa urusan akhirat, serta dapat memberi syafa’at kepada orang yang ada hubungan dengan Nabi dan yang pernah membelanya.

وأما قول من قال : إن هذا الخبر رؤيا منام لا يثبت بها حكم ، فإن هذا القائل – هداه الله للصواب – لا يفرق بين الأحكام الشرعية وغيرها .

Adapun pendapat seseorang yang mengatakan: Sesungguhnya kabar ini hanya sebuah mimpi belaka yang tidak bisa menetapkan sebuah hukum, maka sesungguhnya orang ini -semoga Allah memberikan petunjuk ke jalan yang benar- tidak bisa membedakan antara hukum syariat dan lainnya.

أما الأحكام الشرعية فإن الخلاف واقع بين الفقهاء : هل يجوز أخذ الأحكام وتصحيح الأخبار برؤيا رسول الله صلى الله عليه وسلم في المنام أم لا ؟..

وأما غيرها فإن الإعتماد على الرؤيا في هذا الباب لا شيئ فيه مطلقا.

Adapun dalam hukum-hukum Syari’at terjadi perselisihan di kalangan para Fuqoha: Boleh apa tidak mengambil hukum-hukum syari’at dan menganggap shahih beberapa hadits dengan bermimpi Rasulullah SAW?

Sedangkan selain hukum-hukum Syari’at, maka sesungguhnya bertendensi kepada mimpi tidak ada masalah. secara mutlak.

وقد اعتمد عليها الحفاظ وذكروا ما جاء في رؤيا أهل الجاهلية قبل بعثة رسول الله صلى الله عليه وسلم المنذرة بظهوره . وأنه سيقضي على الشرك وما هم عليه من فساد . وكتب السنة مملوءة بهذا ، وفي مقدمتها كتاب دلائل النبوة وعدوها من الإرهاصات التي لا مانع من الإستدلال في شأنها بالرؤيا ، ولو لا ذلك لما ذكروها .

Para Hafidz (Ahli Hadits) berpedoman terhadap mimpi dan mereka memberikan penjelasan mengenai mimpi orang jahiliyah sebelum terutusnya Rasulullah SAW yang memperingatkan akan diutusnya Nabi Muhammad SAW, dan beliau akan menghapus kesyirikan dan kerusakan yang mereka lakukan, dan kitab-kitab hadits dipenuhi dengan penjelasan ini, di antaranya adalah kitab Dala’il An-Nubuwah dan hal itu dianggap sebagai tanda-tanda kenabian yang tidak ada larangan untuk menjadikannya sebagai dalil meskipun statusnya sebagai mimpi, dan seandainya tidak demikian, niscaya Ahli Hadits tidak akan menyebutkannya.

فقول القائل في شأن رؤيا العباس: إنها ليست بحجة ولايثبت بها حكم ولا خبر ، خروج عن عمل الأئمة من الحفاظ وغيرهم ، والمراد به التهويل لا غير ، وما هكذا يكون شأن الباحث عن الحق ، والأمر لله .

Adapun pendapat yang mengatakan tentang status mimpi Sayyidina Abbas: Bahwa mimpi tersebut bukan hujjah dan tidak bisa menetapkan hukum dan berita, itu keluar dari tindakan para Imam (para Hafidz dan yang lain(, dan tujuannya tidak lain hanya untuk menakut-nakuti dan itu bukan sifat orang yang membahas dan mencari kebenaran. Segala urusan hanya milik Allah.

وأما من قال : إن الرائي والمخبر هو العباس في حال الكفر ، والكفار لا تسمع شهادتهم ولا تقبل أخبارهم فإن هذا قول مردود ، لا رائحة للعلم فيه وهو باطل ، ذلك لأنه لم يقل أحد أن الرؤيا من باب الشهادة مطلقا ، وإنما هي بشارة لا غير ، فلا يشترط فيها دين ولا إيمان ، بل ذكر الله تعالى في القرآن معجزة يوسف عليه السلام عن رؤيا ملك مصر وهو وثني لا يعرف دينا سماويا مطلقا ، ومع ذلك جعل الله تعالى رؤياه المنامية من دلائل نبوة يوسف عليه السلام وفضله وقرنها بقصته ، ولو كان ذلك لا يدل على شيئ لما ذكرها الله تعالى لأنها رؤيا مشرك وثني لا فائدة فيها لا في التأييد ولا في الإنكار .

Adapun orang yang mengatakan : Sesungguhnya pemimpi dan pengabar yakni Abbas itu dalam keadaan kufur, sedangkan orang kafir tidak di terima kesaksian dan beritanya, ini adalah pendapat yang tertolak, dan tidak berdasarkan ilmu dan hal itu tidak bisa di benarkan (batal), semua itu karena tidak satu orangpun yang mengatakan bahwasanya mimpi itu termasuk bab kesaksian secara mutlak, mimpi itu tidak lain hanya kabar gembira, oleh sebab itu tidak di syaratkan harus beragama dan beriman, bahkan di dalam al qur’an Allah Swt menyebutkan mukjizat Nabi Yusuf tentang mimpi Raja mesir padahal dia seorang watsani (penyembah berhala) yang tidak mengerti agama langit secara mutlak, bersamaan itu Allah SWT menjadikan mimpi Nabi Yusuf sebagai dalil/bukti kenabian dan keistimewaannya dan di sebutkan di dalam kisahnya, dan seandainya hal itu tidak menunjukkan sesuatu maka niscaya Allah tidak akan menyebutkannya karena itu mimpi orang musrik watsani yang tidak ada faedahnya untuk menguatkan dan menginkari .

ولهذا ذكر العلماء أن الكافر يرى الله في المنام ويرى في ذلك ما فيه إنذار له وتوبيخ وتقريع .

Dan oleh sebab itu Ulama’ menuturkan bahwa sesungguhnya orang kafir bisa memimpikan Allah dan apa saja yang mengandung peringatan, celaan dan teguran .

والعجب كل العجب من قول القائل : إن العباس رأى ذلك في حال كفره والكفار لا تسمع شهادتهم ولا تقبل أخبارهم ، فإن هذا القول يدل على عدم المعرفة بعلم الحديث ، إذ المقرر في المصطلح أن الصحابي أو غيره إذا تحمل الحديث في حال كفره ثم روى ذلك بعد إسلامه أخذ ذلك عنه وعمل به ، وانظر أمثلة ذلك في كتب المصطلح لتعرف بعد صاحب هذه القول عن العلم ، وإنما الهوى هو الذي حمل المعترض على الدخول فيما لايتقنه .

Dan sungguh sangat mengherankan sekali pendapat yang mengatakan: Sesungguhnya Sayyidina Abbas memimpikan hal tersebut di saat dia masih kafir, sementara orang kafir tidak diterima kesaksian dan beritanya, maka sesungguhnya pendapat ini mengindikasikan atas ketidak pahamannya pada ilmu Hadits, karena ketetapan dalam Al-Musthalah adalah bahwasanya seorang sahabat atau yang lain ketika menghafal hadits pada saat dia masih kafir, kemudian meriwayatkannya setelah masuk Islam, maka hadits tersebut dapat diambil dan diamalkan. Lihatlah contoh yang lain dalam kitab-kitab Al-Musthalah agar anda tahu bahwa orang yang mengeluarkan pendapat tersebut tidak berilmu, dan hawa nafsulah yang mendorongnya masuk ke dalam perkara yang tidak dia yakini.

ونختم البحث بأن نقول : إن رؤيا العباس هذه تختلف عن جميع المرائي إذ هي متميزة بأنها يحكيها العباس بحضرة سيدنا رسول الله صلى الله عليه وسلم وقد سمعها وأقرها وصدقها ، ولو كان فيها مخالفة للدين لأنكرها وردها ، لكنه حيث سمعها وأقرها فإنها أصبحت سنة تقريرية كقصة تميم الداري وخبره عن الجساسة التي رآها وقد نقلها أصحاب الصحيح .

Dan saya akhiri pembahasan ini dengan ucapan: Sesungguhnya mimpi Sayyidina Abbas ini berbeda dengan mimpi-mimpi yang lain, karena mimpi Sayyidina Abbas itu diceritakan olehnya di hadapan Nabi Muhammad SAW, dan sungguh Nabi mendengar, mengakui dan membenarkan mimpi tersebut, dan seandainya mimpi tersebut bertentangan dengan agama, niscaya Nabi ingkar dan menolaknya, akan tetapi ketika Nabi mendengar dan mengakui cerita tersebut, maka itu menjadi Sunah Taqririyah (ketetapan), sebagaimana kisah dan berita Tamim Al-Dary tentang penelitian yang dia lakukan yang dikutip oleh AshabusShahih.

وكالحديث المشهور بحديث أم زرع الذي روته السيدة عائشة لسيدنا رسول الله صلى الله عليه وسلم وفيه خبر النسوة اللواتي اجتمعن وتذاكرن أحوال أزواجهن وهو من أخبار الجاهلية ، وكانت السيدة عائشة تقص الخبر على النبي صلى الله عليه وسلم وهو يستمع إليها باهتمام شديد ويتجاوب معها في الكلام ويتعلق على القصة بقوله : ( كنت لك كأبي زرع لأم زرع ) فهذا الخبر صار حديثا مرويا له حكم الرفع وذكره العلماء في كتب الأحاديث ومنهم البخارى في الصحيح ومسلم في الصحيح والترمذي في الشمائل المحمدية مع أنه قصة عن نسوة اجتمعن في الجاهلية لكن بسماع رسول الله صلى الله عليه وسلم له أخذ حكم الحديث المرفوع واستحق أن يروى في كتبه ودواوينه المعتبرة .

Seperti halnya hadits Masyhur tentang kisah Ummi Zara’ yang diceritakan oleh Sayyidah Aisyah RA kepada Rasulullah SAW Dalam kisah tersebut terdapat informasi tentang beberapa perempuan yang berkumpul sambil membicarakan prilaku suami mereka, dan hal itu termasuk kisah pada zaman jahiliyah, dan Sayyidah Aisyah RA menceritakan kisah tersebut kepada Nabi Muhammad SAW dan beliau mendengarkan dengan seksama, kemudian Nabi menjawab dan mengkaitkan kisah tersebut dengan sabdanya: “Aku bagimu bagaikan Abi Zara’ bagi Ummi Zara’”. Kisah ini menjadi Hadits riwayat yang berstatus hukumMarfu’ dan disebutkan oleh para Ulama dalam kitab-kitab hadits, di antaranya adalah Imam Al-Bukhori dalam As-shahih-nya, Imam Muslim dalam As-shahih-nya dan Imam At-Turmudzi dalam As-Syamail Al-Muhammadiyah-nya, padahal kisah itu tentang perempuan yang berkumpul pada zaman jahiliyah, akan tetapi sebab didengar oleh Rasulullah SAW, Hadits tersebut dihukumi Marfu’ dan berhak diriwayatkan dalam berbagai kitab dan buku referensi yang diakui (valid).

تحقيق البحث في العمل بالحديث المرسل

اختلف العلماء من الأصلويين وأهل الحديث في حكم الحديث المرسل على أقوال متعددة مبسوطة في كتب المصطلح والأصول فارجع إليها إن شئت ، لكن هنا مسألة أخرى وهي مسألة العمل به والنظر إليه بالإعتبار والقبول في الدائرة التي تناسبه انطلاقا من قاعدتين عظيمتين :

Menguatkan pembahasan tentang pengamalan Hadits Mursal

 

Ulama Ushul dan Hadits berbeda pandangan dalam menyikapi Hadits Mursal dengan berbagai pendapat yang tertuang dalam kitab Musthalah dan Ushul, maka kajilah kembali, akan tetapi dalam hal ini ada permasalahan lain yaitu mengamalkan Hadits Mursal. Adapun pertimbangannya itu dengan memandang aspek legalitas dan relevansinya (diterima) pada kondisi yang sesuai dengan afiliasi (mengarah) pada dua kaidah agung:

الأولى : قاعدة العمل بالحديث الضعيف وذلك عند من لا يقول بالإحتجاج بالمرسل .

 

     Pertama: Kaidah mengamalkan Hadits Dho’if, hal ini menurut orang yang berpendapat bahwa Hadits Mursal tidak bisa dijadikan Hujjah.

والثانية : قاعدة تقديم كلام النبي صلى الله عليه وسلم على آراء الرجال ، لذلك فإن العمل بالحديث المرسل والإحتجاج به في محله اللائق به من الأمور المطلوبة والموصى بها ، وإهماله وإلغاؤه من الإعتبار لا شك أنه إضاعة لذخيرة كبيرة من السنة النبوية ، فإذا أدى ذلك إلى الأخذ بالآراء والأقوال الإجتهادية دونه فهي خسارة ظاهرة .

Kedua: Kaidah mendahulukan sabda Nabi Muhammad SAW atas pendapat yang lain, oleh sebab itu, mengamalkan hadits Mursal dan menjadikannya sebagai hujjah pada waktu yang tepat merupakan anjuran dan wasiat Nabi, dan sudah tidak diragukan lagi bahwa membiarkan (tanpa diamalkan) dan tidak mengakuinya adalah bentuk menyia-nyiakan pusaka suci (Sunnah Nabi) yang sangat agung, maka ketika ada yang memaksakan melakukan hal di atas dengan mengadopsi pendapat dan argumen yang bersifat ijtihad tanpa mengamalkan sabda Nabi SAW Maka itu jelas sebuah kerugian.

قال في اللباب :

ومن ترك العمل بالمرسل فقد ترك أكثر أحاديث رسول الله صلى الله عليه وسلم قال أبو الوليد الباجي : “ولو تتبعت أخبار الفقهاء السبعة وسائر أهل المدينة والشاميين والكوفيين ، لوجدت ( أئمتهم ) كلهم قد أرسلوا الحديث ” ثم هذا عبد الله بن عباس رضي الله عنه مسنده من أكثر مسانيد الصحابة رضي الله عنهم ، وقد ثبت بخبره أنه لم يسمع من النبي صلى الله عليه وسلم إلا نحو من سبعة أحاديث.

 

Pendapat dalam kitab Al-Lubab

 

    Barang siapa yang tidak mengamalkan Hadits Mursal, maka sungguh dia telah meninggalkan sebagian besar Hadits Rasulullah SAW. Abu Walid Al-Bajy berkata: “Seandainya anda meneliti tentang berita Ulama Fiqh yang tujuh, Ulama Madinah, Syiria dan Kufah, niscaya anda menemukan semua imam mereka telah memakai Hadits mursal”, Inilah Abdullah bin Abbas RA, sebagian besar sanad haditsnya dari para Sahabat RA Terbukti dengan berita Ibnu Abbas bahwa beliau tidak mendengar langsung dari Nabi Muhammad SAW kecuali sekitar tujuh Hadits [8].

قال الإمام العلامة الشيخ ملا علي قاري : اعلم أن علماءنا رحمهم الله أكثر اتباعا للسنة من غيرهم ، وذلك أنهم اتبعوا السلف في قبول المرسل معتقدين أنه كالمسند في المعتمد مع الإجماع على قبول مراسيل الصحابة من غير نزاع ، ثم قال : وأشار إلى ذلك الحافظ أبو عمرو بن عبد البر في التمهيد .

Imam Al Allamah Syeikh Mulla Ali Qori berkata: ketahuilah! Sesungguhnya Ulama’ kita lebih banyak mengikuti sunnah dari pada Ulama’ yang lain, karena mereka mengikuti Ulama’ Salaf dalam menerima Hadits Mursal dengan meyakini bahwa sesungguhnya Hadits Mursalitu sama seperti Hadist Musnad dalam sama-sama bisa dibuat pedoman, serta adanya kesepakatan untuk menerima Hadist-Hadist Mursal para Sahabat tanpa ada pertentangan. Kemudian beliau berkata: “Bahwa Al-Hafidz Abu Amr bin Abdul Barri mensinyalir hal itu dalam kitab At-Tamhid”.

ثم قال : والحاصل أن المرسل حجة عند الجمهور ، ومنهم الإمام مالك ونقله الحافظ أبو الفرج ابن الجوزي في التحقيق عن أحمد ، وروى الخطيب في كتاب الجامع أنه قٌال : ربما كان المرسل أقوى من المسند ، وجزم بذلك عيسى ابن أبان من أصحابنا وطائفة من أصحاب مالك ، أن المرسلات أولى من المسندات ، ووجهه أن من أسند فقد أحالك البحث عن أحوال من سماه لك ، ومن أرسل من الأئمة حديثا مع علمه ودينه وثقته فقد قطع لك على صحته ، وكفاك بالنظر . ثم قال : وقالت طائفة من أصحابنا وأصحاب مالك : لسنا نقول إن المرسل أقوى من المسند ولكنهما سواء في وجوب الحجة ، واستدلوا بأن السلف أرسلوا ووصلوا وأسندوا ، فلم يعب واحد منهم على صاحبه شيئا من ذلك . ثم قال : وأما المتقدمون من السلف فلم يردوا شيئا من ذلك كما فعل الإمام مالك في موطئه كذلك ، وذلك لعدم الفرق عندهم بين المرسل والصحيح والحسن ، ويطلقون المرسل على المنقطع وعلى المعضل .

Kemudian beliau berkata: kesimpulannya sesungguhnya hadits Mursal itu adalah Hujjah menurut Jumhurul Ulama’, di antaranya adalah Imam Malik dan dikutip oleh Al-Hafidz Abul farj bin Al-Jauzi dari Imam Ahmad dalam At-Tahqiq, dan Imam Al-Khotib meriwayatkan dalam kitab Al-Jami’ sesungguhnya beliau berkata: Terkadang Hadits Mursal itu lebih kuat daripada Hadits Musnad, dan Isa bin Abban serta sekelompok Ulama’ Malikiyah telah menetapkan dengan hal tersebut, bahwa Hadits Mursal itu lebih utama dari pada Hadits Musnad, adapun arah pernyataan tersebut adalah bahwasanya orang yang memusnadkan Hadits, maka dia telah memindahkan pembahasan tentang sifat-sifat orang yang disebutnya, dan barang siapa yang memursalkan sebuah hadits sedangkan dia berilmu, beragama dan adil, maka dia sungguh telah memastikan keabsahan hadits tersebut, dan cukuplah bagimu sebagai bahan kajian. Kemudian beliau berkata: Sekelompok Ulama’ dari ulama kita (Ashabuna) danAshabu Malik berkata: Kita tidak mengatakan bahwa Hadits Mursal lebih kuat dari pada Hadits Musnad, akan tetapi keduanya sama dalam wajibnya dibuat Hujjah, dan mereka menjadikan dalil bahwa Ulama’ Salaf mengklasifikasikan hadits itu ke dalam Hadits Mursal,Maushul dan Musnad, dan tidak seorangpun dari mereka yang mencela terhadap yang lain tentang hal tersebut, kemudian beliau berkata: “Adapun Ulama’ Salaf tidak menolak sedikitpun tentang pembagian tersebut sebagaimana tindakan Imam Malik dalam kitabMuwatto’, hal itu karena memang tidak ada perbedaan menurut mereka antara HaditsMursal, Shahih dan Hasan, dan mereka memutlakkan Hadits Mursal atas Hadits Munqoti’ danMu’addlol [9].

وكتبه

السيد محمد بن العلوي الما لكي الحسني

خادم العلم الشريف بالبلد الحرام

Di tulis oleh :

Sayyid Muhammad bin Al-Alawi

Al-Maliki Al-Hasani

Guru Besar Tanah Haram

[1] Demikian disebutkan didalam kitab husnul maqshod fi ‘amalil maulid karya Al-Hafidz As-Suyuti

[2] Tanggal 10 Muharram.

[3] Telah kami bahas panjang lebar masalah ini dalam artikel khusus tentang Bid’ah.

[4] Hewan yang disembelih pada hari ketujuh dari kelahiran.

[5] لعل الصواب : عليها

[6] لعله : كذا كما في المفاهيم

[7] Akan dibahas secara khusus di akhir kitab mengenai hadits Mursal.

[8] Kitab Al-Lubab Fil Jam’I bayna As-Sunnah Wa Al-Kitab karya Imam Abi Muhammad Ali bin Zakariya Al-Manbajy.

[9] Lihatlah Syarh An-Niqoyah karya Imam Mulla Ali Qory

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: